Blogger templates

Pages

Labels

Minggu, 13 April 2014

Vilfredo Pareto (1848-1923)





Vilfredo Pareto dilahirkan di Paris dan dikenal sebagai pendukung paradigma fungsionalisme, karir sosiologinya menanjak setelah dia menawarkan model masyarakat berkeseimbangan yang sangat mempengaruhi tokoh fungsionalisme modern Talcot Parsons. Pareto mewarisi tradisi positivisme, dimana sosiologi harus masuk dalam disiplin empirisme lewat metode logika eksperimental dengan penyelidikan yang didasarkan pada
pengalaman dan pengamatan. Pareto percaya bahwa masyarakat alami adalah masayarakat yang berkeseimbangan dan dinamis. Berbeda dengan Comte dan Spencer yang melihat masyarakat berevolusi secara linear, menurut Pareto evolusi masyarakat lebih unilinear.

Pareto dianggap sebagai seorang liberal klasik yang menyumbangkan banyak hal kepada teori pilihan rasional yang mendasari pembelaan terhadap analisa mekanisme pasar oleh para ahli ekonomi. Ini berhubungan dengan ketika ia sebagai insinyur dan kemudian pengelola industry kemudian Pareto terjun ke dalam gerakan perdagangan bebas. Sedangkan hubungannya dengan kekecewaannya terhadap harapan – harapan awalnya,para ahli sosiologi dan politik lebih menganggap gagasan Pareto kasar dan tidak liberal karena menyerang peranan akal dan demokrasi dalam politik atau memuji penggunaan kekerasan oleh elite untuk memaksakan kehendaknya kepada rakyat.

Sosiologinya didasarkan pada observasi terhadap tindakan-tindakan, eksperimen terhadap fakta-fakta dan rumus-rumus matemis. Dalil-dalil yang umum menurut Pareto, hendaknya dibentuk atas dasar metode induksi. Spekulasi dan pertanyaan yang aprioristis tidak bernilai bagi ilmu pengetahuan. Menurut dia, masyarakat merupakan sistem kekuatan yang seimbang dan keseimbangan tersebut tergantung pada ciri-ciri tingkah laku dan tindakan-tindakan manusia dan tindakan-tindakan manusia tergantung dari keinginan-keinginan serta dorongan-dorongan dalam dirinya. 

Pareto beranggapan bahwa politik terdiri dari tanggapan – tanggapan emosional yang pasti subyektif, dikondisikan oleh sifat dan pengalaman sosial kita. Ia mengemukakan bahwa yang bisa dilakukan ilmu pengetahuan hanyalah penggambaran keadaan-keadaan psikologis yang berkesesuaian dengan nilai-nilai tertentu, dan menunjukkan bagaimana manusia mencapi tujuan-tujuannya. Tetapi, kebaikan aspirasi dan tujuan tak bisa dinilai. 

Pareto membagi tindakan menjadi dua yaitu, logis dan non-logis. Yang pertama, Ia mendifinisikannya sebagai tindakan-tindakan yang secara logis berkaitan dengan sebuah tujuan, bukan saja dari orang yang melakukannya, tetapi juga mereka yang mempunyai pengetahuan yang lebih luas. Yang kedua terdiri dari tindakan selebihnya, yang gagal mengambil cara-cara penalaran. Tindakan-tindakan selebihnya ini bukannya non-logis yang tidak berarti sama dengan tak logis.

Pareto menekankan bahwa hidup bermasyarakat terdiri dari apa yang dilakukan oleh individual. Mereka adalah titik materi dari system yang disebut masyarakat. Suatu sistem dibentuk dari bagian-bagian yang tergantung satu dari yang lain karena dikonstruksi demikian. Untuk sebagian besar kelakuan manusia bersifat mekanis atau otomatis. Sehubungan dengan itu, ia membedakan antara perbuatan logis dan nonlogis. Perilaku disebut logis, kalau direncanakan oleh akal budi dengan pedoman pada tujuan yang mau dicapai, dan menurut kenyataan mencapai tujuan. Maka, perilaku lain yang tidak berpedoman secara rasional pada tujuan, atau tidak mencapai tujuan, disebut nonlogis. Menurut Pareto, hampir seluruh kehidupan masyarakat terdiri dari perbuatan-perbuatan nonlogis.
Menurut Preto sosiologi harus bersifat logis dan eksperimental. Dia mencita-citakan sosiologi yang didasarkan atas kriteria matematika rasional, yang selalu sah dan tak berubah sehingga harus dibenarkan oleh setiap orang yang berakal-budi sehat dan yang berlandasan pada realitas yang merupakan obyek observasi inderawi. Tiap-tiap konsep, proposisi, dan teori harus berpangkal pada fakta yang ditinjau atau mungkin dapat ditinjau. Vilfredo Pareto juga menawarkan model masyarakat keseimbangan. Dimana masyarakat yang ditegakkan oleh individu-individu senantiasa mengarah kepada keseimbangan, yaitu pemeliharaan keseimbangan atau pemulihan keseimbangan setelah terjadi pergolakan. 

Dalam memperoleh keseimbangan yang mereka harapkan yang dilihat melaui konteks perilaku indvidu, bahwa setiap individu mempunyai perasaan-perasaan otomatis yang aktif menentang setiap hal yang mengancam atau mengganggu kestabilan. Jadi, keseimbangan adalah akibat proses mekanis. Jika perasaan otomatis tersebut tidak ada, tiap usaha merombak atau mengubah sistem sosial, tidak menghadapi perlawanan yang berarti.

Pareto mengemukakan bahwa dalam tiap masyarakat terdapat dua lapisan, lapisan bawah atau nonelite dan lapisan atas, elite, yang terdiri atas kaum aristokrat dan terbagi lagi dalam dua kelas yaitu elite yang berkuasa dan elite yang tidak berkuasa. Menurut Pareto aristokrasi senantiasa akan mengalami transformasi sejarah menunjukkan bahwa aristokrasi hanya dapat bertahan untuk jangka waktu tertentu saja dan akhirnya akan pudar untuk selanjutnya diganti oleh suatu aristokrasi baru yang berasal dari lapisan bawah. Sejarah, menurut Pareto, merupakan tempat pemakaman bagi aristokrasi. Aristokrasi yang menempuh segala upaya untuk mempertahankan kekuasaan akhirnya akan digulingkan melalui gerakan dengan disertai kekerasan atau revolusi. Sebagaimana halnya dengan Spengler, maka di sini Pareto pun mengacu pada pengalaman kaum aristokrat di Yunani, Romawi dan sebagainya. 

Membahas masalah elite tampaknya sulit tanpa menyebutkan para pakarnya, yaitu Vilfredo Pareto (1848-1923), yang telah diakui kepakarannya sebagai pemula teori elite. Menurut Pareto, setiap masyarakat diperintah oleh sebuah elite yang komposisinya selalu berubah. Selanjutnya Pareto membagi elite itu dalam dua kelompok, yaitu kelompok elite yang memerintah dan kelompok elite yang tidak memerintah. Kedua kelompok elite itu senantiasa berebut kesempatan untuk mendapatkan porsi kekuasaan sehingga terjadilah sirkulasi elite. Setiap elite yang memerintah, menurut Pareto, hanya dapat bertahan apabila secara kontinuitas memperoleh dukungan dari masyarakat bawah. 

Akan tetapi sirkulasi elite akan tetap berjalan karena secara individual baik elite keturunan maupun elite yang diangkat atau ditunjuk akan mengalami kemunduran sesuai dengan waktu dan sebab-sebab biologis. dengan kata lain konflik tidak terlepas dari kondisi kemanusiaan. Sistem demokrasi, Pada awal 1900 , Vilfredo Pareto menciptakan sebuah rumus matematika yang menggambarkan ketimpangan distribusi kekayaan yang diamati dan diukur dalam negaranya Pareto mengamati bahwa kira-kira dua puluh persen orang yang dikuasai atau dimilikinya delapan puluh persen dari kekayaan.  

Sementara beberapa orang mungkin mengklaim bahwa atribusi luas  dari pengamatan ilmiah untuk Pareto tidak akurat, Prinsip Pareto atau "Hukum Pareto" seperti yang kadang-kadang disebut, dapat menjadi alat bisnis yang sangat efektif yang dapat membantu kita mengelola lebih efektif. Setelah Pareto membuat observasi tentang distribusi kekayaan tidak merata dan menerbitkan temuan dan rumus, banyak orang lain (baik sains dan bisnis) mengamati fenomena yang sama di daerah keahlian mereka sendiri. Bekerja di Amerika Serikat pada tahun 1930-an 1940-an, Dr Juran mengakui prinsip universal yang ia sebut "banyak sedikit dan sepele penting." 

Dalam salah satu makalah awal, kurangnya presisi pada bagian Juran membuatnya tampak seolah-olah ia menerapkan Pareto sebagai pengamatan tentang ekonomi ke area lain dari studi. Sejak saat itu, nama "Pokok Pareto" terjebak, mungkin karena itu mungkin terdengar lebih baik daripada "Prinsip Juran itu". American Society untuk Kualitas telah mengusulkan penggantian nama Prinsip Pareto "Prinsip Juran" karena aplikasi universal menjadikannya salah satu konsep yang paling berguna dan alat-alat modern


Kritik
Kajian Sosiologi, menurut Vilfredo Pareto (1848-1923), ideologi merupakan cita-cita luhur sebagai alat perjuangan politik dan sosial, yang dalam kenyataan tidak lebih daripada rasionalisasi klaim kekuasaan, kepentingan-kepentingan dan emosi-emosi. 

Sosiologi pengetahuan Karl Mannheim (1893-1947) merelatifkan kritik Pareto yang radikal. Baginya sudah wajarlah kalau seluruh pemikiran mengenai realitas sosial bergantung dari konteks sosial dan ditentukan oleh harapan-harapan, kepentingan-kepentingan dan cita-cita masing-masing golongan sosial. Ideologi disebutnya berwawasan ke belakang, tetapi merupakan pedoman untuk ke depannya.

Kompleks pengetahuan dan nilai yang secara keseluruhan menjadi landasan bagi seseorang atau masyarakat untuk memahami dunianya serta menentukan sikap dasar untuk mengolahnya. Hal ini berhubungan dengan ideologi sebagai penggerak dari sebuah perbuatan yang akan diperjuangkan, tentu berkaitan dengan suatu sikap dasar yakni keyakinan. 

Sejumlah ideologi ditempatkan dalam beberapa sistem yang potensial dalam garis besar praksis bahasa yang menjadi bentuk berupa kode, struktur, sistem atau informasi. Lokasi alternatif untuk ideologi akan menjadi bagian dari diskursif itu sendiri. Hal ini memiliki penempatan dari representasi ideologi sebagai proses dimana menuju bagian dalam kejadian, dan menjadi bentuk transformasi dan aliran untuk menjadi lebih tinggi. Tapi ini dapat peranan menuju pandangan wacana sebagai proses yang bebas. 

Ideologi ada dalam bagian dalam teks. Sementara bentuk teks dan konten dalam teks sebenarnya memikul beban berupa penjelmaan dari proses dan struktur ideologi, tidak mungkin bisa “membaca” semua ideologi dari teks. Dapat dikatakan bahwa Pareto mewarisi tradisi positivisme, dimana sosiologi harus masuk dalam disiplin empirisme lewat metode logika eksperimental dengan penyelidikan yang didasarkan pada pengalaman dan pengamatan. 

Karena Pareto ingin sosiologi yang didasarkan atas kriteria matematika rasional, yang selalu sah dan tak berubah sehingga harus dibenarkan oleh setiap orang yang berakal-budi sehat dan yang berlandasan pada realitas yang merupakan obyek observasi inderawi. Tiap-tiap konsep, proposisi, dan teori harus berpangkal pada fakta yang ditinjau atau mungkin dapat ditinjau.

 Tapi itu akan sangat sulit untuk direalisasikan. karena sosiologi juga berkembang seiring dengan berjalannya waktu. Dan terus mengalami perubahan di berbagai aspek.































Relevansi

Menurut kelompok kami ada relevansi pandangan Pareto dengan apa yang terjadi di masyarakat saat ini. Keseimbangan dan keharmonisan bermasyarakat bermula dari individu masing-masing. Jika individu mengetahui apa yang harus ia lakukan dan apa yang semestinya dia dapatkan maka semuanya akan berjalan dengan lancar. Jika itu bukan hak mereka tidaklah pantas mereka ambil hak tersebut. Di dalam bermasyrakat ada pemerintah yang menjadi pusat kekuasaan dalam suatu Negara. Untuk memilih wakil-wakil negara kita memiliki hak untuk memilihnya sesuai dengan hati nurani kita. Dan bila calon yang terpilih janganlah lupa terhadap rakyat yang telah memilihnya. Wakil tersebut harus memperjuangkan hak-hak rakyatnya sampai hak tersebut tercapai.

0 komentar:

Posting Komentar