Blogger templates

Pages

Labels

Senin, 24 November 2014

Dunia Fantasi Perspektif KOIL



Halo mas bro,….halo mbak bro…hmmmmm di postingan kali ini aku akan membahas lirik lagunya koil nih yang judulnya kenyataan dalam dunia fantasi.
Mungkin banyak dari kita yang belum kenal siapa sih koil,
Koil adalah salah satu band bergenre industrial rock/metal yang berasal dari kota Bandung. Menurutku, koil khusunya otong adalah orang yang paling realisitis yang pernah ada di negeri ini. lagu lagu koil kebanyakan berisi tentang hujatan, sindiran, bahkan makian yang ditujukan kepada mereka mereka yang di nilai koil sebagai sebuah kemunafikan, dan kebusukan seperti halnya lirik lagu yang akan saya bahas ini.
Mendengar judulnya saja mungkin banyak dari kita yang masih bingung dan ambigu jika menafsirkan apa yang dimaskud koil dengan “kenyataan dalam dunia fantasi”. Hmmm… mungkin yang saya tangkap dari makna judul tersebut adalah apa yang sebenarnya kita alami saat ini. di era modernisasi seperti sekarang ini kita hidup bukan atas dasar apa yang kita mau, melainkan kita hidup atas dasar control dari beberapa pihak yang mengklaim dirinya sebagai penguasa. kenyataan dalam dunia fantasi juga mengisyaratkan tentang bagaimana hidup kita ini telang bergeser kea rah yang menyimpang. Kita hidup bukan atas dasar realita, melainkan kita hidup di atas imajinasi dan simulasi yang dibuat orang lain. Lantas, apa yang kemudian timbul dari hal hal seperti itu. ya, tidak lain hidup kita akan semakin terkontrol dari hari ke hari, kita hidup di mana antara realita dan fantasi membaur menjadi satu dan sulit untuk membedakannya. Seperti halnya dalam lirik lagu ini.
kehidupan yang harus sejalan dengan sebuah ideology bahkan rejim, mebuat kita semakin berada di dalam tekanan yang berakibat pada hancurnya daya kritis kita terhadap negara ini. nasionalisme sebagai interpretasi dari identitas suatu bangsa terkadang hanya di maknai secara dangkal oleh kebanyakan orang. Nasionalisme sebagai dasar bagaimana kita memaknai hidup kita dalam suatu bangsa atau negara telah di salah artikan sebagai fanatisme sempit berkedok primodialisme. Kita dapat melihat bangsa yang mengklaim dirinya sebagai bangsa besar, kini semakin bias dalam mempertahankan nasionalismenya. Di sini wujud nasionalisme sempit tersebut tergambar dalam bait pertama lagu ini yang mengatakan:
Di negara ini kita hidup dan bekerja
Di negara ini kita makan dan berbahagia
Di tanah yang indah indah ini bersemilah cintamu yang abadi
Di negara yang busuk ini kita tersenyum pergi

dalam bait ini menjelaskan bagaimana sesungguhnya nasionalisme itu berjalan, bagaimana nasionalisme itu dimaknai dangkal oleh bangsa ini. negeri yang sudah terlalu lama djajah membuat mental bangsa ini memburuk dan kian memburuk. Segala sesuatunya di maknai secara dangkal dan hanya melihat sisi untung ruginya saja (pragmatis). Kita dapat melihat, ketika setiap hari senin anak anak dengan polosnya menyanyikan lagu lagu kebangsaan dengan di iringi sikap khidmat ala patriot. Mereka tak lupa hormat kepada merah putih yang di klaim sebagai pembangkit semangat nasionalisme. Mungkin sebagian dari kita beranggapan bahwa dengan adanya upacara upacara tersebut nasionalisme anak akan tumbuh dan menjadi kebanggan negara di masa mendatang. Tapi, apakah memang begitu. Kenyataannya, tidak ada satupun dari mereka yang dengan sadarnya paham akan makna mereka mengikuti upacara tersebut. formalitas pendidikan, merupakan dogma yang setiap harinya mereka telan mentah mentah. Mereka di jejali dengan wawasan kepahlawanan, kenegaraan yang membuat mereka berangan angan bahwa negeri ini sudah sedemikian merdeka dan bebas dari penajajahan. Padahal, setiap harinya bangsa ini di jejali dengan berita berita kebohongan, manipulasi sejarah yang secara tidak sadar kita mengimaninya. Di sisi lain sumber daya kita semakin menipis, tetapi pemerintah berupaya untuk ‘membalikkan keadaan’. Korporasi korporasi luar semakin rama berdatangan, mengeksplorasi sumber daya alam kita. pemerintah yang di satu sisi terus menjejali rakyatnya dengan nasionalisme tolol, di sisi lain mereka dengan ‘welcome’ membebaskan asing untuk mengeruk, menjarah semua yang ada dengan embel embel kemajuan.

Melihat realita tersebut kita sebenarnya telah lama di nina bobokan oleh celoteh celoteh sampah ala pemerintah. Pikiran kita dikontruksikan sedemikian rupa agar memiliki anggapan bahwa negara ini sudah merdeka dan bebas dari belenggu apapun. Padahal realitanya sangat bertolak belakang dengan itu semua. Pertanyaannya adalah nasionalisme apa yang sebenarnya kita banggakan dari negeri ini, nasionalisme macam apa yang membuat kita menjadi semakin bodoh, lemah dan tak berpenghasilan.

Pemerintah negeri ini juga masih buta, dan terlena oleh romantika romantika sejarah yang di buat oleh pembohong. Penguasa berkoar koar nasionalisme, patriotism tapi implementasinya nol. Pemerintah kitacenderung oportunis, khas bangsa feudal. Nasionalisme hanya di maknai bagaimana kita menjalani upacara bendera dengan khidmat, dan bukan menanyakan apa substansi di balik tindakan tersebut.

“Kita membicarakan kenyataan dalam dunia yang tak ku mengerti
Kita membicarakan kepasrahan dalam spektrum yang hitam dan putih
Kita merasa benar benar pintar memasyarakatkan kebodohan ini
Kita membicarakan kenyataan dalam dunia fantasi”……………..


di bait selanjutnya kita disuguhi kalimat kalimat yang membuat kita terpana dan mungkin tak percaya, apa yang sudah lam kita lakukan pada bangsa dan negara ini. kita hidup dalam fantasi kita, di lain sisi realita yang seharunsya kita cerna, sedikit demi sedikit kita tinggalkan dan malah meragukannya. Kita hidup di dalam anggan anggan bodoh yang di buat oleh para penguasa dan pahlawan kita. bangsa ini setiap kali harus di jejali dengan keinginan para penguasanya agar selalu mencintai tanah air mereka, akan tetapi hal itu berkebalikan dengan para penguasa yang secara tak sungkan menjual negeri ini demi perut kenyang.
Tragis memang, melihat kondisi yang seperti itu. ada juga para mahasiswa yang senag sekali berdemo menuntut sumber daya ngeri ini di jaga, menuntut agar penguasa mengurangi hobinya dalam berkorupsi. Padahal tak beda jauh, mereka (para mahasiswa) juga gemar sex bebas, hedonisme, hura hura. Apakah itu yang kita sebut kaum nasionalis,

Ku tak butuh pengertianmu
Aku bukan bagian dari sejarah yang kau tulis
kau bingkiskan untuk anak dan cucumu
Aku tak butuh penjelasanmu
Aku bukan bagian dari kebanggaan
Yang membuat kita tak berpenghasilan

Nasionalisme, adalah tempat tinggal yang kita bela
Nasionalisme, untuk negara ini adalah pertanyaan
Nasionalisme, untuk negara ini dan kehancuran

Nasionalisme menuntun bangsa kami menuju kehancuran

Mungkin jika kita mau sadar, kita tidak pernah mau menjadi seorang nasionalis. Nasionalisme membuat kita seperti katak dalam tepurung. Mengaggap diri kita sudah benar, padahal semakin menjurus pada kehancuran. Sebagai bangsa yang baik, rakyat indonesia sebenarnya tidak butuh anggan anggan tinggi dari pemerintah. Yang mereka butuhkan adalah bagaiamana pemerintah memeberikan kepercayaan pada rakyat dalam mengelola dan menjalani kehidupan sebagai bangsa Indonesia. rakyat juga tidak butuh anggapan bahwa mereka adalah warga negara yang baik, tapi kenyataanya mereka terus menerus di tekan dan di bodohi secara cultural dan structural.



0 komentar:

Posting Komentar