Blogger templates

Pages

Labels

Sabtu, 12 April 2014

Lewis Alfred Coser (1913 – 2003)




Biografi:
            Lewis Coser, atau yang memiliki nama lengkap Lewis Alfred Coser dilahirkan dalam sebuah keluarga borjuis Yahudi pada 27 November 1913, di Berlin, Jerman. Coser memberontak melawan atas kehidupan kelas menengah yang diberikan kepadanya oleh orang tuanya, Martin (seorang bankir) dan Margarete (Fehlow) Coser. Pada masa remajanya ia sudah bergabung dengan gerakan sosialis dan meskipun bukan murid yang luar biasa dan tidak rajin sekolah tetapi ia tetap membaca voluminously sendiri. Ketika Hitler berkuasa di Jerman, Coser melarikan diri ke Paris, tempat ia bekerja serabutan untuk mempertahankan eksistensi dirinya. Ia menjadi aktif dalam gerakan sosialis, bergabung dengan beberapa kelompok-kelompok radikal, termasuk organisasi Trotskyis yang disebut "The Spark." Pada tahun 1936, ia akhirnya mampu mendapatkan pekerjaan yang lebih baik, menjadi seorang ahli statistik untuk perusahaan broker Amerika. Dia juga terdaftar di Sorbonne sebagai mahasiswa sastra komparatif tetapi kemudian mengubah fokus untuk sosiologi. Pada tahun 1942 ia menikah dengan Rose Laub dan dikaruniai dua orang anak, Ellen dan Steven. Pada tahun 1948, setelah periode singkat sebagai mahasiswa pascasarjana di Columbia University, Coser menerima posisi sebagai tenaga pengajar ilmu sosial di Universitas Chicago.
Pada tahun yang sama, ia menjadi warga negara AS naturalisasi. Pada tahun 1950, ia kembali ke Universitas Columbia sekali lagi untuk melanjutkan studinya, menerima gelar doktor pada tahun 1954. Ia diminta oleh Brandeis University di Waltham, Massachusetts pada tahun 1951 sebagai seorang dosen dan kemudian sebagai profesor sosiologi. Dia tetap di Brandeis, yang dianggap sebagai surga bagi kaum liberal, sampai 1968. Buku Coser tentang Fungsi Konflik Sosial adalah hasil dari disertasi doktoralnya. Karya-karya lainnya antara lain adalah; Partai Komunis Amerika: A Critical History (1957), Men of Ideas (1965), Continues in the Study of Sosial Conflict (1967), Master of Sosiological Thought (1971) dan beberapa buku lainnya disamping sebagai editor maupun distributor publikasi. Coser meninggal pada tanggal 8 Juli 2003, di Cambridge, Massachusetts dalam usia 89 tahun.
Pendapat Coser tentang teori konflik
            Pada umumnya, istilah konflik sosial mengadung suatu rangkaian fonomena pertentangan dan pertikaian antar pribadi melalui dari konflik kelas sampai pada pertentangan dan peperangan internasional. Coser, mulai mendefinisikan konflik sosial sebagai suatu perjuangan terhadap nilai nilai dan pengakuan terhadap status yang langka, kemudian kekuasaan dan sumber sumber pertentangan di netralissir atau dilangsungkan.                                                                                                   Teori konflik adalah teori yang memandang bahwa perubahan sosial tidak terjadi melalui proses penyesuaian nilai-nilai yang membawa perubahan, tetapi terjadi akibat adanya konflik yang menghasilkan kompromi-kompromi yang berbeda dengan kondisi semula. Teori ini didasarkan pada pemilikan sarana-sarana produksi sebagai unsur pokok pemisahan kelas dalam masyarakat. Konflik juga memiliki kaitan yang erat dengan struktur dan juga konsensus. Selama dua puluh tahun Lewis. A. Coser tetap terikat pada model sosiologi dengan tekanan pada struktrul sosial. Pada saat yang sama dia menunjukkan bahwa model tersebut selalu mengabaikan studi tentang konflik sosial. Coser mengungkapkan komitmennya pada kemungkinan menyatukan pendekatan teori fungsional struktural dan teori konflik. Coser mengakui beberapa susunan struktural merupakan hasil persetujuan dan konsensus, suatu proses yang ditonjolkan oleh kaum fungsional struktural, tetapi dia juga menunjukkan pada proses lain yaitu konflik sosial. Teori konflik yang dikemukakan oleh Lewis Coser sering kali disebut teori fungsionalisme konflik karena ia menekankan fungsi konflik bagi sistem sosial atau masyarakat. Lewis Coser  juga memusatkan perhatiannya pada fungsi-fungsi dari konflik. Bahwa uraian Coser terhadap konflik bersifat fungsional dan terarah kepada pengintegrasian teori konflik dan teori fungsionalisme struktural.

Gagasan gagasan Lewis Alfred Coser
Semasa hidupnya Coser, telah banyak menyumbang gagasan gagasan tentang konflik sosial, antara lain yaitu:
1.      Fungsi fungsi konflik sosial.
2.      Katup penyelamat ( savety valve).
3.      Konflik realistis dan non realistis.
4.      Isu Fungsional konflik.
5.      Kondisi kondisi yang mempengaruhi konflik kelompok dalam( in group) dengan kelompok luar (out group).
1.      Fungsi fungsi konflik sosial
Konflik pada hakekatnya merupakan suatu pertentangan yang diakibatkan oleh kondisi sosial yng tidak sesuai dalam suatu kelompok maupun antar kelompok yang berujung pada pertikaian. Akn tetapi, konflik juga dapat diartikan sebagai proses yang bersifat instrumental dalam pembentukan, penyatuan, dan pemeliharaaan struktur sosial. Konflik dapat menetapkan dan menjaga garis batas antara dua atau lebih kelompok, selain itu konflik antar kelompok dapat memperkuat kembali identitas kelompok dan melindunginya agar tidak lebur ke dalam dunia sosial di sekelilingnya. Coser menjelaskan beberapa manfaat konflik antara lain:
a)      Konflik dapat memperkuat solidaritas suatu kelompok yang agak longgar. Dalam masyarakat yang terancam perpecahan, konflik dengan masyarakat lain bisa menjadi kekuatan yang mempersatukan.
b)      Konflik dengan kelompok lain dapat menghasilkan solidaritas didalam kelompok tersebut dan solidaritas itu bisa menghantarnya kepada aliansi-aliansi dengan kelompok-kelompok lain.
c)      Konflik juga bisa menyebabkan anggota-anggota masyarakat yang terisolir menjadi berperan secara aktif.
d)     Konflik juga bisa berfungsi untuk berkomunikasi.

2.      Katup penyelamat( savety velve).
Kelompok kelompok yang bertikai karena suatu sebab, pasti akan saling berusaha untuk meluapkan rasa permusuhannya kepada kelompok yang bersangkutan. Untuk mencegah hal tersebut, Coser kemudian menjelaskan suatu mekanisme yang dapat dipakai untuk mempertahankan kelompok dari kemungkinan konflik sosial tersebut, yaitu dengan menggunakan katup penyelamat. Katup penyelamat ( savety valve) dapat diartikan sebagai “jalan keluar yang meredakan permusuhan”, atau singkatnya dapat kita sebut dengan mediator. Dengan adanya katup penyelamat (mediator) tersebut, kelompok kelompok yang bertikai dapat mengungkapkan penyebab dari munculnya konflik tersebut. Sebagai contoh badan perwakilan mahasiswa atau perwakilan dosen dapat berfungsi sebagai katup penyelamat, ketika sekelompok mahasiswa sosiologi mengungkapkan keluhannya mengenai kinerja dari beberapa dosen yang mengisi beberapa mata kuliah di jurusan sosiologi tersebut. Lewat katup penyelamat itu juga permusuhan dapat dihambat agar tidak berpaling melawan obyek aslinya.

3.      Konflik Realistis dan Non Realistis.
Dalam membahas berbagai situasi konflik, Coser membedakan konflik menjadi dua macam yaitu:
a.      Konflik realistis
Konflik realistis yaitu konflik yang berasal dari kekecewaan terhadap tuntutan runtutan khusus yang terjadi dalam hubungan dan dari perkiraan kemungkinan keuntungan para partisipan, yang di tujukan pada obyek yang dianggap mengecewakan. Konflik realistis memiliki beberapa ciri antara lain:
·         Konflik muncul dari frustasi atas tuntutan khusus dalam hubungan dan dari perkiraan keuntungan anggota dan yang diarahkan pada objek frustasi. Di samping itu, konflik merupakan keinginan untuk mandapatkan sesuatu (expectations of gains).
·         Konflik merupakan alat-alat untuk mendapatkan hasil-hasil tertentu. Langkah-langkah untuk mencapai hasil ini jelas disetujui oleh kebudayaan mereka. Dengan kata lain, konflik realistis sebenarnya mengejar: power, status yang langka, resources (sumber daya), dan nilai-nilai.
·         Konflik akan berhenti jika aktor dapat menemukan pengganti yang sejajar dan memuaskan untuk mendapatkan hasil akhir.
·         Pada konflik realistis terdapat pilihan-pilihan fungsional sebagai alat untuk mencapai tujuan. Pilihan-pilihan amat bergantung pada penilaian partisipan atas solusi yang selalu tersedia.
Contoh dari konflik ini yaitu para karyawan yang mengadakan pemogokan kerja melawan manajemen perusahaan sebagai aksi menuntut kenaikan gaji.
b.      Konflik non realistis.
Konflik non realistis yaitu konflik yang bukan berasal dari tujuan tujuan saingan yang antagonistis, melainkan dari kebutuhan untuk meredakan ketegangan, paling tidak dari salah pihak. Contoh dari konflik ini yaitu: dalam masyarakat buta huruf, pembalasan dendam lewat ilmu gaib sering merupakan bentuk konflik non realisitis, sebagaimana halnya dengan pengkambinghitaman yang sering terjadi dalam masyarakat yang telah maju. Dalam hubungan antar kelompok, pengkambinghitaman digunakan untuk menggambarkan keadaan dimana seseorang tidak melepaskan prasangka mereka melawan kelompok yang benar benar merupakan lawan, melainkan menggunakan kelompok pengganti sebagai obyek prasangka.

4.      Isu Fungsionalitas Konflik
Seperti yang kita ketahui, konflik dapat secara positif fungsional sejauh ia memperkuat kelompok da nsecara negatif fungsional sejauh ia bergerak melawan struktur. Coser mengutip hasil pengamatan simmel yang menunjukkan bahwa konflik mungkin positif dapat meredakan ketegangan yang terjadi dalam suatu kelompok dengan memantapkan keutuhan dan keseimbangan. Di samping itu, coser menyatakan bahwa yang penting dalam menentukan apakh suatu konflik fungsional atau tidak ialah tipe isu yang merupakan subyek konflik itu. Selanjutnya, coser juga mengatakan bahwa masyarakat yang terbuka dan berstruktur longgar membangun benteng untuk membendung tipe konflik yang akan membahayakan consensus dasar kelompok itu dari serangan terhadap nilai intinya dengan membiarkan konflik tersebut berkembang di sekitar masalah masalah yang tidak mendasar. Konflik antara dua kelompok dan antara berbagai kelompok antagonistis yang demikian itu saling menetralisir dan sesungguhnya berfungsi untuk mempersatukan sistem sosial. Di dalam mempertentangkan nilai-nilai yang berada di daerah pinggiran, kelompok-kelompok yang bermusuhan tidak pernah sampai pada situasi yang akan menyebabkan permusuhan. Masyarakat atau kelompok yang memperbolehkan konflik sebenarnya adalah masyarakat atau kelompok yang memiliki kemungkinan yang rendah dari ancaman yang akan menghancurkan struktur sosial.

5.      Kondisi kondisi yang mempengaruhi konflik dengan kelompok luar dan struktur kelompok
            Coser menjelaskan bahwa konflik dengan kelompok luar akan membantu pemantapan batas-batas struktural. Sebaliknya konflik dengan kelompok luar juga dapat mempertinggi integrasi di dalam kelompok. Coser (1956:92-93) berpendapat bahwa “tingkat konsensus kelompok sebelum konflik terjadi” merupakan hubungan timbal balik paling penting dalam konteks apakah konflik dapat mempertinggi kohesi kelompok. Coser menegaskan bahwa kohesi sosial dalam kelompok mirip sekte itu tergantung pada penerimaan secara total seluruh aspek-aspek kehidupan kelompok. Untuk kelangsungan hidupnya kelompok “mirip-sekte” dengan ikatan tangguh itu bisa tergantung pada musuh-musuh luar. Konflik dengan kelompok-kelompok lain bisa saja mempunyai dasar yang realistis, tetapi konflik ini sering (sebagaimana yang telah kita lihat dengan berbagai hubungan emosional yang intim) berdasar atas isu yang non-realistis.

6.      Simpulan
Coser merupakan sosiolog yang mengembangkan teori konflik dari George simmel. Oleh karena banyaknya analisa kaum fungsionalis yang melihat bahwa konflik adalah disfungsional bagi suatu kelompok, coser mencoba untuk menjelaskan kondisi kondisi di mana secara positif, konflik membantu memperrtahankan struktur sosial. Konflik sebagai proses sosial dapat merupakan mekanisme di mana kelompok kelompok dan batas batasnya dapat terbentuk dan dipertahankan. Coser membedakan antara konflik in group dengan out group, antara nilai inti dengan masalah yang bersifat pinggiran, antara konflik yang menghasilkan perubahan structural lawan konflik yang disalurkan lewat lembaga lembaga katup penyelamat( safety valve). Di samping itu coser juga menjelaskan mengenai konflik realistis dan konflik non relaistis. Keseluruhan teori tersebut merupakan faktor factor yang menetukan fungsi konflik sebagai suatu proses sosial.



























Daftar Pustaka
1.      Poloma Margaret, M. 2003. Sosiologi Kontemporer. Jakarta: RajaGrafindo persada.
2.      Irving Zeitlin,M. 1995. Memahami Kembali Sosiologi: Kritik Terhadap Teori Sosiologi Kontemporer. Yogyakarta: GADJAH MADA UNIVERSITY PRESS.

0 komentar:

Posting Komentar