Blogger templates

Pages

Labels

Selasa, 25 November 2014

Ini Semua Hanyalah Fashion



Era modernisasi berkembang pesat bersamaan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Perkembangan iptek di satu sisi berdampak positif bagi percepatan mobilisasi manusia, di sisi lain juga menimbulkan dampak negative bagi manusia itu sendiri. modernisasi yang tidak lagi dapat terbendung mengakibatkan bergesernya nilai nilai moral dan masyarakat baik itu masyarakat negara maju maupun masyarakat yang hidup di negara negara berkembang seperti indonesia ini.
     Indonesia sebagai negara kepulauan terbesar tidak lepas dari perkembangan peradaban modern itu sendiri. sebagai negara berkembang, modernisasi di Indonesia telah di jalankan sedemikian rupa dan disesuaikan dengan keadaan pada negara negara asalnya seperti Amerika, dan negara negara Eropa. Perkembangan arus modernisasi juga menghasilkan suatu syndrome yang kita kenal dengan istilah globalisasi. Ya, mungkin antara modernisasi dan globalisasi memiliki pemaknaan yang hampir serupa sama, tapi tidak sesederhana itu.
     modernisasi dapat kita maknai secara umum sebagai keadaan di mana terjadi transformasi besar besaran terhadap perkembangan peradaban manusia yang ditandai dengan adanya pemanfaatkan teknologi dan ilmu pengetahuan secara besar besaran sehingga berdampak langsung pada kehidupan manusia. sedangkan globalisasi adalah suatu kondisi yang diciptakan oleh modernisasi itu sendiri, yaitu keadaan di mana terjadi penyeragaman terhadap cara berpikir masyarakat sehingga seolah olah satu dunia hanya memiliki satu sistem komando.  
     Indonesia sendiri walaupun masih tergolong negara berkembang, arus meodernisasi dan globalisasi sungguh terasa di sini. Buktinya banyak sekali masyarakat kita yang sudah melek akan teknologi bahkan tergolong pecandu teknologi. Akan tetapi perkembangan teknologi dan globalisasi yang tidak disertai dengan mental yang mapan hanya akan menghasilkan output yang buruk pula.
     Cara berpikir masyarakat di era globalisasi ini sangat menunjung tinggi hal hal yang bersifat baik. Baik di sini adalah baik bukan dari segi substansi akan tetapi baik dari segi citra. Globalisasi sebagai suatu tatanan baru memberikan pemahaman pemahaman dangkal kepada masyarakat tentang apa yang kita nilai sebagai baik buruk, benar salah. Hasilnya masyarakat ketika menilai sesuatu, mereka hanya melihat sisi luarnya saja. Ditulisan kali ini, saya akan membahas bagaimana globalisasi berdampak pada perubahan pola pikir masyarakat yang hanya melihat sisi luarnya saja yang terangkum dalam sebuah lirik lagu koil yang berjudul “Ini Semua Hanyalah Fashion.
Hmmmm langsung saja kita menuju ke bait pertama lagu ini
“…terpukau menatap wajah jelita menggoda
terkesima mendengar pidato sang pahlawan
mencari kebenaran dalam dua pilihan
untuk dianggap benar dan diakui….”
     bait pertama lagu ini menunjukkan bahwa masyarakat kita telah di suguhkan sebuah kondisi atau simulasi yang mereka tidak lagi dapat bedakan apakah ini kenyataan atau hanya imajinasi mereka saja. Gglobalisasi yang syarat akan ambisi untuk mendapatkan sesuatu yang ideal, baik malah melahirkan suatu konstruksi yang menyesatkan bagi masyarkat itu sendiri. baik dan buruk tidak lagi dimaknai bagaimana hal tersebut didapatkan akan tetapi lebih kea rah bagaimana baik dan buruk itu di tampilkan. Kita dapat melihat bahwa sekarang ini banyak sekali iklan iklan baik itu kosmetik, make up,gadget atau hal lain yang mencoba mendoktrin kita bagaimana sesungguhnya kondisi ideal tersebut. pada kahirnya masyarakat kemudian akan berlomba lomba menjadi apa yang sudah di berikan oleh iklan-iklan tersebut agar serupa dengan konstruksi media tersebut. begitu juga dengan kondisi politik negeri ini.
     masyarakat yang memimpikan seorang pemimpin yang merakyat, jujur dan sederhana hanya bermambisi untuk menampilkan sosok tersbut, bukan malah mendapatkannya. Tak heran, ketika tuntutan masyarkat begitu tinggi akan sosok figure pemimpin yang sedemikian rupa, hal tersebut malah dimanfaatkan oleh sebuah partai untuk mewujudkan seorang ‘Nabi’ yang sangat didambakan rakyat indonesia. mungkin tidak perlu saya jelaskan siapa partai dan tokoh yang saya maksud dan tentu anda sudah mengetahuinya. Mencari pemimpin atau bahkan menjadi pemimpin bukan suatu perkara mudah seperti halnya ketika kita ingin menjadi seorang artis atau model. pemimpin yang memiliki kualitas dan kapasitas mumpuni tentu tidak dapat kita lihat secara sekilas bahkan melihat sisi luarnya saja.
     Hal tersebut berbeda dengan keadaan masyarakat kita. sesorang yang sebenarnya memiliki track record biasa biasa saja telah melejit menjadi ‘Nabi’ yang punya banya umat. Praktis hal tersebut menuai perdebatan sengit di masyarakat. di satu sisi ada masyarakat yang kritis menolak pencaloan tokoh tersebut menjadi pemimpin dan di satu sisi lainnya sangat mengagung agungkan tokoh tersebut.
“…kita bergaya bagai patriot
peduli politik kenyataannya
kita mencari idola dalam majalah
fashion!!
fashion!!..”
     Di bait selanjutnya telah jelas di katakan bahwa masyarakat kita mulai bergaya bagai patriot yang menganggap asumsi mereka benar dan masyarakat lainnya harus mengakuinya padahal yang kita perdebatkan sesungguhnya adalah suatu kebodohan yang membuat kita semakin terfragmentasi menjadi bagian bagian kecil yang justru memecah beah intergrasi masyarakat.
     era demokrasi di mana masyarakat masih premature akan definisinya membuat mereka kemudian ber’masturbasi’ seolah olah mereka sudah paham bagaimana menjadi seorang warga negara yang benar. Perilaku masyarakat yang sebenarnya belum melek politik tapi dipaksakan paham politik malah menghasilkan generasi generasi idiot sok paham politik. Merekapun tidak lagi dapat membedakan mana pemimpin, mana artis idola. Era demokrasi sesungguhnya tidak sekedar memilih pemimpin dengan melalui perdebatan perdebatan, bahkan sejatinya demokrasi sangat mengurangi akan perdebatan tersebut karena hanya akan membuat suatu kebenaran tersbut menjadi bias dan kabur.
“….terpaku di depan layar televisi
melihat gambar mencari suatu arti
terjebak dalam penjara tanpa tera
li
menghirup kebebasan yang semu ini…”
     ketika masyarakat berada dalam kondisi “kesadaran palsu” maka mereka akan lebih mudah terombang ambing dan mudah untuk terpovokasi seperti layaknya domba domba yang sedang di gembala. Globalisasi yang syarat akan supremasi media mebuat opini masyarakat mudah dibentuk. Media sekali lagi memegang peran penting dalam proses pencalonan pemimpin diera modernisasi sekarang ini. para pemimpin yang memiliki kualitas biasa biasa saja, praktis memiliki segudang pretasi fiktif yang tentunya di bentuk oleh media media nakal tersebut. tak hanya itu, era globalisasi menuntun kita pada suatu perang kompleks yang disebut sebagai perang pemikiran.
      Artinya, kita hidup bukan untuk mencari kebenaran hakiki akan tetapi lebih kea rah bagaiama kita dapat membenarkan argument kita. oleh karena itu, selain menggunakan politik pencitraan para politisi dan calon ‘Nabi tersebut juga senang meneriakkan argument argument menyesatkan terkait rival politiknya. Akibatnya masyarakat menjadi bingung mana yang akan dipercaya. Secara tidak langsung setiap hari kita yang akrab dengan media, baik itu media eletronik seperti telivisi, media cetak dan media sosial seperti facebook, twitter, dll telah menjadikan media media tersebut sebagai ‘mata dan telinga’ kita. media di era globalisasi selain menjadi sarana untuk mendapatkan dan menyalurkan informasi juga ampuh dalam mendoktrin masyarakat baik secara sadar ataupun tidak.
     Mungkin dari kalian kalian ada yang sudah sadar jika pola pikir kita selama ini yang menentukan bagaimana memahami sesuatu, bertindak, berbicara bahkan berpikir telah diatur dan dikonstruksi oleh media media massa yang setiap hari menjejali otak kita. globalisasi adalah sistem yang mendorongk kita menjadi pribadi pribadi yang memiliki pola pikir sama dan seragam. Artinya apa ketika kita menjumpai sesuatu yang berbeda maka hal tersebut dianggap sebagai patologi akut.
     Globalisasi adalah sistem di mana kita di konstruksi dan di doktrin agar menjadi sebagai robot yang selalu menurut kepada sistem penguasa. kebebasan yang ada saat ini adalah kebebasan semu, yang sebenarnya sangat jauh dari hakikat kebebasan itu sendiri. sistem demokrasi yang disertai dengan saudaranya kapitalisme merupakan suatu dogma yang wajib kita ikuti di era sekarang ini. masyarakat yang kurang paham akan hal hal trsebut termasuk juga konsekuensinya terpaksa harus mengikuti ajaran ajaran tersebut baik suka ataupun tidak. Demokrasi dan kapitalisme yang konon katanya syarat akan kebebasan sebenarnya adalah sebuah paradok yang menjebak kita secara perlahan. Kebebasan yang kita rasakan saat ini hanya memberikan sedikit pilihan yaitu pilihan untuk ‘dianggap atau ‘disngkirkan’.

Senin, 24 November 2014

Dunia Fantasi Perspektif KOIL



Halo mas bro,….halo mbak bro…hmmmmm di postingan kali ini aku akan membahas lirik lagunya koil nih yang judulnya kenyataan dalam dunia fantasi.
Mungkin banyak dari kita yang belum kenal siapa sih koil,
Koil adalah salah satu band bergenre industrial rock/metal yang berasal dari kota Bandung. Menurutku, koil khusunya otong adalah orang yang paling realisitis yang pernah ada di negeri ini. lagu lagu koil kebanyakan berisi tentang hujatan, sindiran, bahkan makian yang ditujukan kepada mereka mereka yang di nilai koil sebagai sebuah kemunafikan, dan kebusukan seperti halnya lirik lagu yang akan saya bahas ini.
Mendengar judulnya saja mungkin banyak dari kita yang masih bingung dan ambigu jika menafsirkan apa yang dimaskud koil dengan “kenyataan dalam dunia fantasi”. Hmmm… mungkin yang saya tangkap dari makna judul tersebut adalah apa yang sebenarnya kita alami saat ini. di era modernisasi seperti sekarang ini kita hidup bukan atas dasar apa yang kita mau, melainkan kita hidup atas dasar control dari beberapa pihak yang mengklaim dirinya sebagai penguasa. kenyataan dalam dunia fantasi juga mengisyaratkan tentang bagaimana hidup kita ini telang bergeser kea rah yang menyimpang. Kita hidup bukan atas dasar realita, melainkan kita hidup di atas imajinasi dan simulasi yang dibuat orang lain. Lantas, apa yang kemudian timbul dari hal hal seperti itu. ya, tidak lain hidup kita akan semakin terkontrol dari hari ke hari, kita hidup di mana antara realita dan fantasi membaur menjadi satu dan sulit untuk membedakannya. Seperti halnya dalam lirik lagu ini.
kehidupan yang harus sejalan dengan sebuah ideology bahkan rejim, mebuat kita semakin berada di dalam tekanan yang berakibat pada hancurnya daya kritis kita terhadap negara ini. nasionalisme sebagai interpretasi dari identitas suatu bangsa terkadang hanya di maknai secara dangkal oleh kebanyakan orang. Nasionalisme sebagai dasar bagaimana kita memaknai hidup kita dalam suatu bangsa atau negara telah di salah artikan sebagai fanatisme sempit berkedok primodialisme. Kita dapat melihat bangsa yang mengklaim dirinya sebagai bangsa besar, kini semakin bias dalam mempertahankan nasionalismenya. Di sini wujud nasionalisme sempit tersebut tergambar dalam bait pertama lagu ini yang mengatakan:
Di negara ini kita hidup dan bekerja
Di negara ini kita makan dan berbahagia
Di tanah yang indah indah ini bersemilah cintamu yang abadi
Di negara yang busuk ini kita tersenyum pergi

dalam bait ini menjelaskan bagaimana sesungguhnya nasionalisme itu berjalan, bagaimana nasionalisme itu dimaknai dangkal oleh bangsa ini. negeri yang sudah terlalu lama djajah membuat mental bangsa ini memburuk dan kian memburuk. Segala sesuatunya di maknai secara dangkal dan hanya melihat sisi untung ruginya saja (pragmatis). Kita dapat melihat, ketika setiap hari senin anak anak dengan polosnya menyanyikan lagu lagu kebangsaan dengan di iringi sikap khidmat ala patriot. Mereka tak lupa hormat kepada merah putih yang di klaim sebagai pembangkit semangat nasionalisme. Mungkin sebagian dari kita beranggapan bahwa dengan adanya upacara upacara tersebut nasionalisme anak akan tumbuh dan menjadi kebanggan negara di masa mendatang. Tapi, apakah memang begitu. Kenyataannya, tidak ada satupun dari mereka yang dengan sadarnya paham akan makna mereka mengikuti upacara tersebut. formalitas pendidikan, merupakan dogma yang setiap harinya mereka telan mentah mentah. Mereka di jejali dengan wawasan kepahlawanan, kenegaraan yang membuat mereka berangan angan bahwa negeri ini sudah sedemikian merdeka dan bebas dari penajajahan. Padahal, setiap harinya bangsa ini di jejali dengan berita berita kebohongan, manipulasi sejarah yang secara tidak sadar kita mengimaninya. Di sisi lain sumber daya kita semakin menipis, tetapi pemerintah berupaya untuk ‘membalikkan keadaan’. Korporasi korporasi luar semakin rama berdatangan, mengeksplorasi sumber daya alam kita. pemerintah yang di satu sisi terus menjejali rakyatnya dengan nasionalisme tolol, di sisi lain mereka dengan ‘welcome’ membebaskan asing untuk mengeruk, menjarah semua yang ada dengan embel embel kemajuan.

Melihat realita tersebut kita sebenarnya telah lama di nina bobokan oleh celoteh celoteh sampah ala pemerintah. Pikiran kita dikontruksikan sedemikian rupa agar memiliki anggapan bahwa negara ini sudah merdeka dan bebas dari belenggu apapun. Padahal realitanya sangat bertolak belakang dengan itu semua. Pertanyaannya adalah nasionalisme apa yang sebenarnya kita banggakan dari negeri ini, nasionalisme macam apa yang membuat kita menjadi semakin bodoh, lemah dan tak berpenghasilan.

Pemerintah negeri ini juga masih buta, dan terlena oleh romantika romantika sejarah yang di buat oleh pembohong. Penguasa berkoar koar nasionalisme, patriotism tapi implementasinya nol. Pemerintah kitacenderung oportunis, khas bangsa feudal. Nasionalisme hanya di maknai bagaimana kita menjalani upacara bendera dengan khidmat, dan bukan menanyakan apa substansi di balik tindakan tersebut.

“Kita membicarakan kenyataan dalam dunia yang tak ku mengerti
Kita membicarakan kepasrahan dalam spektrum yang hitam dan putih
Kita merasa benar benar pintar memasyarakatkan kebodohan ini
Kita membicarakan kenyataan dalam dunia fantasi”……………..


di bait selanjutnya kita disuguhi kalimat kalimat yang membuat kita terpana dan mungkin tak percaya, apa yang sudah lam kita lakukan pada bangsa dan negara ini. kita hidup dalam fantasi kita, di lain sisi realita yang seharunsya kita cerna, sedikit demi sedikit kita tinggalkan dan malah meragukannya. Kita hidup di dalam anggan anggan bodoh yang di buat oleh para penguasa dan pahlawan kita. bangsa ini setiap kali harus di jejali dengan keinginan para penguasanya agar selalu mencintai tanah air mereka, akan tetapi hal itu berkebalikan dengan para penguasa yang secara tak sungkan menjual negeri ini demi perut kenyang.
Tragis memang, melihat kondisi yang seperti itu. ada juga para mahasiswa yang senag sekali berdemo menuntut sumber daya ngeri ini di jaga, menuntut agar penguasa mengurangi hobinya dalam berkorupsi. Padahal tak beda jauh, mereka (para mahasiswa) juga gemar sex bebas, hedonisme, hura hura. Apakah itu yang kita sebut kaum nasionalis,

Ku tak butuh pengertianmu
Aku bukan bagian dari sejarah yang kau tulis
kau bingkiskan untuk anak dan cucumu
Aku tak butuh penjelasanmu
Aku bukan bagian dari kebanggaan
Yang membuat kita tak berpenghasilan

Nasionalisme, adalah tempat tinggal yang kita bela
Nasionalisme, untuk negara ini adalah pertanyaan
Nasionalisme, untuk negara ini dan kehancuran

Nasionalisme menuntun bangsa kami menuju kehancuran

Mungkin jika kita mau sadar, kita tidak pernah mau menjadi seorang nasionalis. Nasionalisme membuat kita seperti katak dalam tepurung. Mengaggap diri kita sudah benar, padahal semakin menjurus pada kehancuran. Sebagai bangsa yang baik, rakyat indonesia sebenarnya tidak butuh anggan anggan tinggi dari pemerintah. Yang mereka butuhkan adalah bagaiamana pemerintah memeberikan kepercayaan pada rakyat dalam mengelola dan menjalani kehidupan sebagai bangsa Indonesia. rakyat juga tidak butuh anggapan bahwa mereka adalah warga negara yang baik, tapi kenyataanya mereka terus menerus di tekan dan di bodohi secara cultural dan structural.



Sabtu, 22 November 2014

Paradok Demokrasi Di Tengah Isu Wacana Kebebasan





“Sebebas bebasnya seorang manusia, tidak ada yang lebih bebas dari ikan ikan di lautan”……
Hmmm, mungkin itu sepenggal pribahasa yang menunjukkan bahwa manusia sampai kapanpun tidak akan mendapatkan suatu kebebasan yang hakiki. Hal itulah yang juga mendorong ku untuk menulis sebuah artikel ini. kebebasan menjadi sebuah perbincangan yang menarik bagi kita sebagai manusia. ya, sejak kecil dan sampai dewasa, tua bahkan meninggal dunia kita selalu dihantui bagaimana menjadi seorang yang bebas dan tidak terpenjara baik fisik, hati dan pikirannya oleh hal hal yang ada di sekitarnya. Menjadi bebas, mungkin suatu hal yang utopis atau hanya rekaan belaka.
            Sebagai manusia kita sudah dilahirkan dalam suatu kondisi yang menuntut kita untuk patuh dan taat. Patuh dan taat juga merupakan konstruksi pikiran yang kemudian di jejalkan pada manusia, walaupun manusia itu belum sepenuhnya paham apa hakikat mengikuti hal tersebut. sampai saat ini mungkin kita juga bertanya tanya mengapa kita harus melakukan ini, itu tanpa pemahaman yang mendalam. Dalam prosesnya, manusia telah ditakdirkan oleh Tuhan sebagaimana mestinya. Manusia terlahir sangat berbeda dengan mahkluk lainnya, karena memiliki naluri sekaligus akal budi sebagai pondasi ketika ia ingin memulai suatu hal, baik berbicara, berpikir, bertindak. Naluri sebagai anugerah terbesar Tuhan yang ditujukan kepada kita manusia, membuat kita berusaha terus menerus merenung dan berpikir atas segala hal yang ada di sekitar kita. dan tak jarang kita juga sering mendobrak, melanggar norma norma atau aturan bahkan doktrin yang sudah sekian lama kita percayai hanya karena ingin mendapatkan suatu yang lebih.
            Berpikir tentang kebebassan, berarti berpikir bagaimana tidak ada satupun suatu hal yang memenjara, mengatur, dan mengendalikan diri kita. lantas bagaimanakah kita memperoleh suatu kebebasab itu. terkadang, manusia memiliki pendapat yang berbeda dalam memaknai suatu kebebasan. Misal seperti ada seorang remaja yang menganggap bahwa pacaran adalah suatu hal yang wajib bagi remaja layaknya dia. Padahal, pacaran sebenarnya adalah suatu kontruksi sosial yang dengan mudahnya diikuti oleh seseorang tanpa pertimbangan yang jelas. di samping itu, pacaran juga di maknais sebagai suatu aktivitas ideal bagi remaja. dengan adanya seseorang yang memandang pacaran sebagai suatu hal yang wajib bagi dirinya, berarti dengan secara langsung maupun tidak langsung dia telah memenjarakan akal dan nalurinya untuk mengikuti konstrusi tersebut dan pada akhirnya konstruksi konstruksi tersebut berakhir menjadi sebuah doktrin. Sebagaimana yang kita pelajari pada waktu SD, kebebasan adalah suatu hak asasi yang mutlak didapatkan oleh setiap warga negara Indonesia, baik itu kebebasan dalam berpendapat, berpikir, berargument, berorganisasi sampai kebebasan dalam memaknai arti kebebasab itu sendiri.
            Membicarakan soal kebebasan, tentunya negara ini punya cerita sendiri. negeri yang dulunya adalah komunitas feodal terbesar yang pernah ada, secara mendadak berubah menjadi negara jajahan kolonialisme dengan rentang waktu yang cukup lama bahkan bangsa kita sendiri betul betul menikmatinya dengan sejuta kesadaran. Berusaha untuk melewati siksaan, cercaan, dan makian yang tak habis henti hentinya dirasakan oleh bangsa ini, membuat kita menjadi muak dan jenuh atas apa yang menimpa diri kita sebagai bangsa yang besar konon katanya. Di kemudian hari di sela sela keputs asaan, bangsa ini berambisi untuk bangkit dan menjadi bangsa yang merdeka berdaulat, adil dan makmur. 17 Agustus 1945 menjadi saksi bisu ketika bangsa ini dapat menghirup udara bebas setelah sekian lama berada dalam penjara colonial.  Menjadi bangsa yang bebas berarti tidak ada lagi kata terjajah, colonial, bahkan perbudakan. Menjadi bangsa yang merdeka member arti bahwa kita bebas menentukan bagaiamana bangsa ini tumbuh menjadi ‘super power’ seperti sedia kala.                                                                                                
            Di sela sela kemerdekaan ini, bangsa ini ternyata masih bingung dalam menentukan kiblat, apakah berideologi kiri, atau kanan atau tengah. Melihat kondisi bangsa yang sangat multicultural tidak mudah dalam menentukan hal itu. Karena bangsa ini telah bersabda bahwa akan menjunjung tinggi akan kebebasan yang hakiki maka, nilai nilai koletivitas sangat diutamakan di negeri ini. Oleh karena itu, untuk mengurangi berbagai intervensi, tuntutan dan hegemoni atas berbagai suku, ras, dan agama maka negeri ini berimprovisasi dengan membuat suatu ‘tatanan’ sendiri yang kita kenal dengan istilah Pancasila. Pancasila sebagai pilar negara terkandung berbagai nilai nilai dan pandangan bangsa ini. oleh sebab itu disebut sebagai pancasila. Sampai saat ini implementasi ideology Pancasila menurut saya masih bias alias semu.
            Bangsa ini seolah olah menjadi bangsa yang hebat dengan menciptakan suatu ideology sendiri, padahal kenyataannya Pancasila hanyalah sebuah ideology yang masih berkiblat pada Demokrasi. Ya, tidak heran para GodFather negeri ini menyebutnya sebagai demokrasi pancasila. Lantas, apakah yang membedakan Demokrasi dengan Demokrasi Pancasila. Mungkin menurut pandangan saya demokrasi pancasila adalah salh satu sub genre atau sub culture dari berbagai jenis demokrasi yang ada. Dan sangat dimungkinkan juga ada demokrasi demokrasi lain yang juga muncul seperti demokrasi sosialis, demokrasi komunis, bahkan demokrasi kalifah. Kebebasan seperti yang kita singgung di atas tadi memang menjadi jiwa dari demokrasi itu sendiri. tidak heran, saat ini banyak sekali negara negara yang mulai tergerus idealismenya dan beralih ke demokrasi. Fenomena fenomena yang ada tentu menjadi pertanyaan besar seberapa baik kah demokrasi tersebut. demokrasi sendiri lahir di saat masyarakat sudah bosan dengan segala macam kediktatoran yang lahir dari sebuah tirani.
            Demokrasi muncul ketika aspirasi dan pendapat rakyat tidak lagi di dengar bahkan cenderung diremehkan. Oleh sebab itu kemudian muncul istilah sistem pemerintahan dari rakyat, oleh rakyat, untuk rakyat benarkah begitu. Sistem demokrasi sekali lagi sangat menghendaki adanya kebebasan hakikioleh setiap individunya. Seorang individu dengan bebas dapat mengekspresikan apa yang mereka suka dan tidak suka. Secara langsung maupun tidak langsung argument ini mengindikasikan bahwa tidak ada unsur paksaan dan tekanan sekecil apapun yang dpat ditujukan kepada pemetintah.
            Waooo, sangat  ideal sekali sistem ini. kenyataannya, sampai detik ini hakikat kebebasan tersebut malah justru menjadi penjara. Setiap pergantian pemimpin, baik itu dalam skala walikota, gubernur, dan presiden pemilu menjadi satu satunya pilihan untuk menyemarakkan pesta demokrasi tersebut. yang menjadi permasalahan adalah ketika proses pemilu tersebut di maknai sebagai doktrin tetap dalam memilih suatu pemimpin yang mayoritas masyarakatnya terbukti bias dalam menyikapinya. Seperti halnya kontes modeling, kandidat pemimpin tidak di pertimbangkan berdasarkan bagaimana tokoh tersebut dapat berguna bagi rakyat, malah sebaliknya pemimpin adalah artis idola rakyat. Artinya, pemimpin bukan merupakan amanat terbesar rakyat melainkan bintang porno yang setiap melihatnya ingin bermasturbasi.
            Di sisi lain, ajang demokrasi menuntut kita untuk berpikir pendek. Bagaimana tidak seseorang yang tidak berpartisipasi dalam pemilu dianggap sebagai patologi akut di negeri ini. menjunjung tinggi demokrasi bukankah seperti halnya menjunjung tinggi kebebasan. Apakah bangsa ini sudah lupa akan makna kebebasan. Jika benar demikian adanya, maka kita tidak benar benar paham bagaimana cara berdemokrasi yang benar. Atau mungkin demokrasi hanya menjadi cap bagi bangsa ini agar terkesan lebih toleran. Dalam demokrasi kita ditakdirkan untuk melihat apapun hanya dari luarnya saja. Kita melihat banyak calon pemimpin pemimpin kita yang dipandang merakyat, atau apalh itu. padahal kita belum paham bagaimana background yang ada pada individu tersebut, kita juga belum tahu apa saja motifnya menjadi pemimpin.
            Rakyat sebenarnya juga tidak paham bagaimana menetukan pemimpin yang benar, menjadi pemimpin dirinya sendiri saja belum mampu apalagi memilih pemimpin bagi bangsa. Perhelatan demokrasi sebagai sistem yang ideal, kini perlu dipertanyakan kebenarannya. Dalam hal berpendapat kita juga masih dibatasi. Yang lebih parahnya lagi, seorang pemimmpin negeri ini lebih suka mendapat sanjungan atas pencitraan mereka, daripada di injak injak atan  nama kejujuran. Demokrasi melahirkan suatu masturbasi politik, di mana masyarakatknya belum mampu beradaptasi akan sistem tersebut. menjadi pemimpin bukan lagi di maknai sebagai sebuah panggilan nurani atas rasa tanggung jawab yang besar, tetapi di pandang hanya sebatas jabatan kosntitusional semata.
            Akibatnya bangsa ini tidak semakin merdeka, melainkan terpenjara oleh pemikirannya sendiri. mau tidak mau kita harus terus melanjutkan tradisi yang konyol ini, seperti memilih kucing dalam karung. Lantas bagaimana dengan aspirasi masyarakat yang memilihnya? Aspirasi masyarakat adalah hal wajib agar ‘sang idola’ menjadi artis, pertanyaan adalah apakah masyarakat akan merasakan buah dari ketenaran  sang ‘artis’ tersebut. saya rasa tidak, sang ‘artis’ tidak akan berpusing pusing ria memikirkan kebahagiaan para fansnya, yang ada hanya bagaimana caranya agar ia tetap berada di atas angin. Melihat hal hal seperti itu, kebebasan manakah yang masih kita pertahankan, apakah kebebasan yang membuat kita semakin di bodohi atau kebebasan yang membuat kita semakin terpenjara.
            Fenomena golput tidak dapat dipandang sebagai kesalahan masyarakat yang tidak paham akan politik, sebaliknya hal tersebut menjadi indikasi akan keabsahan dari sistem demokrasi yang kita percaya ini. beberapa orang percaya bahwa negara menjamin kebebasan rakyatnya dalam berpendapat dan peraspirasi, akan tetapi pada kenyataanya mereka diharuskan mengikuti sebbuah sistem yang dibuat oleh pemerintahnya sendiri tanpa paham bagaimana sistem tersebut berjalan dan apa konsekuensisnya di balik itu semua. Dalam demorasi kebebasan haruslah tetap dipertahankan dan menjadi orientasi, akan tetapi akan lebih bijak bagaimana kita menyikapi sebuah perbedaan tersebut sebagai cambuk motivasi dalam sistem yang sudah kita percaya.

Aku dan Duniaku




Perkembangan di bidang teknologi, informasi, dan komunikasi semakin menuntut manusia lebih cepat dalam melakukan sesuatu. Di sisi lain, arus globalisasi juga mendorong manusia agar lebih berpikir secara rasional dan kompeten dalam bekerja. Ya, era modernisasi seperti sekarang ini adalah moment yang paling berdampak pada kehidupan manusia. perkembangan teknologi yan semakin cepat sedikitdemi sedikit telah mempengaruhi segi demi segi kehidupan manusia, tak terkeculai pola pikir. Semakin mudahnya akses dalam memperoleh informasi menyebabkan ruang gerak dan ruang interaksi manusia semakain mengkerucut bahkan menyempit.                                                                                                                                        
            Ruang interaksi antar manusia kini hanya sebatas  alat yang sangat mudah kita bawa ke mana mana, yaitu gadget. Gadget pada saat ini adalah suatu kebutuhan wajib yang harus dipenuhi oleh manusia, apapun kalangannya baik itu anak anak, remaja, dewasa, orang tua dsb. pergeseran akan makna interaksi yang sedemikian membuat, pola pikir manusia juga ikut berubah dan bergeser. Manusia saat ini tidak lagi dipusingkan dengan bertatap muka dengan orant orang yang ingin mereka ajak mengobrol. Mereka cukup menggunakan gadget mereka yang berupa tablet atau smartphone untuk berkomunikasi bahkan dengan jarak yang jauh. Penggunaan gadget di kalangan masyarakat Indonesia manurut saya adalah cukup tinggi.          
            Saya tidak tahu persis berapa jumlah masyarakat yang memakainya, akan tetapi jika melihat secara sepintas penggunaan gadget di kalangan masyarakat indosia menunjukkan perkembangan yang sangat cepat. Di samping itu, eksistensi gadget di kalangan masyarakat merupakan sebuah alternatif baru dalam menyajikan hiburan dan sarana berkomunikasi yang lebih efektif. Dalam perkembangannya gadget memiliki berbagai jenis aplikasi khusunya sosial media yang saat ini banyak sekali di gunakan. Namun di sisi lain, dampak dari perkembangan teknologi khususnya gadget tidak seluruhnya berdampak positif bagi masyarakat. secara sepintas gadget memang memberikan manfaat yang luar biasa bagi manusia, akan tetapi di sisi lain juga memberikan dampak yang negative.                                                                     
            Perkembangan gadget, khusunya dalam fungsinya untuk bersosial media telah menggeser pola pikir manusia dalam hal berinteraksi. Sosial media yang dapat diakses kapanpun dan di manapun tak ubahnya seperti dunia baru yang sangat diminati oleh berbagai kalangan khususnya remaja. di kalangan remaja, gadget bukan lagi merupakan barang mewah , melainkan sudah menjadi kebutuhan mendasar. Bahkan kehidupan mereka lebih banyak dihabiskan untuk bermain main dengan gadget mereka, baik itu bersosial media maupun kegiatan yang lainnya.                                                                                                          
            masyarakat, khusunya remaja saat ini lebih suka berkomunikasi di dunia maya daripada bertatap muka langsung dengan orang yang bersangkutan. Hal tersebut dilakukan karena di nilai lebih efektif dan efisien. Akan tetapi, kebiasaan tersebut jika terus menerus dilakukan maka akan berdampak pada kemampuan individu dalam menjalin hubungan sosial yang sebenarnya daripada hubungan yang mereka jalin di sosial media. Yang lebih parahnya lagi ketika setiap individu dengan giatnya selalu mengupdate dan memposting kegiatan apa saja yang mereka lakukan, tentunya hal ini akan berdampak pada kecenderungan perilaku mencari eksistensi secara berlebihan. Di samping itu, individu yang giat memposting kegiatannya tersebut juga terancam akan kehilangan privasinya baik dalam kehidupan di dunia maya maupun realita.                                                                                                                           
            Padahal apa yang sebenarnya mereka tampilkan di dunia maya baik itu sosial media atau lainnya, hanya sebatas pencitraan semata. Para individu tersebut melakukannya bukan karena seperti itu adanya, akan tetapi mereka benar benar ingin diakui oleh sesama pengguna social media. Akibatnya, untuk mempertahankan eksistensi mereka di dunia maya, tak jarang mereka rela ‘berkorban’ apa saja untuk mempertahankannya. Seperti mereka rela makan di tempat tempat yang mahal, rela nongkrong di tempat tempat hiburan malam, atau berwisata ke tempat tempat yang membutuhkan dana atau financial yang tidak sedikit. Padahal, semua yang mereka lakukan sebenarnya sangat bertolak belakang dengan keadaan mereka yang sebenarnya.                                                                                                                                             
            Pergaulan di era modernisasi seperti sekarang ini, menuntut individu untuk terasing dari dari kehidupan mereka. Individu pada saat ini telah dipenjara oleh struktur struktur kaku yang mereka buat sendiri. alhasil ketika individu ingin di akui eksistensinya oleh suatu komunitas dalam masyarakat, maka ia juga harus melakukan hal yang sama yang dilakukan oleh komunitas tersebut. pola pikir yang demikian hanya menjadikan masyarakat ini semakin terfragmentasi ke dalam golongan golongan tertentu. Individu yang mampu mengikuti keadaan maka iapun akan dianggap eksistensinya oleh masyarakat, namun jika individu tersebut tidak seperti yang diharapkan maka ia sedikit demi sedikit akan tersisih. Di sisi lain, kehidupan di era modernisasi seperti sekarang ini membuat individu juga semakin bingung terhadap kehidupannya. Setiap individu, kini hidup bukan atas dasar keinginan diri mereka sendiri, melainkan atas kemauan dari orang lain. Individu tidak lagi memiliki control atas dirinya, sedangkan struktur terus menerus membatasi diri setiap individu.                                                                                    
            Pergeseran pola interaksi, berakibat pada rendahnya kesadaran individu pada lingkungan sekitarnya. Mereka menjadi semakin apatis dan tidak peduli terhadap peristiwa peritiw yang ada di sekitar mereka, karena perhatian setiap individu sudah hanya tertuju pada gadget mereka. Sifat individual juga semakin tampak khusunya dalam lingkungan masyarakat modern seperti masyarakat urban. Bahkan, tak jarang dengan tetangga atau kerabat dekat, merekapun tak kenal. Penggunaan gadget khusunya sosial media juga berdampak pada terbaliknya kehidupan individu. Individu secara tidak langsung lebih meyakini bahwa kehidupan dunia maya adalah kehidupan yang mereka jalankan, sedangkan kehidupan realita mereka adalah tidak nyata.                                                                                                             
            Masyarakat khusunya remaja sudah sedemikian terpengaruh oleh hal tersebut. kita dapat melihatnya ketika aktivitas yang mereka lakukan selalu berhubungan dengan gadget mereka. Mereka lebih asyik bermain gadget ketika di aja mengobrol dengan seseorang bahkan orang terdekat mereka. Saya menjadi teringat ketika pergi ke jogya dengan kereta bersama teman saya. Di sebelah saya adalah serorang anak kecil bertanya kepada orang tuannya, sedangkan orang tuanya sangat asyik dengan smartphonenya. Padahal di usia tersebut perhatian orang tua sangatlah diperlukan bagi perkembangan pola pikir dan kecerdasan anak. Namun, dengan bergesernya pola pikir masyarakat suatu saat, mungkin suatu saat peran orang tua juga akan digantikan dengan gadget. Contoh tersebut seharusnya menjadi renungan bagi kita agar menggunakan gadget dengan lebih bijak. penggunaan gadget khusunya pada masyarakat Indonesia, menurut saya lebih menunjukkan dampak yang negative daripada dampak positf. Apalagi ketika penggunan gadget tersebut tidak disertai dengan pemahaman yang baik, maka hanya akan menimbulkan ketergantungan bagi para pemakainnya. Di sisi lain para pengguna gadget di Indonesia mayoritas adalah anak anak dan remaja yang belum sepenuhnya paham dari penggunaan tersebut.                                                                 
            penggunaan gadget di kalangan anak anak dampak tentu sangat berbahaya bagi kesehatan fisik dan mental mereka. Jika mereka terus menerus menggunakan gadget tersebut untuk bermain, maka kemudian hari mereka menjadi enggan untuk bermain dengan teman sesama mereka. Di samping itu, waktu belajar mereka juga akan terabaikan karena mereka lebih asyik dengan gadget mereka. Penggunaan gadget di kalangan remaja jugaberdampak pada menurunya produktivitas mereka dalam hal akademik dan non akademik. Mereka menjadi malas untuk membaca buku, dan belajar karena semua materi sekolah dapat mereka save di gadget sebagai contekan saat ulangan.                                                                                  
            Memang eksistensi gadget sangat bermanfaat bagi manusia, khusunya dalam menunjang aktivitas sehari harinya. Namun jika tidak disertai dengan pemahaman yang baik , maka gadget tersebut hanya menjadikan manusia semakin bergantung pada teknologi tersebut. kita tentu masih ingat pada fenomena anak alay atau lebay yang banyak bermunculan di masyarakat. hal tersebut muncul tentu tidak lain karena dampak negative dari gadget itu sendiri. gadget adalah salah satu inovasi manusia yang paling cerdas, akan tetapi dalam menggunakannya kita juga harus lebih cerdas dari apa yang manusia ciptakan.