Sebuah negara kepualuan, memiliki
sejuta keunikan dan keindahan alam yang tidak dimiliki oleh negara atau wilayah
di belahan dunia lainnya, itulah indonesia. Ya, siapa yang tidak kenal dengan negara
ini. Negara kepulauan terbesar ini sejak dahulu kala sudah di kenal oleh bangsa
bangsa asing yang ingin menguasai wilayah ini, sebut saja seperti inggris,
spanyol, portugis (Portugal), belanda, dan yang terakhir adalah negara serumpun
yaitu jepang. Bukan tanpa sebab negara negara tersebut ingin menguasai wilayah
indonesia. Selain memiliki keindahan alam yang tiada duanya negara indonesia
menyimpan bebagai jenis sumbe daya alam yang sangat melimpah dan belum banyak
dimanfaatan secara maksimal, bahkan oleh para penduduk aslinya. Sebelum
merdeka, indonesia dulunya merupakan negara yang sangat “akrab” dengan yang
namanya penjajah.bagaimana tidak oleh jepang sasa, indonesia telah di jajah ±
3, 5 tahun. Di tambah lagi dengan adanya penjajahn ala colonial belanda yang
memiliki rekor teratas dalam melakukan penjajahan di indonesia selama ± 3, 5
abad atau 350 tahun.
Sabtu, 12 April 2014
Ketika Tuhan Bermain Facebook
Ketika Tuhan Bermain Facebook
Kehidupan, tidak henti hentinya
untuk berubah. Dari waktu ke waktu kita sebagai manusia terus disuguhi dengan
adanya kemajuan di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi baki informasi, maupun
komunikasi. Seiring berjalannya waktu, maka tuntutan akan informasi yang cepat
membuat manusia terus berpikir bagaimana membuat segala sesuatunya menjadi
cepat dan mudah. Kondisi modernisasi seperti sekarang ini telah banyak membuat
kondisi kondisi budaya, perilaku, tindakan, dan pemikiran mengalami tranformasi
transformasi yang begitu cepat. Merujuk pada pemikiran baudrilard yang
mengatakan bahwa dalam kondisi postmodern seperti sekarang ini telah
menyebabakan manusia keluar dari dunia yang sebebarnya. Dalam artian, kondisi
di mana manusia tidak lagi dapat membedakan antara kondisi realita yang ada di
sekitar mereka dengan kondisi fantasia tau dunia fantasi yang diciptakan oleh
manusia itu sendiri. Oleh sebab itu, kondisi demikian oleh baudrilard di sebut
sebagai simulacra. Dengan adanya simulacra, manusia terhegemoni dan tersugesti
untuk mengikuti apa saja yang modernisasi, dan globalisasi sampaikan. Oleh
sebab itu manuia kemudian tidak lagi bertindak dan berpikir secara rasional
atau melalui pertimbangan intelektual, namun mereka bertindak atas dasar emosi
dan keinginan.
Negara Boneka, Boneka Negara...
Terkadang, kita selalu
bertanya tanya, apa yang sebenarnya mendasari kita untuk terus hidup dan
tinggal di suatu tempat, atau lebih tepatnya apa yang sebenarnya patut kita
perjuangkan dalam hidup ini khusunya yang mengaku sebagai rakyat Indonesia.
Ya…tidak lain dan tidak bukan adalah merdeka dan kemerdekaan. Kedengarannya
memang sederhana, dan mungkin sebagian besar orang akan menganggap bahwa kita
dan mereka sudah benar benar memahami akan makna kata tersebut. apakah benar
demikian adanya?. Merdeka secara sekilas kita artikan sebagai sebuah kondisi di
mana seseorang, kelompok, etnis, bangsa, dapat dengan leluasa untuk melakukan
apa yang mereka suka, apa yang mereka inginkan tanpa terganjal oleh tangan
tangan atau bayangan hitam yang selalu menghantui mereka sebelumnya. Sampai
saat ini, saya masih bertanya tanya apakah benar, kita telah merdeka sejak 68
tahun yang lalu. Saya juga masih bertanya apa yang dapat menguatkan peryataan
bahwa kita sudah merdeka lebih dari setengah abad. Menurut buku pelajaran SMP
yang pernah saay baca disebutkan bahwa suatu negara terbentuk dari beberapa
unsure, yaitu wilayah, pemerintah yang berkuasa, rakyat, dan pengakuan dari
negara lain.
Memang indonesia memiliki wilayah kepulauan yang luas, pmerintah,
rakyat dan penduduk dengan jumlah tinggi namun, ketika kita berbicara mengenai
pengakuan dari negara lain apakah hal tersebut memang hanya sebatas pengakuan,
atau ada hal lain yang lebih penting dari sekedar pengakuan. Sebagai negara
kepulauan sekaligus memiliki wilayah yang luas memang sangat sulit untuk
memimpin dan mengatur negara ini. Apalagi negara kita sangatlah rentan untuk
“diperkosa” negara lain. Di sampingi itu, sebelum merdekapun kita juga sudah
berulang kali “diperkosa” oleh negara negara lain. Ini tentunya menjadi
pelajaran berharga, untuk mengingatkan kepada rakyat Indoesia yang harus
berjuang keras untuk kembali meraih status negara “perawan”. Dengan jalan
kemerdekaan, Indonesia mulai sedikit demi sedikit merangkak memulai kehidupan
baru yang tentunya sangat kental dengan aroma indonesia. 67 tahun berlalu,bukan
waktu yang lama bagi sebuah negara untuk berubah dan lahir sebagai negara yang
benar benar “perawan”.
Tapi, apakah sesederhana itu?. tidak, merubah kondisi
suatu negara yang semula hancur oleh penjajahan dari berbagai jenis penjajah
jauh lebih sulit di bandingkan dengan mencari sebuah status merdeka itu
sendiri. Kondisi msyarakat yang sangat beraneka ragam dan kondisi mental yang
bisa di katakan “downfall” membuat perubahan terjadi lama dan semakin lama.
trauma yang berkepanjangan membuat bangsa ini takut untuk bangun, dan bahkan
takut menatap diri mereka sendiri. Alhasil, bangsa yang baru merdeka ini ingin
mendapatkan sesuatu yang instan, mudah tanpa menjalani proses panjang seperti
halnya ketika mencari sebuah kemerdekaan hakiki. Bangsa yang baik tentunya akan
sangat bangga ketika berhasil menciptakan suatu produk produk yang dapat di
gunakan oleh bangsanya sendiri, syukur syukur barang dan jasa tersebut
digunakan oleh negara lain. Namun, di negara ini kondisi sangatlah bertolak
belakang.
Rakyat Indonesia tidak lagi bangga dengan “nama” mereka, tidak lagi
bangga dengan tanah kelahiran mereka, dan mungkin lupa diri mereka sendiri.
Sebagai negara berkembang, tentunya mau tidak mau mereka harus bangkit dan
menguatkan eksistensi baik diri mereka sendiri maupun negara mereka. Dengan
iming iming menjadi negara maju, mereka secara sadar dan sukarela disertai
pasrah, kembali menjual “keperawanan”. Tapi, kali ini mereka tidak menjual
dengan terang terangan, melainkan secara sembuyi sembunyi bahkan rakyat negeri
ini tidak banyak yang tahu tentang praktik jual beli itu. karena setiap
harinya, media media negeri ini sangat gemar untuk mencekoki rakyat dengan
kesenagan kesenagan semu yang sebenarnya dapat mereka dapatkan dengan baik. Di
sisi lain, pemerintah sebenarnya juga tidak malu malu untuk “selingkuh” dengan
pemerintah dunia lain. Maka tidak heran kita dapat melihat, apakah negeri kita
ini masih bisa di sebut sebagai Indonesia.
Masihkah bisa menyebut negara ini
merdeka, ketika di sepanjang jalan banyak sekali produk produk asing bertengger
untuk menanti peminat, sementara setiap hari pedangang pedagang kecil kita
semakin mengencangkan ikat pinggang mereka. Dari realita yang ada, apakah kita
tidak bertanya sedang di manakah kita, di manakah sebenarnya kita tinggal.
Kemerdekaan memang suda ada di tangan kita sejak 6 tahun silam, namun seberapa
besar kita memanfaatkan kemerdekaan itu, seberapa nyenyak kita tidur hari ini.
Apakah kita sadar jika Indonesia tidak lebih dari gudang simpanan kekayaan para
kapitalis kapitalis dunia, apa kita sadar jika negara kita sewaktu waktu bisa
hancur hanya karena permainan di bursa vallas. Apakah kita sadar, bahwa
pemerintah kita lebih suka untuk membunuh rakyatnya sendiri daripada
melindunginya. Dan satu lagi, apakah
kita juga sadar jika kondisi saat ini tidak lebih baik daripada 68 tahun lalu.
Ada sebuah kata yang
sampai saat ini menghantui pikiran saya. Ada yang mengatakan buat apa kalian
banyak baca buku, namun bungkam. Tulisan itu di buat oleh teman saya, lebih
tepatnya teman sekelas. Yang saya tahu ia adalah seorang aktivis, atau sok aktivis,
sangat aktif dan juga hiper aktif. Entah mengapa saya langsung emosi membaca
kata demi kata dari kalimat yang ia tulis itu. saya tahau bahwa ada banyak
orang di negeri ini yang menganggap bahwa aktivis adalah orang orang yang aktif
dalam kegiatan kegiatan di luar kampus dan tentuya berorientasi pada gerakan
gerakan perubahan khas idealism mahasiswa. Hahahahaha, memang mahasiswa adalah
mahkluk atau mungkin robot yang telah di desain untuk menerima doktrin sesat
untuk menjadi seorag aktivis walaupun ia tidak mungkin menginginkannya walaupun
sampai mati. Tidak masalah, menjadi mahasiswa sekaligus aktivis atau hanya
menjadi mahasiswa kupu kupu (kuliah pulang) bukanlah sesuatu yang menurut saya
aneh. Sebab, menurut saya setiap orang termasuk mahasiswa memiliki idelaisme
dan pandangan hidup tersendiri yang tentunya berbeda dan tidak dapat disamakan
oleh siapapun di dunia ini. bicara idealism kita ingat ketika tragedy ’98
mengisyaratkan kepada kita bahwa mahasiswa adalah ujung tombak dari keberasilan
itu dan oleh karena itu kemudian mahasiswa berbangga diri dan menganggap
dirinya sebagai pahlawan yang harus di kenang. Pada peristiwa itu, mahasiswa
memang sangat aktif dan berontak menentang sistem yang kaku, busuk, dan korup.
Ketika orde baru runtuh, lantas siapa yang kemudian memegang kendali akan
pemerintahan tersebut, ya..tidak lain dan tidak bukan adalah mereka yang pada
saat itu memakai almamater dan teriak teriak di senayan. Ketika mereka sudah
duduk di posisi yang pada saat itu mereka tentang keras, apakah idealisme yang
mereka gembar gemborkan itu tetap bertahan dan terus menerus mereka teriakkan.
Oww. Tidak, mereka tidak ada bedanya dengan para birokrat yang sebelumnya
mereka injak injak nama baiknya. Yang lebih parahnya lagi, ketika para orang
orang yang mengatas namakan dirinya sebagai aktivis, menganggap aktivis adalah
aktivitas yang hanya dilakukan di luar kampus dan harus berupa gerakan gerakan
baik itu demonstrasi, atau kegiatan kegiatan lain. Sedangkan mereka yang setiap
harinya menulis, di media media elektronik seperti web site atupun blog tidak
mereka anggap sebagai bagian dari kegiatan aktivis itu. di semester dua
kemarin, saya dan beberapa teman saya mengikuti seleksi untuk diterima di
sebuah organisasi paling terkenal di seluruh kampu negeri ini, apalagi kalau
bukan BEM.
Hahaha, sempat tidak berpikir panjang akan hal itu, karena saya
menilai mumpung masih awal awal kuliah mengapa tidak mengikuti hal hal semacam
itu. awalnya saya sempat optimis untuk masuk dalam organisasi itu, akan tetapi
hal itu berubah drastic dan ada semacam kesan aneh. Awalnya saya menyangka
bahwa akan bertemu dengan orang orang ramah yang penuh dengan idelaisme tulus
dari hati untuk senantiasa meneriakkan perlawanan dan berontak pada penguasa,
namun hahahaha…yang saya jumpai hanya orang orang yang ingin eksis dan diakui
bahwa mereka seorang aktivis…… yang lebih parahnya lagi dalam organisasi itu
ada semcam gap yang terdiri dari orang orang yang memiliki prodi yang sama.
Selain itu senioritas pada organisasi itu sangatlah terasa. Fucking…itulah kata
yang mungkin menjadi ekspresi saya ketika memasuki BEM. Padahal organisasi ini
adalah organisasi yang ada di fakultas denngan atmosfer politik yang tinggi.
Memang, BEM adalah wadah yang sangat baik dan vital bagi para calon calon
pemberontak (baca : penjilat) untuk mengembangkan kemapuannya. Mungkin saya
terlalu naïf, terlalu berharap kepada mereka yang mengatas namakan perubahan.
Nyatanya ketika saya beberapa hari bergabung dengan mereka, mereka tidak ada
bedanya dengan OSIS sewaktu SMA. Hahahaha…..saya tidak ada maksud sedikitpun
untuk menghina atau merendahkan organisasi tersebut, namun itulah yang selama
ini aku rasakan. Memang mereka kumpulan orang orang cerdas dan pintar, dan saya
mengakui hal itu, akan tetapi jika melihat tekad mereka, tak ada bedannya
dengan para birokrat birokrat busuk itu. entah mengapa, ketika sebelum
mengawali suatu hal, saya sempat merasa bahwa ada pandangan yang selalu
melintas di pikiran saya. Pikiran tersebut selalu saja muncul ketika saat saat
tertentu, dan yang lebih anehnya lagi ketika hal itu menjadi sebuah kenyataan
dan menjadi kebenaran. Setelah beberapa minggu beranbung dengan mereka, saya
putuskan untuk diam diam keluar dari organisasi tersebut. karena saya merasa
bahwa orang seperti saya tidak akan pernah bisa bekerja sama atau berkelompok
dalam suatu organisasi apapun. Kembal ke topic sebelumnya. Memang jenuh menjadi
para mahasiswa, hidup seperti penuh pemberontakan, apalagi bagi mereka yang
setipa harinya berteriak teriak akan perubahan dan perjuangan.
Berhenti Mencerdaskan Kebodohan!!!!!!............................................
Beberapa
hari lagi kita akan merayakan pesta demokrasi. Tepatnya pada tanggal 9 april
2014. Ya….sekali lagi, Indonesia akan mengalami babak baru perpolotikan untuk 5
tahun ke depan. Tidak hanya itu, berbagai jenis media massa baik itu media
cetak, ataupun media eletronik ramai ramai bergemuruh meneriakkan slogan slogan
dan jargon para kandidat dari partai partai politik tersebut. hemmmm, saya
hanya termenung dan tertawa dalam hati ketika melihat semua itu. apa itu cukup,
ow… tidak, anda tahu jalan jalan yang sering kita lewati setiap harinya, kini
berubah menjadi slide show terpanjang dan terbesar yang menampilkan berbagai
tokoh dari drama kelas kakap.
Dengan TV anda dapat menjadi 'SAMPAH'
Kali ini, saya tidak akan membuat
tulisan tentang kritik, sindiran, dan cemoohan, namun kali ini saya akan
membuat tulisan atau review dari beberapa lagu yang akhir kahir ini
menginspirasi saya. Lagu ini, adalah sebuah kumpulan lirik yang diciptakan oleh
band rock Jogya, Captain jack. Sedikit lucu judulnya, “TV Sampah”.
Tak Lagi Tajam Taringku
Tak
Lagi Tajam Taringku
Beberapa
minggu lagi kita akan memperingati sebuah perayaan yang terpenting di negeri
ini, Indonesia. Ya….apa lagi kalau bukan hari kemerdekaan Indonesia atau lebih
kita kenal dengan sebutan HUT RI. Hari kemerdekaan Indonesia tersebut tidak hanya di maknai sebatas hari di mana
kita mulai lepas dari segala bentuk kolonialisme dan imperialisme yang
sebenarnya sampai ksaat ini kita masih merasakannya. Namun lebih dari itu,
kemerdekaan ini merupakan wujud dari perjuangan sekian lama para pejuang untuk
menjadikan negara ini mendapat sebutan sebagai negara merdeka. Merdeka ataupun
terjajah sebenarnya beda tipis. Merdeka sama halnya dengan kata bebas, bebas
dari segala belenggu dan” penjara” yang terlalu lama mengekang jiwa dan raga rakyat
negeri ini. Tak hanya itu kita tentunya tidak lupa jika kemerdekaan ini
merupakan buah manis dari perjuangan para pemuda pemuda yang gigih
mempertahankan identitas mereka.
Langganan:
Postingan (Atom)