“Aku berpikir maka aku ada, jika aku
tidak ada maka siapa yang menjadi saksi dari suatu keberadaan”. Kesempurnaan
manusia telah menjadi suatu takdir yang tak terbantahkan ketika manusia pertama
turun ke bumi. Dikaruniainya manusia dengan sebuah otak, akal, dan pikiran
membuatnya berbeda dengan mahkluk mahkluk ciptaan Tuhan lainnya yang kebanyakan
hanya memiliki naluri dan otak. Adanya kelebihan tersebut, pada akhirnya
mendorong manusia untuk terus menerus berusaha beradaptasi dengan lingkungan
sekitar mereka. Berbeda dengan hewan yang sejak lahir sudah dapat beradaptasi
dengan lingkungan, manusia justru memiliki proses yang lama untuk melakukannya.
Namun, dengan adanya akal budi yang dimilikinya, manusia pada akhirnya
melampaui apa yang dimiliki para hewan dan mahkluk mahkluk ciptaan Tuhan
lainnya. dengan dimilikinya akal budi, juga mendorong manusia dalam memahami
segala misteri yang ada. Misteri misteri tersebut sebenarnya merupakan suatu
hal yang dapat dirasionalkan, akan tetapi ketika perkembangan pemikiran manusia
belum maksimal dengan terpaksa manusia harus mengesampingkan rasional mereka.
Di sisi lain, kondisi lingkungan dan sosial yang terus menerus berubah
berakibat pada semakin bertambahnya tuntutan manusia dalam beradaptasi. Dengan
kata lain, manusia selain menggunakan naluri irasionalnya, mereka juga harus
menjaga akan eksistensi pemikiran rasional mereka. Oleh karena itu lahirlah
suatu hal yang kita sebut sebagai ilmu pengetahuan. Ilmu pengetahuan dapat diibaratkan
seperti lilin yang menerangi kita di kegelapan. Oleh sebab itu, ilmu
pengetahuan kemudian sangat berperan aktif dalam merasionalkan apa yang selama
ini kita anggap sebagai hal yang diluar rasional. Ilmu pengetahuan yang
berkembang pesat telah menjadi ujung tombak dalam meruntuhkan hal hal kita
sebut sebagai mistis, klenik, sihir dsb. di sisi lain sejarah telah mencatat
bahwa ilmu pengetahuan merupakan locomotive dari sebuah peradaban. Kita dapat
melihat bahwa masa masa kejayaan islam spanyol merupakan pembuka dari
perkembangan jaman renaissance yang menjauhkan eropa dari kegelapan serupa. di
samping itu, kita juga melihat restorasi meiji di jepang menjadi lampu hijau
bagi negeri sakura untuk berubah menjadi raksasa ekonomi dunia. Oleh karena itu
peradaban suatu bangsa sangat ditentukan oleh bagaimana ilmu pengetahuan
berkembang. Lantas, bagaimana dengan keadaan negara kita tercinta, Indonesia.
hmmmm, tidak bermaksud untuk membandingkan, akan tetapi penulis akan mencoba
membuka wawasan dan merubah cara bepikir kita agar lebih bijak. Indonesia,
siapa yang tak kenal dengan negara kita ini. seperti perawan sunthing, negara
ini banyak menjadi incaran negara negara konila di masanya. Sebut saja,
inggris, portugis, belanda, spanyol, jepang. Jauh sebelum kita mengenal kata
Indonesia, bangsa lain sudah berebut untuk mendapatkan cinta dari negeri kita
ini. apa alasannya , karena negara kita banyak menyimpan harta karun yang
melimpah ruah. Di sisi lain, bangsa ini juga tidak terlalu minat untuk
memanfaatkan harta karun tersebut. Indonesia bukanlah seperti negara negara
eropa, timur tengah, atau amerika yang sangat maju pengetahuannya, bangsa ini
masih memiliki ‘selaput tebal’ yang belum juga disingkirkan. Ketika bangsa
bangsa lain sudah melakukan perjalanan keliling dunia dan melakukan berbagai
penemuan penemuan besar, Indonesia masih sibuk dengan urusan mistis, klenik,
santet, teluh, keramat dan hal hal yang bersifat irasional. Bahkan saat inipun,
hal hal itu masih saja dipikirkan bahkan menjadi perbincangan banyak kalangan,
mulai dari anak anak, remaja, kaum akademis, bahkan pejabat pejabat kita. tidak
dapat dipungkiri, bahwa negara ini seperti komunitas alam gaib yangmasih
bertahan di tengah gerusan ilmu pengetahuan dan teknologi. Sejarah masa lampau
telah membuktikan bahwa masyarakat negeri ini belum bisa membuka pikiran mereka
terhadap hal hal positif. Sebagai contoh, agama islam yang masuk dan disebarkan
oleh walisongo tidak dapat berkembang luas dan mendominasi seperti sekarang ini
kalau para wali tersebut tidak melegalkan tahlilan, sesajen, dan ritual ritual
jawa lainnya. kebiasaan kebiasaan tersebut pada akhirnya telah menjadi
‘kewajiban’ bagi umat islam khususnya di jawa ketika mereka beribadah.
Masyarakat kita masih terlalu takut untuk mengembangkan pola pikir mereka kea
rah rasional daripada memberanikan diri mereka untuk mendukung kepercayaan
konyol mereka. Sebagai orang jawa,
pemulis sangat paham bagaimana tradisi tradisi yang ada terus menerus dijaga
dan dilestarikan dengan sebuah kesadaran palsu. Mengapa demikian, karena di
samping memeluk agama islam yang jelas jelas sudah mengharamkan ritual ritual
tersebut, masyarakat juga menambahkannya dengan ritual ritual jawa tersebut.
suatu hari pernah bertanya pada orang tua mengapa masih mempertahankan ritual
ritual seperti member sesajen kepada leluhur ketika hari hari tertentu, dan
merayakan kematian dengan melakukan slametan di 7 hari, 40, 100, 1000, hari dan
jawabannya adalah karena mengikuti ajaran ajaran orang oaring terdahulu. Lalu
saya bertanya kembali jika hal itu tidak dilakukan maka apa dampaknya bagi
kita, ya kita menjadi tidak enak dengan tetangga. Pertanyaan sepele tersebut
telah menunjukkan bahwa mereka yang masih mempertahankan ritual tersebut tidak
sepenuhnya sadar mengapa mereka melakukannya. Ada lagi di desa tempat kelahiran
ibu, suasana mistis masih terjaga dengan rapi. Ada beberapa tempat yang
dianggap angker atau keramat seperti pohon, batu dsb. kecenderungan masyarakat
masih mempertahankan hal tersebut karena mereka hanya yakin pada asumsi asumsi
dan opini yang dibentuk oleh generasi sebelum mereka. Disamping
itu, masyarakat juga tidak pernah mempertanyakan kebenaran dari hal tersebut,
alias mencernanya secara mentah mentah. Oleh Karen itu, di masyarakat kita
muncul ungkapan ungkapan islam ktp, abangan dsb karena mereka tidak sepenuhnya
beragama secara benar. Di acara acara hajatan seperti pernikahan, khitanan
masih sering di jumpai beberapa orang yang datang ke paranormal untuk meminta
petunjuk tentang hari baik penyelenggaraan acara tersebut. ada satu pengalaman,
ketika itu saudara saya sedang melangsungkan pernikahan dan ada seorang dukun
yang berjaga jaga terus selama beberapa hari agar acaranya lancar. Namun hal
yang saya temui justru sebaliknya, acara tersebut terkesan sedkit kacau bahkan
ada tamu yang kesurupan waktu itu. dalam hati saya bertanya tanya, lalu apa
peran dari dukun tersebut. apakah dukun tersebut sudah kehilangan gelar
intelektualnya sebagai ‘orang pintar’ atau lebih tepatnya orang yang dianggap
pintar, hehehe. Pengalaman tersebut semakin memperjelas pemahaman saya,
bagaimana mistis itu hanyalah kebodohan kita dalam berdogma tanpa logika.
Masyarakat juga masih menganggap bahwa hantu, demit, dan teman temannya memiliki
pengaruh yang besar dalam kehdupan mereka. Kita dapat melihat bahwa peristiwa
kesurupan yang terjadi di pernikahan saudara saya adalah akibat dari sesajen
yang kurang. Padahal jika dilihat sesajen yang di berikan pada saat pernikahan
tersebut sangat banyak dan beraeka ragam jenisnya. Mistis,
sebagai identitas tak resmi masyarakat Indonesia sebenarnya merupakan intrik
dan strategi politik untuk melindungi beberapa kepentingan. Kita dapat melihat
bahwa di Bali beberapa tempat seperti hutan, pohon, sangat dikeramatkan oleh
masyarakat setempat. Padahal itu ada sebuah cara ampuh masyarakat untuk tetap
melestarikan eksosistem di tempat tersebut. sebagai masyarakat yang tinggal di
jawa tentu kita tidak lupa akan ketenaran Nyi Roro Kidul sebagai ikon klenik
yang melegenda. Sosok gaib yang konon menjaga laut selatan pulau jawa tersebut sampa
saat ini tidak jelas wujud dan asal muasalnya.
Yang ada hanyalah desas desus seputar relasi antara raja raja di
Jogyakarta dan Surakarta dengan Ratu Kidul tersebut. di smaping itu ada hotel
di pelabuhan ratu yang mengkhusunya sebuah kamar sebagai tempat bernaung Ratu
Kidul tersebut. yang menjadi kejanggalan adalah ketika tidak ada satupun orang
sampai saat ini yang dapat membuktikan eksistensi dari Nyi Roro Kidul tersebut
secara rasional maupun empiris. Laut selatan sebagai habitat Nyi Roro Kidul dan
pasukannya di nilai sebagai lautan angker, mistis, dan banyak menelan korban
jiwa. Memang benar, faktanya laut selatan
memiliki ombak ganas yang langsung
menuju ke samudra. Akan tetapi jika hal tersebut menjadi alasan mengapa laut
selatan sangat angker sungguh tidak relevan. Banyaknya korban jiwa lebih
disebabkan oleh adanya kondisi pantai yang berpalung dan memiliki ombak. Oleh
karena itu, ketika orang yang berjalan di tepi pantai dan mengarah ke laut
lepas, maka bisa bisa langsung masuk ke palung ada tersebut. ada lagi mitos
yangmengatakan bahwa ketika berada di pantai dilarang untuk memakai atribut
berwarna hijau, karena diyakini akan menyaingi eksistensi dari Ratu Kidul itu
sendiri. haha lucu memang, lucunya lagi ketika teman saya yang pernah ke pantai
parangtritis mengkalim bahwa uangnya yang hilang karena ulah dari Raru Kidul
itu sendiri. jika di nalar dengan akal sehat sebenarnya dapat kita buktikan.
Orang orang yang hilang di laut dengan mengenakan warna hijau tentu ketika
mereka terseret arus warna tubuh mereka akan erbaur dnegan warna laut dan alga
yang dominan hijau gelap, otomatis hal tersebut menimbulkan asumsi bahwa mereka
telah menjadi korban persembahan Ratu Kidul. Pembodohan
pembodohan yangmengatas namakan mitos memang sulit berangus, bahkan sangat di
perhatikan kelestariannya. Ini terbutki dari adanya acara acara larung sesaji,
yang sesungguhnya sangat tidak bermanfaat bahkan menghambur hamburkan makanan.
Ada lagi yang janggal ketika melihat sesajen yang dihindangkan selalu
menggunakan minuman yang tanpa ada tambahan gula ataupun pemanis. Mengapa
demikian, karena minuman seperti kopi tanpa gula akan lebih cepat menguap
dibandingkan dengan kopi yang sudah di beri gula. Lantas, jika tradisi tradisi
tersebut tetap di biarkan apa dampaknya bagi masyarakat kita. banyak, apakah
negara seperti amerika, jerman, perancis, belanda bahkan rusia masih
mempertahankan hal hal klenik seperti yang ada di Indonesia, tidak. Malah
sebaliknya, mereka berusaha merasionalkan apa yang menurutnya sebagai mistis,
gaib dsb. pernnyataan saya tersebut secara tidak langsung memberikan penjelasan
bahwa klenik, mistis sangat menghambat bagi kemajuan bangsa ini. pola pikir
bangsa ini tidak dituntun ek arah yang maju dan beradab tapi malah semakin
mundur dan hancur. Masyarakat
tidak terbiasa berpikir jernih dan sehat, namun sebaliknya segala sesuatunya
selalu dan selalu dihubungkan dengan hal hal berbau klenik. Di negar negara
maju seperti amerika dan negara negara eropa menjadikan mistis sebagai lahan
bisnis, sebagai contoh kita dapat melihat keberhasilan film Harry Potter dan
Narnia yang menyebar dan digemari
seluruh kalangan. Yang menjadi permasalahan di negeri ini adalah masyarakat
yang tetap mempertahankan tradisi tersebut mengklaim bahwa mereka takut
kehilangan eksistensi mereka. Padahal, jika kita melihat perilaku dan kebiasaan
tersebut tidak lagi relevan jika diterapkan pada fase modern seperti ini. di
samping itu agama Islam telah memberikan kita banyak sekali manfaat dan
tentunya menegaskan kepada kita bahwa kekuatan terbesar hanya ada pada Tuhan
yaitu Allah SWT, bukan demit, siluman, Nyi R oro Kidul dsb. agama islam telah
memberikan kita pencerahan dalam merasionalkan apa yang kita anggap sebagai
mistis. Buktinya banyak sekali ilmuwan ilmuwan muslim yang penemuannya masih di
pakai saat ini seperti aljabar. Di samping itu, pada saat ini banyak sekali
penemuan penemuan yang mencoba memahami agama secara rasional, dan terbukti apa
yang di sampaikan oleh Islam dapat dibuktikan secara akal sehat. Apa
yang menimpa negeri ini sesungguhnya bukan persoalan bagaimana membuat kita
menjadi modern dan beradab, tetapi bagaimana kita memiliki niat untuk
memulainya dari hal hal kecil yang ada di sekitar kita. budaya memang menjadi
identitas tetap bagi Indonesia khusunya masyarakat jawa, akan tetapi akan lebih
bijak jika kita melihat secara mendalam masih perlukan kita mempertahankannya
dan meyakininya. Masihkah kita mencampur adukkan agama islam dengan tradisi
leluhur kita. itu kembali kepada pemahaman kita lagi, yang jelas tulisan ini
mencoba memberikan gambaran dan pencerahan kepada anda yang saat ini masih
bertanya tanya pada hal hal seputar klenik tersebut.
Tampilkan postingan dengan label Sosial dan Politik. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sosial dan Politik. Tampilkan semua postingan
Kamis, 27 November 2014
Selasa, 25 November 2014
Ini Semua Hanyalah Fashion
Era modernisasi
berkembang pesat bersamaan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.
Perkembangan iptek di satu sisi berdampak positif bagi percepatan mobilisasi
manusia, di sisi lain juga menimbulkan dampak negative bagi manusia itu
sendiri. modernisasi yang tidak lagi dapat terbendung mengakibatkan bergesernya
nilai nilai moral dan masyarakat baik itu masyarakat negara maju maupun
masyarakat yang hidup di negara negara berkembang seperti indonesia ini.
Indonesia sebagai negara kepulauan terbesar
tidak lepas dari perkembangan peradaban modern itu sendiri. sebagai negara
berkembang, modernisasi di Indonesia telah di jalankan sedemikian rupa dan
disesuaikan dengan keadaan pada negara negara asalnya seperti Amerika, dan
negara negara Eropa. Perkembangan arus modernisasi juga menghasilkan suatu
syndrome yang kita kenal dengan istilah globalisasi. Ya, mungkin antara
modernisasi dan globalisasi memiliki pemaknaan yang hampir serupa sama, tapi
tidak sesederhana itu.
modernisasi dapat kita maknai secara umum
sebagai keadaan di mana terjadi transformasi besar besaran terhadap
perkembangan peradaban manusia yang ditandai dengan adanya pemanfaatkan
teknologi dan ilmu pengetahuan secara besar besaran sehingga berdampak langsung
pada kehidupan manusia. sedangkan globalisasi adalah suatu kondisi yang
diciptakan oleh modernisasi itu sendiri, yaitu keadaan di mana terjadi
penyeragaman terhadap cara berpikir masyarakat sehingga seolah olah satu dunia
hanya memiliki satu sistem komando.
Indonesia sendiri walaupun masih tergolong
negara berkembang, arus meodernisasi dan globalisasi sungguh terasa di sini.
Buktinya banyak sekali masyarakat kita yang sudah melek akan teknologi bahkan
tergolong pecandu teknologi. Akan tetapi perkembangan teknologi dan globalisasi
yang tidak disertai dengan mental yang mapan hanya akan menghasilkan output
yang buruk pula.
Cara berpikir masyarakat di era globalisasi
ini sangat menunjung tinggi hal hal yang bersifat baik. Baik di sini adalah
baik bukan dari segi substansi akan tetapi baik dari segi citra. Globalisasi
sebagai suatu tatanan baru memberikan pemahaman pemahaman dangkal kepada
masyarakat tentang apa yang kita nilai sebagai baik buruk, benar salah.
Hasilnya masyarakat ketika menilai sesuatu, mereka hanya melihat sisi luarnya
saja. Ditulisan kali ini, saya akan membahas bagaimana globalisasi berdampak
pada perubahan pola pikir masyarakat yang hanya melihat sisi luarnya saja yang
terangkum dalam sebuah lirik lagu koil yang berjudul “Ini Semua Hanyalah
Fashion.
Hmmmm langsung saja
kita menuju ke bait pertama lagu ini
“…terpukau menatap wajah jelita menggoda
terkesima mendengar pidato sang pahlawan
mencari kebenaran dalam dua pilihan
untuk dianggap benar dan diakui….”
terkesima mendengar pidato sang pahlawan
mencari kebenaran dalam dua pilihan
untuk dianggap benar dan diakui….”
bait
pertama lagu ini menunjukkan bahwa masyarakat kita telah di suguhkan sebuah
kondisi atau simulasi yang mereka tidak lagi dapat bedakan apakah ini kenyataan
atau hanya imajinasi mereka saja. Gglobalisasi yang syarat akan ambisi untuk
mendapatkan sesuatu yang ideal, baik malah melahirkan suatu konstruksi yang
menyesatkan bagi masyarkat itu sendiri. baik dan buruk tidak lagi dimaknai
bagaimana hal tersebut didapatkan akan tetapi lebih kea rah bagaimana baik dan
buruk itu di tampilkan. Kita dapat melihat bahwa sekarang ini banyak sekali
iklan iklan baik itu kosmetik, make up,gadget atau hal lain yang mencoba
mendoktrin kita bagaimana sesungguhnya kondisi ideal tersebut. pada kahirnya
masyarakat kemudian akan berlomba lomba menjadi apa yang sudah di berikan oleh
iklan-iklan tersebut agar serupa dengan konstruksi media tersebut. begitu juga
dengan kondisi politik negeri ini.
masyarakat
yang memimpikan seorang pemimpin yang merakyat, jujur dan sederhana hanya
bermambisi untuk menampilkan sosok tersbut, bukan malah mendapatkannya. Tak
heran, ketika tuntutan masyarkat begitu tinggi akan sosok figure pemimpin yang
sedemikian rupa, hal tersebut malah dimanfaatkan oleh sebuah partai untuk
mewujudkan seorang ‘Nabi’ yang sangat didambakan rakyat indonesia. mungkin
tidak perlu saya jelaskan siapa partai dan tokoh yang saya maksud dan tentu
anda sudah mengetahuinya. Mencari pemimpin atau bahkan menjadi pemimpin bukan
suatu perkara mudah seperti halnya ketika kita ingin menjadi seorang artis atau
model. pemimpin yang memiliki kualitas dan kapasitas mumpuni tentu tidak dapat
kita lihat secara sekilas bahkan melihat sisi luarnya saja.
Hal
tersebut berbeda dengan keadaan masyarakat kita. sesorang yang sebenarnya
memiliki track record biasa biasa saja telah melejit menjadi ‘Nabi’ yang punya
banya umat. Praktis hal tersebut menuai perdebatan sengit di masyarakat. di
satu sisi ada masyarakat yang kritis menolak pencaloan tokoh tersebut menjadi
pemimpin dan di satu sisi lainnya sangat mengagung agungkan tokoh tersebut.
“…kita bergaya bagai patriot
peduli politik kenyataannya
kita mencari idola dalam majalah
fashion!!
fashion!!..”
peduli politik kenyataannya
kita mencari idola dalam majalah
fashion!!
fashion!!..”
Di bait selanjutnya telah jelas di katakan
bahwa masyarakat kita mulai bergaya bagai patriot yang menganggap asumsi mereka
benar dan masyarakat lainnya harus mengakuinya padahal yang kita perdebatkan
sesungguhnya adalah suatu kebodohan yang membuat kita semakin terfragmentasi
menjadi bagian bagian kecil yang justru memecah beah intergrasi masyarakat.
era demokrasi di mana masyarakat masih
premature akan definisinya membuat mereka kemudian ber’masturbasi’ seolah olah
mereka sudah paham bagaimana menjadi seorang warga negara yang benar. Perilaku
masyarakat yang sebenarnya belum melek politik tapi dipaksakan paham politik
malah menghasilkan generasi generasi idiot sok paham politik. Merekapun tidak
lagi dapat membedakan mana pemimpin, mana artis idola. Era demokrasi
sesungguhnya tidak sekedar memilih pemimpin dengan melalui perdebatan
perdebatan, bahkan sejatinya demokrasi sangat mengurangi akan perdebatan
tersebut karena hanya akan membuat suatu kebenaran tersbut menjadi bias dan
kabur.
“….terpaku di depan layar televisi
melihat gambar mencari suatu arti
terjebak dalam penjara tanpa terali
menghirup kebebasan yang semu ini…”
melihat gambar mencari suatu arti
terjebak dalam penjara tanpa terali
menghirup kebebasan yang semu ini…”
ketika
masyarakat berada dalam kondisi “kesadaran palsu” maka mereka akan lebih mudah
terombang ambing dan mudah untuk terpovokasi seperti layaknya domba domba yang
sedang di gembala. Globalisasi yang syarat akan supremasi media mebuat opini
masyarakat mudah dibentuk. Media sekali lagi memegang peran penting dalam
proses pencalonan pemimpin diera modernisasi sekarang ini. para pemimpin yang
memiliki kualitas biasa biasa saja, praktis memiliki segudang pretasi fiktif
yang tentunya di bentuk oleh media media nakal tersebut. tak hanya itu, era
globalisasi menuntun kita pada suatu perang kompleks yang disebut sebagai
perang pemikiran.
Artinya, kita hidup bukan untuk mencari
kebenaran hakiki akan tetapi lebih kea rah bagaiama kita dapat membenarkan
argument kita. oleh karena itu, selain menggunakan politik pencitraan para politisi
dan calon ‘Nabi tersebut juga senang meneriakkan argument argument menyesatkan
terkait rival politiknya. Akibatnya masyarakat menjadi bingung mana yang akan
dipercaya. Secara tidak langsung setiap hari kita yang akrab dengan media, baik
itu media eletronik seperti telivisi, media cetak dan media sosial seperti
facebook, twitter, dll telah menjadikan media media tersebut sebagai ‘mata dan
telinga’ kita. media di era globalisasi selain menjadi sarana untuk mendapatkan
dan menyalurkan informasi juga ampuh dalam mendoktrin masyarakat baik secara
sadar ataupun tidak.
Mungkin
dari kalian kalian ada yang sudah sadar jika pola pikir kita selama ini yang
menentukan bagaimana memahami sesuatu, bertindak, berbicara bahkan berpikir
telah diatur dan dikonstruksi oleh media media massa yang setiap hari menjejali
otak kita. globalisasi adalah sistem yang mendorongk kita menjadi pribadi
pribadi yang memiliki pola pikir sama dan seragam. Artinya apa ketika kita
menjumpai sesuatu yang berbeda maka hal tersebut dianggap sebagai patologi akut.
Globalisasi
adalah sistem di mana kita di konstruksi dan di doktrin agar menjadi sebagai
robot yang selalu menurut kepada sistem penguasa. kebebasan yang ada saat ini
adalah kebebasan semu, yang sebenarnya sangat jauh dari hakikat kebebasan itu
sendiri. sistem demokrasi yang disertai dengan saudaranya kapitalisme merupakan
suatu dogma yang wajib kita ikuti di era sekarang ini. masyarakat yang kurang paham
akan hal hal trsebut termasuk juga konsekuensinya terpaksa harus mengikuti
ajaran ajaran tersebut baik suka ataupun tidak. Demokrasi dan kapitalisme yang
konon katanya syarat akan kebebasan sebenarnya adalah sebuah paradok yang
menjebak kita secara perlahan. Kebebasan yang kita rasakan saat ini hanya
memberikan sedikit pilihan yaitu pilihan untuk ‘dianggap atau ‘disngkirkan’.
Senin, 24 November 2014
Dunia Fantasi Perspektif KOIL
Halo
mas bro,….halo mbak bro…hmmmmm di postingan kali ini aku akan membahas lirik
lagunya koil nih yang judulnya kenyataan dalam dunia fantasi.
Mungkin
banyak dari kita yang belum kenal siapa sih koil,
Koil
adalah salah satu band bergenre industrial rock/metal yang berasal dari kota Bandung. Menurutku, koil
khusunya otong adalah orang yang paling realisitis yang pernah ada di negeri
ini. lagu lagu koil kebanyakan berisi tentang hujatan, sindiran, bahkan makian
yang ditujukan kepada mereka mereka yang di nilai koil sebagai sebuah
kemunafikan, dan kebusukan seperti halnya lirik lagu yang akan saya bahas ini.
Mendengar
judulnya saja mungkin banyak dari kita yang masih bingung dan ambigu jika
menafsirkan apa yang dimaskud koil dengan “kenyataan dalam dunia fantasi”.
Hmmm… mungkin yang saya tangkap dari makna judul tersebut adalah apa yang
sebenarnya kita alami saat ini. di era modernisasi seperti sekarang ini kita
hidup bukan atas dasar apa yang kita mau, melainkan kita hidup atas dasar
control dari beberapa pihak yang mengklaim dirinya sebagai penguasa. kenyataan
dalam dunia fantasi juga mengisyaratkan tentang bagaimana hidup kita ini telang
bergeser kea rah yang menyimpang. Kita hidup bukan atas dasar realita,
melainkan kita hidup di atas imajinasi dan simulasi yang dibuat orang lain.
Lantas, apa yang kemudian timbul dari hal hal seperti itu. ya, tidak lain hidup
kita akan semakin terkontrol dari hari ke hari, kita hidup di mana antara
realita dan fantasi membaur menjadi satu dan sulit untuk membedakannya. Seperti
halnya dalam lirik lagu ini.
kehidupan
yang harus sejalan dengan sebuah ideology bahkan rejim, mebuat kita semakin
berada di dalam tekanan yang berakibat pada hancurnya daya kritis kita terhadap
negara ini. nasionalisme sebagai interpretasi dari identitas suatu bangsa
terkadang hanya di maknai secara dangkal oleh kebanyakan orang. Nasionalisme
sebagai dasar bagaimana kita memaknai hidup kita dalam suatu bangsa atau negara
telah di salah artikan sebagai fanatisme sempit berkedok primodialisme. Kita dapat
melihat bangsa yang mengklaim dirinya sebagai bangsa besar, kini semakin bias
dalam mempertahankan nasionalismenya. Di sini wujud nasionalisme sempit
tersebut tergambar dalam bait pertama lagu ini yang mengatakan:
Di negara ini kita hidup dan bekerja
Di negara ini kita makan dan berbahagia
Di tanah yang indah indah ini bersemilah cintamu yang abadi
Di negara yang busuk ini kita tersenyum pergi
Di negara ini kita makan dan berbahagia
Di tanah yang indah indah ini bersemilah cintamu yang abadi
Di negara yang busuk ini kita tersenyum pergi
dalam bait ini
menjelaskan bagaimana sesungguhnya nasionalisme itu berjalan, bagaimana
nasionalisme itu dimaknai dangkal oleh bangsa ini. negeri yang sudah terlalu
lama djajah membuat mental bangsa ini memburuk dan kian memburuk. Segala
sesuatunya di maknai secara dangkal dan hanya melihat sisi untung ruginya saja
(pragmatis). Kita dapat melihat, ketika setiap hari senin anak anak dengan
polosnya menyanyikan lagu lagu kebangsaan dengan di iringi sikap khidmat ala
patriot. Mereka tak lupa hormat kepada merah putih yang di klaim sebagai
pembangkit semangat nasionalisme. Mungkin sebagian dari kita beranggapan bahwa
dengan adanya upacara upacara tersebut nasionalisme anak akan tumbuh dan
menjadi kebanggan negara di masa mendatang. Tapi, apakah memang begitu.
Kenyataannya, tidak ada satupun dari mereka yang dengan sadarnya paham akan
makna mereka mengikuti upacara tersebut. formalitas pendidikan, merupakan dogma
yang setiap harinya mereka telan mentah mentah. Mereka di jejali dengan wawasan
kepahlawanan, kenegaraan yang membuat mereka berangan angan bahwa negeri ini
sudah sedemikian merdeka dan bebas dari penajajahan. Padahal, setiap harinya
bangsa ini di jejali dengan berita berita kebohongan, manipulasi sejarah yang
secara tidak sadar kita mengimaninya. Di sisi lain sumber daya kita semakin
menipis, tetapi pemerintah berupaya untuk ‘membalikkan keadaan’. Korporasi
korporasi luar semakin rama berdatangan, mengeksplorasi sumber daya alam kita.
pemerintah yang di satu sisi terus menjejali rakyatnya dengan nasionalisme
tolol, di sisi lain mereka dengan ‘welcome’ membebaskan asing untuk mengeruk,
menjarah semua yang ada dengan embel embel kemajuan.
Melihat realita
tersebut kita sebenarnya telah lama di nina bobokan oleh celoteh celoteh sampah
ala pemerintah. Pikiran kita dikontruksikan sedemikian rupa agar memiliki
anggapan bahwa negara ini sudah merdeka dan bebas dari belenggu apapun. Padahal
realitanya sangat bertolak belakang dengan itu semua. Pertanyaannya adalah
nasionalisme apa yang sebenarnya kita banggakan dari negeri ini, nasionalisme
macam apa yang membuat kita menjadi semakin bodoh, lemah dan tak
berpenghasilan.
Pemerintah negeri
ini juga masih buta, dan terlena oleh romantika romantika sejarah yang di buat
oleh pembohong. Penguasa berkoar koar nasionalisme, patriotism tapi
implementasinya nol. Pemerintah kitacenderung oportunis, khas bangsa feudal.
Nasionalisme hanya di maknai bagaimana kita menjalani upacara bendera dengan
khidmat, dan bukan menanyakan apa substansi di balik tindakan tersebut.
“Kita membicarakan kenyataan dalam
dunia yang tak ku mengerti
Kita membicarakan kepasrahan dalam spektrum yang hitam dan putih
Kita merasa benar benar pintar memasyarakatkan kebodohan ini
Kita membicarakan kenyataan dalam dunia fantasi”……………..
Kita membicarakan kepasrahan dalam spektrum yang hitam dan putih
Kita merasa benar benar pintar memasyarakatkan kebodohan ini
Kita membicarakan kenyataan dalam dunia fantasi”……………..
di bait selanjutnya kita disuguhi kalimat kalimat yang membuat kita terpana dan mungkin tak percaya, apa yang sudah lam kita lakukan pada bangsa dan negara ini. kita hidup dalam fantasi kita, di lain sisi realita yang seharunsya kita cerna, sedikit demi sedikit kita tinggalkan dan malah meragukannya. Kita hidup di dalam anggan anggan bodoh yang di buat oleh para penguasa dan pahlawan kita. bangsa ini setiap kali harus di jejali dengan keinginan para penguasanya agar selalu mencintai tanah air mereka, akan tetapi hal itu berkebalikan dengan para penguasa yang secara tak sungkan menjual negeri ini demi perut kenyang.
Tragis memang,
melihat kondisi yang seperti itu. ada juga para mahasiswa yang senag sekali
berdemo menuntut sumber daya ngeri ini di jaga, menuntut agar penguasa
mengurangi hobinya dalam berkorupsi. Padahal tak beda jauh, mereka (para
mahasiswa) juga gemar sex bebas, hedonisme, hura hura. Apakah itu yang kita
sebut kaum nasionalis,
Ku tak butuh pengertianmu
Aku bukan bagian dari sejarah yang kau tulis
kau bingkiskan untuk anak dan cucumu
Aku tak butuh penjelasanmu
Aku bukan bagian dari kebanggaan
Yang membuat kita tak berpenghasilan
Nasionalisme, adalah tempat tinggal yang kita bela
Nasionalisme, untuk negara ini adalah pertanyaan
Nasionalisme, untuk negara ini dan kehancuran
Nasionalisme menuntun bangsa kami menuju kehancuran
Aku bukan bagian dari sejarah yang kau tulis
kau bingkiskan untuk anak dan cucumu
Aku tak butuh penjelasanmu
Aku bukan bagian dari kebanggaan
Yang membuat kita tak berpenghasilan
Nasionalisme, adalah tempat tinggal yang kita bela
Nasionalisme, untuk negara ini adalah pertanyaan
Nasionalisme, untuk negara ini dan kehancuran
Nasionalisme menuntun bangsa kami menuju kehancuran
Mungkin jika kita
mau sadar, kita tidak pernah mau menjadi seorang nasionalis. Nasionalisme
membuat kita seperti katak dalam tepurung. Mengaggap diri kita sudah benar,
padahal semakin menjurus pada kehancuran. Sebagai bangsa yang baik, rakyat
indonesia sebenarnya tidak butuh anggan anggan tinggi dari pemerintah. Yang
mereka butuhkan adalah bagaiamana pemerintah memeberikan kepercayaan pada
rakyat dalam mengelola dan menjalani kehidupan sebagai bangsa Indonesia. rakyat
juga tidak butuh anggapan bahwa mereka adalah warga negara yang baik, tapi kenyataanya
mereka terus menerus di tekan dan di bodohi secara cultural dan structural.
Langganan:
Postingan (Atom)