Blogger templates

Pages

Labels

  • Sosial dan Politik
Tampilkan postingan dengan label Sosial dan Politik. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sosial dan Politik. Tampilkan semua postingan

Kamis, 27 November 2014

Merasionalkan Klenik




“Aku berpikir maka aku ada, jika aku tidak ada maka siapa yang menjadi saksi dari suatu keberadaan”. Kesempurnaan manusia telah menjadi suatu takdir yang tak terbantahkan ketika manusia pertama turun ke bumi. Dikaruniainya manusia dengan sebuah otak, akal, dan pikiran membuatnya berbeda dengan mahkluk mahkluk ciptaan Tuhan lainnya yang kebanyakan hanya memiliki naluri dan otak. Adanya kelebihan tersebut, pada akhirnya mendorong manusia untuk terus menerus berusaha beradaptasi dengan lingkungan sekitar mereka. Berbeda dengan hewan yang sejak lahir sudah dapat beradaptasi dengan lingkungan, manusia justru memiliki proses yang lama untuk melakukannya. Namun, dengan adanya akal budi yang dimilikinya, manusia pada akhirnya melampaui apa yang dimiliki para hewan dan mahkluk mahkluk ciptaan Tuhan lainnya. dengan dimilikinya akal budi, juga mendorong manusia dalam memahami segala misteri yang ada. Misteri misteri tersebut sebenarnya merupakan suatu hal yang dapat dirasionalkan, akan tetapi ketika perkembangan pemikiran manusia belum maksimal dengan terpaksa manusia harus mengesampingkan rasional mereka. Di sisi lain, kondisi lingkungan dan sosial yang terus menerus berubah berakibat pada semakin bertambahnya tuntutan manusia dalam beradaptasi. Dengan kata lain, manusia selain menggunakan naluri irasionalnya, mereka juga harus menjaga akan eksistensi pemikiran rasional mereka. Oleh karena itu lahirlah suatu hal yang kita sebut sebagai ilmu pengetahuan.                                                                                                                                                                                                                                                                                Ilmu pengetahuan dapat diibaratkan seperti lilin yang menerangi kita di kegelapan. Oleh sebab itu, ilmu pengetahuan kemudian sangat berperan aktif dalam merasionalkan apa yang selama ini kita anggap sebagai hal yang diluar rasional. Ilmu pengetahuan yang berkembang pesat telah menjadi ujung tombak dalam meruntuhkan hal hal kita sebut sebagai mistis, klenik, sihir dsb. di sisi lain sejarah telah mencatat bahwa ilmu pengetahuan merupakan locomotive dari sebuah peradaban. Kita dapat melihat bahwa masa masa kejayaan islam spanyol merupakan pembuka dari perkembangan jaman renaissance yang menjauhkan eropa dari kegelapan serupa. di samping itu, kita juga melihat restorasi meiji di jepang menjadi lampu hijau bagi negeri sakura untuk berubah menjadi raksasa ekonomi dunia. Oleh karena itu peradaban suatu bangsa sangat ditentukan oleh bagaimana ilmu pengetahuan berkembang. Lantas, bagaimana dengan keadaan negara kita tercinta, Indonesia. hmmmm, tidak bermaksud untuk membandingkan, akan tetapi penulis akan mencoba membuka wawasan dan merubah cara bepikir kita agar lebih bijak.                                                                                                                                                               Indonesia, siapa yang tak kenal dengan negara kita ini. seperti perawan sunthing, negara ini banyak menjadi incaran negara negara konila di masanya. Sebut saja, inggris, portugis, belanda, spanyol, jepang. Jauh sebelum kita mengenal kata Indonesia, bangsa lain sudah berebut untuk mendapatkan cinta dari negeri kita ini. apa alasannya , karena negara kita banyak menyimpan harta karun yang melimpah ruah. Di sisi lain, bangsa ini juga tidak terlalu minat untuk memanfaatkan harta karun tersebut. Indonesia bukanlah seperti negara negara eropa, timur tengah, atau amerika yang sangat maju pengetahuannya, bangsa ini masih memiliki ‘selaput tebal’ yang belum juga disingkirkan. Ketika bangsa bangsa lain sudah melakukan perjalanan keliling dunia dan melakukan berbagai penemuan penemuan besar, Indonesia masih sibuk dengan urusan mistis, klenik, santet, teluh, keramat dan hal hal yang bersifat irasional. Bahkan saat inipun, hal hal itu masih saja dipikirkan bahkan menjadi perbincangan banyak kalangan, mulai dari anak anak, remaja, kaum akademis, bahkan pejabat pejabat kita. tidak dapat dipungkiri, bahwa negara ini seperti komunitas alam gaib yangmasih bertahan di tengah gerusan ilmu pengetahuan dan teknologi. Sejarah masa lampau telah membuktikan bahwa masyarakat negeri ini belum bisa membuka pikiran mereka terhadap hal hal positif. Sebagai contoh, agama islam yang masuk dan disebarkan oleh walisongo tidak dapat berkembang luas dan mendominasi seperti sekarang ini kalau para wali tersebut tidak melegalkan tahlilan, sesajen, dan ritual ritual jawa lainnya. kebiasaan kebiasaan tersebut pada akhirnya telah menjadi ‘kewajiban’ bagi umat islam khususnya di jawa ketika mereka beribadah. Masyarakat kita masih terlalu takut untuk mengembangkan pola pikir mereka kea rah rasional daripada memberanikan diri mereka untuk mendukung kepercayaan konyol mereka.                                                                                                                                                                                                                                                          Sebagai orang jawa, pemulis sangat paham bagaimana tradisi tradisi yang ada terus menerus dijaga dan dilestarikan dengan sebuah kesadaran palsu. Mengapa demikian, karena di samping memeluk agama islam yang jelas jelas sudah mengharamkan ritual ritual tersebut, masyarakat juga menambahkannya dengan ritual ritual jawa tersebut. suatu hari pernah bertanya pada orang tua mengapa masih mempertahankan ritual ritual seperti member sesajen kepada leluhur ketika hari hari tertentu, dan merayakan kematian dengan melakukan slametan di 7 hari, 40, 100, 1000, hari dan jawabannya adalah karena mengikuti ajaran ajaran orang oaring terdahulu. Lalu saya bertanya kembali jika hal itu tidak dilakukan maka apa dampaknya bagi kita, ya kita menjadi tidak enak dengan tetangga. Pertanyaan sepele tersebut telah menunjukkan bahwa mereka yang masih mempertahankan ritual tersebut tidak sepenuhnya sadar mengapa mereka melakukannya. Ada lagi di desa tempat kelahiran ibu, suasana mistis masih terjaga dengan rapi. Ada beberapa tempat yang dianggap angker atau keramat seperti pohon, batu dsb. kecenderungan masyarakat masih mempertahankan hal tersebut karena mereka hanya yakin pada asumsi asumsi dan opini yang dibentuk oleh generasi sebelum mereka.                                                                                                                                                                                                   Disamping itu, masyarakat juga tidak pernah mempertanyakan kebenaran dari hal tersebut, alias mencernanya secara mentah mentah. Oleh Karen itu, di masyarakat kita muncul ungkapan ungkapan islam ktp, abangan dsb karena mereka tidak sepenuhnya beragama secara benar. Di acara acara hajatan seperti pernikahan, khitanan masih sering di jumpai beberapa orang yang datang ke paranormal untuk meminta petunjuk tentang hari baik penyelenggaraan acara tersebut. ada satu pengalaman, ketika itu saudara saya sedang melangsungkan pernikahan dan ada seorang dukun yang berjaga jaga terus selama beberapa hari agar acaranya lancar. Namun hal yang saya temui justru sebaliknya, acara tersebut terkesan sedkit kacau bahkan ada tamu yang kesurupan waktu itu. dalam hati saya bertanya tanya, lalu apa peran dari dukun tersebut. apakah dukun tersebut sudah kehilangan gelar intelektualnya sebagai ‘orang pintar’ atau lebih tepatnya orang yang dianggap pintar, hehehe. Pengalaman tersebut semakin memperjelas pemahaman saya, bagaimana mistis itu hanyalah kebodohan kita dalam berdogma tanpa logika. Masyarakat juga masih menganggap bahwa hantu, demit, dan teman temannya memiliki pengaruh yang besar dalam kehdupan mereka. Kita dapat melihat bahwa peristiwa kesurupan yang terjadi di pernikahan saudara saya adalah akibat dari sesajen yang kurang. Padahal jika dilihat sesajen yang di berikan pada saat pernikahan tersebut sangat banyak dan beraeka ragam jenisnya.                                                                                                                                                                                                                                                                                                             Mistis, sebagai identitas tak resmi masyarakat Indonesia sebenarnya merupakan intrik dan strategi politik untuk melindungi beberapa kepentingan. Kita dapat melihat bahwa di Bali beberapa tempat seperti hutan, pohon, sangat dikeramatkan oleh masyarakat setempat. Padahal itu ada sebuah cara ampuh masyarakat untuk tetap melestarikan eksosistem di tempat tersebut. sebagai masyarakat yang tinggal di jawa tentu kita tidak lupa akan ketenaran Nyi Roro Kidul sebagai ikon klenik yang melegenda. Sosok gaib yang konon menjaga laut selatan pulau jawa tersebut sampa saat ini tidak jelas wujud dan asal muasalnya.  Yang ada hanyalah desas desus seputar relasi antara raja raja di Jogyakarta dan Surakarta dengan Ratu Kidul tersebut. di smaping itu ada hotel di pelabuhan ratu yang mengkhusunya sebuah kamar sebagai tempat bernaung Ratu Kidul tersebut. yang menjadi kejanggalan adalah ketika tidak ada satupun orang sampai saat ini yang dapat membuktikan eksistensi dari Nyi Roro Kidul tersebut secara rasional maupun empiris. Laut selatan sebagai habitat Nyi Roro Kidul dan pasukannya di nilai sebagai lautan angker, mistis, dan banyak menelan korban jiwa.                                                                                                                                                                                                                                        Memang benar, faktanya laut selatan memiliki ombak  ganas yang langsung menuju ke samudra. Akan tetapi jika hal tersebut menjadi alasan mengapa laut selatan sangat angker sungguh tidak relevan. Banyaknya korban jiwa lebih disebabkan oleh adanya kondisi pantai yang berpalung dan memiliki ombak. Oleh karena itu, ketika orang yang berjalan di tepi pantai dan mengarah ke laut lepas, maka bisa bisa langsung masuk ke palung ada tersebut. ada lagi mitos yangmengatakan bahwa ketika berada di pantai dilarang untuk memakai atribut berwarna hijau, karena diyakini akan menyaingi eksistensi dari Ratu Kidul itu sendiri. haha lucu memang, lucunya lagi ketika teman saya yang pernah ke pantai parangtritis mengkalim bahwa uangnya yang hilang karena ulah dari Raru Kidul itu sendiri. jika di nalar dengan akal sehat sebenarnya dapat kita buktikan. Orang orang yang hilang di laut dengan mengenakan warna hijau tentu ketika mereka terseret arus warna tubuh mereka akan erbaur dnegan warna laut dan alga yang dominan hijau gelap, otomatis hal tersebut menimbulkan asumsi bahwa mereka telah menjadi korban persembahan Ratu Kidul.                                                                                                                                                                                                                                                                 Pembodohan pembodohan yangmengatas namakan mitos memang sulit berangus, bahkan sangat di perhatikan kelestariannya. Ini terbutki dari adanya acara acara larung sesaji, yang sesungguhnya sangat tidak bermanfaat bahkan menghambur hamburkan makanan. Ada lagi yang janggal ketika melihat sesajen yang dihindangkan selalu menggunakan minuman yang tanpa ada tambahan gula ataupun pemanis. Mengapa demikian, karena minuman seperti kopi tanpa gula akan lebih cepat menguap dibandingkan dengan kopi yang sudah di beri gula. Lantas, jika tradisi tradisi tersebut tetap di biarkan apa dampaknya bagi masyarakat kita. banyak, apakah negara seperti amerika, jerman, perancis, belanda bahkan rusia masih mempertahankan hal hal klenik seperti yang ada di Indonesia, tidak. Malah sebaliknya, mereka berusaha merasionalkan apa yang menurutnya sebagai mistis, gaib dsb. pernnyataan saya tersebut secara tidak langsung memberikan penjelasan bahwa klenik, mistis sangat menghambat bagi kemajuan bangsa ini. pola pikir bangsa ini tidak dituntun ek arah yang maju dan beradab tapi malah semakin mundur dan hancur.                                                                                                                                                                                                                                                                                                      Masyarakat tidak terbiasa berpikir jernih dan sehat, namun sebaliknya segala sesuatunya selalu dan selalu dihubungkan dengan hal hal berbau klenik. Di negar negara maju seperti amerika dan negara negara eropa menjadikan mistis sebagai lahan bisnis, sebagai contoh kita dapat melihat keberhasilan film Harry Potter dan Narnia yang menyebar dan digemari seluruh kalangan. Yang menjadi permasalahan di negeri ini adalah masyarakat yang tetap mempertahankan tradisi tersebut mengklaim bahwa mereka takut kehilangan eksistensi mereka. Padahal, jika kita melihat perilaku dan kebiasaan tersebut tidak lagi relevan jika diterapkan pada fase modern seperti ini. di samping itu agama Islam telah memberikan kita banyak sekali manfaat dan tentunya menegaskan kepada kita bahwa kekuatan terbesar hanya ada pada Tuhan yaitu Allah SWT, bukan demit, siluman, Nyi R oro Kidul dsb. agama islam telah memberikan kita pencerahan dalam merasionalkan apa yang kita anggap sebagai mistis. Buktinya banyak sekali ilmuwan ilmuwan muslim yang penemuannya masih di pakai saat ini seperti aljabar. Di samping itu, pada saat ini banyak sekali penemuan penemuan yang mencoba memahami agama secara rasional, dan terbukti apa yang di sampaikan oleh Islam dapat dibuktikan secara akal sehat.                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                   Apa yang menimpa negeri ini sesungguhnya bukan persoalan bagaimana membuat kita menjadi modern dan beradab, tetapi bagaimana kita memiliki niat untuk memulainya dari hal hal kecil yang ada di sekitar kita. budaya memang menjadi identitas tetap bagi Indonesia khusunya masyarakat jawa, akan tetapi akan lebih bijak jika kita melihat secara mendalam masih perlukan kita mempertahankannya dan meyakininya. Masihkah kita mencampur adukkan agama islam dengan tradisi leluhur kita. itu kembali kepada pemahaman kita lagi, yang jelas tulisan ini mencoba memberikan gambaran dan pencerahan kepada anda yang saat ini masih bertanya tanya pada hal hal seputar klenik tersebut.

Selasa, 25 November 2014

Ini Semua Hanyalah Fashion



Era modernisasi berkembang pesat bersamaan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Perkembangan iptek di satu sisi berdampak positif bagi percepatan mobilisasi manusia, di sisi lain juga menimbulkan dampak negative bagi manusia itu sendiri. modernisasi yang tidak lagi dapat terbendung mengakibatkan bergesernya nilai nilai moral dan masyarakat baik itu masyarakat negara maju maupun masyarakat yang hidup di negara negara berkembang seperti indonesia ini.
     Indonesia sebagai negara kepulauan terbesar tidak lepas dari perkembangan peradaban modern itu sendiri. sebagai negara berkembang, modernisasi di Indonesia telah di jalankan sedemikian rupa dan disesuaikan dengan keadaan pada negara negara asalnya seperti Amerika, dan negara negara Eropa. Perkembangan arus modernisasi juga menghasilkan suatu syndrome yang kita kenal dengan istilah globalisasi. Ya, mungkin antara modernisasi dan globalisasi memiliki pemaknaan yang hampir serupa sama, tapi tidak sesederhana itu.
     modernisasi dapat kita maknai secara umum sebagai keadaan di mana terjadi transformasi besar besaran terhadap perkembangan peradaban manusia yang ditandai dengan adanya pemanfaatkan teknologi dan ilmu pengetahuan secara besar besaran sehingga berdampak langsung pada kehidupan manusia. sedangkan globalisasi adalah suatu kondisi yang diciptakan oleh modernisasi itu sendiri, yaitu keadaan di mana terjadi penyeragaman terhadap cara berpikir masyarakat sehingga seolah olah satu dunia hanya memiliki satu sistem komando.  
     Indonesia sendiri walaupun masih tergolong negara berkembang, arus meodernisasi dan globalisasi sungguh terasa di sini. Buktinya banyak sekali masyarakat kita yang sudah melek akan teknologi bahkan tergolong pecandu teknologi. Akan tetapi perkembangan teknologi dan globalisasi yang tidak disertai dengan mental yang mapan hanya akan menghasilkan output yang buruk pula.
     Cara berpikir masyarakat di era globalisasi ini sangat menunjung tinggi hal hal yang bersifat baik. Baik di sini adalah baik bukan dari segi substansi akan tetapi baik dari segi citra. Globalisasi sebagai suatu tatanan baru memberikan pemahaman pemahaman dangkal kepada masyarakat tentang apa yang kita nilai sebagai baik buruk, benar salah. Hasilnya masyarakat ketika menilai sesuatu, mereka hanya melihat sisi luarnya saja. Ditulisan kali ini, saya akan membahas bagaimana globalisasi berdampak pada perubahan pola pikir masyarakat yang hanya melihat sisi luarnya saja yang terangkum dalam sebuah lirik lagu koil yang berjudul “Ini Semua Hanyalah Fashion.
Hmmmm langsung saja kita menuju ke bait pertama lagu ini
“…terpukau menatap wajah jelita menggoda
terkesima mendengar pidato sang pahlawan
mencari kebenaran dalam dua pilihan
untuk dianggap benar dan diakui….”
     bait pertama lagu ini menunjukkan bahwa masyarakat kita telah di suguhkan sebuah kondisi atau simulasi yang mereka tidak lagi dapat bedakan apakah ini kenyataan atau hanya imajinasi mereka saja. Gglobalisasi yang syarat akan ambisi untuk mendapatkan sesuatu yang ideal, baik malah melahirkan suatu konstruksi yang menyesatkan bagi masyarkat itu sendiri. baik dan buruk tidak lagi dimaknai bagaimana hal tersebut didapatkan akan tetapi lebih kea rah bagaimana baik dan buruk itu di tampilkan. Kita dapat melihat bahwa sekarang ini banyak sekali iklan iklan baik itu kosmetik, make up,gadget atau hal lain yang mencoba mendoktrin kita bagaimana sesungguhnya kondisi ideal tersebut. pada kahirnya masyarakat kemudian akan berlomba lomba menjadi apa yang sudah di berikan oleh iklan-iklan tersebut agar serupa dengan konstruksi media tersebut. begitu juga dengan kondisi politik negeri ini.
     masyarakat yang memimpikan seorang pemimpin yang merakyat, jujur dan sederhana hanya bermambisi untuk menampilkan sosok tersbut, bukan malah mendapatkannya. Tak heran, ketika tuntutan masyarkat begitu tinggi akan sosok figure pemimpin yang sedemikian rupa, hal tersebut malah dimanfaatkan oleh sebuah partai untuk mewujudkan seorang ‘Nabi’ yang sangat didambakan rakyat indonesia. mungkin tidak perlu saya jelaskan siapa partai dan tokoh yang saya maksud dan tentu anda sudah mengetahuinya. Mencari pemimpin atau bahkan menjadi pemimpin bukan suatu perkara mudah seperti halnya ketika kita ingin menjadi seorang artis atau model. pemimpin yang memiliki kualitas dan kapasitas mumpuni tentu tidak dapat kita lihat secara sekilas bahkan melihat sisi luarnya saja.
     Hal tersebut berbeda dengan keadaan masyarakat kita. sesorang yang sebenarnya memiliki track record biasa biasa saja telah melejit menjadi ‘Nabi’ yang punya banya umat. Praktis hal tersebut menuai perdebatan sengit di masyarakat. di satu sisi ada masyarakat yang kritis menolak pencaloan tokoh tersebut menjadi pemimpin dan di satu sisi lainnya sangat mengagung agungkan tokoh tersebut.
“…kita bergaya bagai patriot
peduli politik kenyataannya
kita mencari idola dalam majalah
fashion!!
fashion!!..”
     Di bait selanjutnya telah jelas di katakan bahwa masyarakat kita mulai bergaya bagai patriot yang menganggap asumsi mereka benar dan masyarakat lainnya harus mengakuinya padahal yang kita perdebatkan sesungguhnya adalah suatu kebodohan yang membuat kita semakin terfragmentasi menjadi bagian bagian kecil yang justru memecah beah intergrasi masyarakat.
     era demokrasi di mana masyarakat masih premature akan definisinya membuat mereka kemudian ber’masturbasi’ seolah olah mereka sudah paham bagaimana menjadi seorang warga negara yang benar. Perilaku masyarakat yang sebenarnya belum melek politik tapi dipaksakan paham politik malah menghasilkan generasi generasi idiot sok paham politik. Merekapun tidak lagi dapat membedakan mana pemimpin, mana artis idola. Era demokrasi sesungguhnya tidak sekedar memilih pemimpin dengan melalui perdebatan perdebatan, bahkan sejatinya demokrasi sangat mengurangi akan perdebatan tersebut karena hanya akan membuat suatu kebenaran tersbut menjadi bias dan kabur.
“….terpaku di depan layar televisi
melihat gambar mencari suatu arti
terjebak dalam penjara tanpa tera
li
menghirup kebebasan yang semu ini…”
     ketika masyarakat berada dalam kondisi “kesadaran palsu” maka mereka akan lebih mudah terombang ambing dan mudah untuk terpovokasi seperti layaknya domba domba yang sedang di gembala. Globalisasi yang syarat akan supremasi media mebuat opini masyarakat mudah dibentuk. Media sekali lagi memegang peran penting dalam proses pencalonan pemimpin diera modernisasi sekarang ini. para pemimpin yang memiliki kualitas biasa biasa saja, praktis memiliki segudang pretasi fiktif yang tentunya di bentuk oleh media media nakal tersebut. tak hanya itu, era globalisasi menuntun kita pada suatu perang kompleks yang disebut sebagai perang pemikiran.
      Artinya, kita hidup bukan untuk mencari kebenaran hakiki akan tetapi lebih kea rah bagaiama kita dapat membenarkan argument kita. oleh karena itu, selain menggunakan politik pencitraan para politisi dan calon ‘Nabi tersebut juga senang meneriakkan argument argument menyesatkan terkait rival politiknya. Akibatnya masyarakat menjadi bingung mana yang akan dipercaya. Secara tidak langsung setiap hari kita yang akrab dengan media, baik itu media eletronik seperti telivisi, media cetak dan media sosial seperti facebook, twitter, dll telah menjadikan media media tersebut sebagai ‘mata dan telinga’ kita. media di era globalisasi selain menjadi sarana untuk mendapatkan dan menyalurkan informasi juga ampuh dalam mendoktrin masyarakat baik secara sadar ataupun tidak.
     Mungkin dari kalian kalian ada yang sudah sadar jika pola pikir kita selama ini yang menentukan bagaimana memahami sesuatu, bertindak, berbicara bahkan berpikir telah diatur dan dikonstruksi oleh media media massa yang setiap hari menjejali otak kita. globalisasi adalah sistem yang mendorongk kita menjadi pribadi pribadi yang memiliki pola pikir sama dan seragam. Artinya apa ketika kita menjumpai sesuatu yang berbeda maka hal tersebut dianggap sebagai patologi akut.
     Globalisasi adalah sistem di mana kita di konstruksi dan di doktrin agar menjadi sebagai robot yang selalu menurut kepada sistem penguasa. kebebasan yang ada saat ini adalah kebebasan semu, yang sebenarnya sangat jauh dari hakikat kebebasan itu sendiri. sistem demokrasi yang disertai dengan saudaranya kapitalisme merupakan suatu dogma yang wajib kita ikuti di era sekarang ini. masyarakat yang kurang paham akan hal hal trsebut termasuk juga konsekuensinya terpaksa harus mengikuti ajaran ajaran tersebut baik suka ataupun tidak. Demokrasi dan kapitalisme yang konon katanya syarat akan kebebasan sebenarnya adalah sebuah paradok yang menjebak kita secara perlahan. Kebebasan yang kita rasakan saat ini hanya memberikan sedikit pilihan yaitu pilihan untuk ‘dianggap atau ‘disngkirkan’.

Senin, 24 November 2014

Dunia Fantasi Perspektif KOIL



Halo mas bro,….halo mbak bro…hmmmmm di postingan kali ini aku akan membahas lirik lagunya koil nih yang judulnya kenyataan dalam dunia fantasi.
Mungkin banyak dari kita yang belum kenal siapa sih koil,
Koil adalah salah satu band bergenre industrial rock/metal yang berasal dari kota Bandung. Menurutku, koil khusunya otong adalah orang yang paling realisitis yang pernah ada di negeri ini. lagu lagu koil kebanyakan berisi tentang hujatan, sindiran, bahkan makian yang ditujukan kepada mereka mereka yang di nilai koil sebagai sebuah kemunafikan, dan kebusukan seperti halnya lirik lagu yang akan saya bahas ini.
Mendengar judulnya saja mungkin banyak dari kita yang masih bingung dan ambigu jika menafsirkan apa yang dimaskud koil dengan “kenyataan dalam dunia fantasi”. Hmmm… mungkin yang saya tangkap dari makna judul tersebut adalah apa yang sebenarnya kita alami saat ini. di era modernisasi seperti sekarang ini kita hidup bukan atas dasar apa yang kita mau, melainkan kita hidup atas dasar control dari beberapa pihak yang mengklaim dirinya sebagai penguasa. kenyataan dalam dunia fantasi juga mengisyaratkan tentang bagaimana hidup kita ini telang bergeser kea rah yang menyimpang. Kita hidup bukan atas dasar realita, melainkan kita hidup di atas imajinasi dan simulasi yang dibuat orang lain. Lantas, apa yang kemudian timbul dari hal hal seperti itu. ya, tidak lain hidup kita akan semakin terkontrol dari hari ke hari, kita hidup di mana antara realita dan fantasi membaur menjadi satu dan sulit untuk membedakannya. Seperti halnya dalam lirik lagu ini.
kehidupan yang harus sejalan dengan sebuah ideology bahkan rejim, mebuat kita semakin berada di dalam tekanan yang berakibat pada hancurnya daya kritis kita terhadap negara ini. nasionalisme sebagai interpretasi dari identitas suatu bangsa terkadang hanya di maknai secara dangkal oleh kebanyakan orang. Nasionalisme sebagai dasar bagaimana kita memaknai hidup kita dalam suatu bangsa atau negara telah di salah artikan sebagai fanatisme sempit berkedok primodialisme. Kita dapat melihat bangsa yang mengklaim dirinya sebagai bangsa besar, kini semakin bias dalam mempertahankan nasionalismenya. Di sini wujud nasionalisme sempit tersebut tergambar dalam bait pertama lagu ini yang mengatakan:
Di negara ini kita hidup dan bekerja
Di negara ini kita makan dan berbahagia
Di tanah yang indah indah ini bersemilah cintamu yang abadi
Di negara yang busuk ini kita tersenyum pergi

dalam bait ini menjelaskan bagaimana sesungguhnya nasionalisme itu berjalan, bagaimana nasionalisme itu dimaknai dangkal oleh bangsa ini. negeri yang sudah terlalu lama djajah membuat mental bangsa ini memburuk dan kian memburuk. Segala sesuatunya di maknai secara dangkal dan hanya melihat sisi untung ruginya saja (pragmatis). Kita dapat melihat, ketika setiap hari senin anak anak dengan polosnya menyanyikan lagu lagu kebangsaan dengan di iringi sikap khidmat ala patriot. Mereka tak lupa hormat kepada merah putih yang di klaim sebagai pembangkit semangat nasionalisme. Mungkin sebagian dari kita beranggapan bahwa dengan adanya upacara upacara tersebut nasionalisme anak akan tumbuh dan menjadi kebanggan negara di masa mendatang. Tapi, apakah memang begitu. Kenyataannya, tidak ada satupun dari mereka yang dengan sadarnya paham akan makna mereka mengikuti upacara tersebut. formalitas pendidikan, merupakan dogma yang setiap harinya mereka telan mentah mentah. Mereka di jejali dengan wawasan kepahlawanan, kenegaraan yang membuat mereka berangan angan bahwa negeri ini sudah sedemikian merdeka dan bebas dari penajajahan. Padahal, setiap harinya bangsa ini di jejali dengan berita berita kebohongan, manipulasi sejarah yang secara tidak sadar kita mengimaninya. Di sisi lain sumber daya kita semakin menipis, tetapi pemerintah berupaya untuk ‘membalikkan keadaan’. Korporasi korporasi luar semakin rama berdatangan, mengeksplorasi sumber daya alam kita. pemerintah yang di satu sisi terus menjejali rakyatnya dengan nasionalisme tolol, di sisi lain mereka dengan ‘welcome’ membebaskan asing untuk mengeruk, menjarah semua yang ada dengan embel embel kemajuan.

Melihat realita tersebut kita sebenarnya telah lama di nina bobokan oleh celoteh celoteh sampah ala pemerintah. Pikiran kita dikontruksikan sedemikian rupa agar memiliki anggapan bahwa negara ini sudah merdeka dan bebas dari belenggu apapun. Padahal realitanya sangat bertolak belakang dengan itu semua. Pertanyaannya adalah nasionalisme apa yang sebenarnya kita banggakan dari negeri ini, nasionalisme macam apa yang membuat kita menjadi semakin bodoh, lemah dan tak berpenghasilan.

Pemerintah negeri ini juga masih buta, dan terlena oleh romantika romantika sejarah yang di buat oleh pembohong. Penguasa berkoar koar nasionalisme, patriotism tapi implementasinya nol. Pemerintah kitacenderung oportunis, khas bangsa feudal. Nasionalisme hanya di maknai bagaimana kita menjalani upacara bendera dengan khidmat, dan bukan menanyakan apa substansi di balik tindakan tersebut.

“Kita membicarakan kenyataan dalam dunia yang tak ku mengerti
Kita membicarakan kepasrahan dalam spektrum yang hitam dan putih
Kita merasa benar benar pintar memasyarakatkan kebodohan ini
Kita membicarakan kenyataan dalam dunia fantasi”……………..


di bait selanjutnya kita disuguhi kalimat kalimat yang membuat kita terpana dan mungkin tak percaya, apa yang sudah lam kita lakukan pada bangsa dan negara ini. kita hidup dalam fantasi kita, di lain sisi realita yang seharunsya kita cerna, sedikit demi sedikit kita tinggalkan dan malah meragukannya. Kita hidup di dalam anggan anggan bodoh yang di buat oleh para penguasa dan pahlawan kita. bangsa ini setiap kali harus di jejali dengan keinginan para penguasanya agar selalu mencintai tanah air mereka, akan tetapi hal itu berkebalikan dengan para penguasa yang secara tak sungkan menjual negeri ini demi perut kenyang.
Tragis memang, melihat kondisi yang seperti itu. ada juga para mahasiswa yang senag sekali berdemo menuntut sumber daya ngeri ini di jaga, menuntut agar penguasa mengurangi hobinya dalam berkorupsi. Padahal tak beda jauh, mereka (para mahasiswa) juga gemar sex bebas, hedonisme, hura hura. Apakah itu yang kita sebut kaum nasionalis,

Ku tak butuh pengertianmu
Aku bukan bagian dari sejarah yang kau tulis
kau bingkiskan untuk anak dan cucumu
Aku tak butuh penjelasanmu
Aku bukan bagian dari kebanggaan
Yang membuat kita tak berpenghasilan

Nasionalisme, adalah tempat tinggal yang kita bela
Nasionalisme, untuk negara ini adalah pertanyaan
Nasionalisme, untuk negara ini dan kehancuran

Nasionalisme menuntun bangsa kami menuju kehancuran

Mungkin jika kita mau sadar, kita tidak pernah mau menjadi seorang nasionalis. Nasionalisme membuat kita seperti katak dalam tepurung. Mengaggap diri kita sudah benar, padahal semakin menjurus pada kehancuran. Sebagai bangsa yang baik, rakyat indonesia sebenarnya tidak butuh anggan anggan tinggi dari pemerintah. Yang mereka butuhkan adalah bagaiamana pemerintah memeberikan kepercayaan pada rakyat dalam mengelola dan menjalani kehidupan sebagai bangsa Indonesia. rakyat juga tidak butuh anggapan bahwa mereka adalah warga negara yang baik, tapi kenyataanya mereka terus menerus di tekan dan di bodohi secara cultural dan structural.