Blogger templates

Pages

Labels

Sabtu, 12 April 2014

Logika Penelitian Kualitatif



Pada umumnya, penelitian penelitian yang sudah dilakukan oleh masyarakat mayoritas menggunakan dua metode atau pendekatan besar yaitu pendekatan kualitatif dan kuantitatif. Jenis jnis dari penelitian tersebut juga bermacam macam, namun dua metode tersebut mayoritas digunakan dalam hal penelitian penelitian sosial. Antara metode kuantitatif dan kualitatif memeiliki perbedaaan yang sangat mencolok. Dalam perkembangannya, kedua metode ini sama sama lahir pada abad ke 20. Kedua metode di atas memiliki paradigma teoritik, gaya, dan asumsi paradigmatik yang berbeda. Masing masing memuat kekuatan, keterbatasan, mempunyai topik dan isu penelitian sendiri serta menggunakan cara pendang yang berbeda dalam melihat realitas sosial. oleh karena itu pemahaman yang mendalam perlu dilakukan untuk mempelajari dasar dasar dari kedua metode tersebut. 


Pada kesempatan kali ini saya akan membahas mengenai logika penelitian kuantitatif secara lebih luas. Sebelum saya menjelaskan lebih lnjut mengenai apa itu logika penelitian kuantitatif, akan saya jelaskan terlebih dahulu apa itu logika penelitian. Logika penelitian dapat diartikan sebagai sebuah proses penalaran yang dilakukan oleh seorang peneliti, dimana proses itu sendiri terdiri dari beberapa tahapan yang terurut secara logis dalam bentuk rantai atau diagram penalaran. Logika penelitian juga dapat diartikan sebagai struktur pikiran berkenaan dengan proses penelitian, yang dalam hal ini terdapat perbedaan antara penelitian kuantitatif dan penelitian kualitatif. 

Pada dasarnya metode kuantitatif dilandasi faham positivisme empirik yang berintikan aktivitas penelitian eksperimental, yang memang telah memiliki pengaruh yang sangat kuat dalam berbagai bidang ilmu, dan bahkan pernah dipandang sebagai satu-satunya pendekatan penelitian yang benar dan ilmiah. Metode ini berkembang dari tradisi pemikiran empiris Comte, Mill, Durkeim, Newton dan John Locke. “Gaya” penelitian kuantitatif biasanya mengukur fakta objektif melalui konsep yang diturunkan pada variable variabel dan dijabarkan pada indikator-indikator dengan memperhatikan aspek reliabilitas. 

Penelitian kuantitatif bersifat bebas nilai dan konteks, mempunyai banyak “kasus” dan subyek yang diteliti, sehingga dapat ditampilkan dalam bentuk data statistik yang berarti. Hal penting untuk dicatat di sini adalah, peneliti “terpisah” dari subjek yang ditelitinya. Pandangan tersebut mampu menyeret para peneliti ilmu-ilmu sosial budaya yang dalam perkembangan aktivitasnya semakin sering menghadapi beragam permasalahan yang tidak bisa dijawab secara tuntas. 

Dari kenyataan yang dihadapi tersebut para peneliti semakin manyadari bahwa manusia sebagai subyek dengan segala sifatnya yang subjektif tak mungkin dapat dikaji secara secara tepat dengan pendekatan ilmu obyektif. Pemaksaan ke arah itu akan menimbulkan bias fundamental dan mengakibatkan kekeliruan fatal yang menjadi sumber krisis ilmu-ilmu sosial dimasa kini. Masalah sosial yang kompleks tak mungkin untuk diuji dengan pandangan partial dan linear. 

Didalam ilmu alam berbagai masalah pokok didasarkan pada kenyataan obyek yang dapat dilihat di luar diri kita dan bebas sebagai fakta obyektif. Pendekatan kuantitatif umumnya mementingkan adanya variabel-variabel sebagai obyek penelitian dan variabel-variabel tersebut harus didefenisikan dalam bentuk operasionalisasi variabel masing-masing dan pemahaman dari luar (outward). Reliabilitas dan validitas merupakan syarat mutlak yang harus dipenuhi dalam menggunakan pendekatan ini karena kedua elemen tersebut akan menentukan kualitas hasil penelitian dan kemampuan replikasi serta generalisasi penggunaan model penelitian sejenis. 

Selanjutnya, penelitian kuantitatif memerlukan adanya hipotesis dan pengujiannya yang kemudian akan menentukan tahapan-tahapan berikutnya, seperti penentuan teknik analisis dan formula statistik yang akan digunakan. Juga, pendekatan ini lebih memberikan makna dalam hubungannya dengan penafsiran angka statistik bukan makna secara kebahasaan dan kulturalnya. Pada umumnya terdapat 5 tahap dalam logika penelitian, antara lain yaitu:

1.      Perumusan permasalahan penelitian.
2.      Perumusan kerangka teoritik.
3.      Penentuan metodologi penelitian.
4.      Analisis data.
5.      Penarikan kesimpulan.

Pada tahap pertama yaitu perumusan masalah merupakan tahap penting bagi seeorang peneliti untuk mengungkapkan rumusan spesifik dari masalah yang hendak dipecahkan rumusan masalah hendaknya di kemukakan secara singkat, padat, jelas, dapat diungkpkan dengan kalimat pernyataan maupun dalam bentuk kalimat pertanyaan seperti dalam rumusan masalah penelitian. Berkaitan dengan pemilihan masalah. Ada beberapa hal yang harus diperhatikan, yaitu sebagai berikut: 

1.      Aktualsitas masalah
Pemilihan masalah harus pula mempertimbangakan apakah masalah yang diangkat menjadi permasalahan yang memang sedang hangat dibicarakan dalam dnia keilmuan peneliti. Artinya, jangan memilih masalah masalah yang sudah usang. Untuk itu, pelacakan informasi tentang tema tema penelitian dari jurnal jurnal menjdi salah satu kegiatan yang harus dilakukan oleh seorang peneliti.
2.      Kemudahan dalam hal pelaksanaan
Apakah masalah yang dipilih dapat dilaksanakan dengan segala keterbatasan yang dimiliki?. Terkadang seorang peneliti dalam merencanakan penelitian untuk tugas akhirnya tidak menyadari keterbatasan keterbatasan yang dimiliki. Pertimbangan tentang lama waktu penelitian,  waktu yang dimiliki oleh peneliti dalam melaksanakan tugas penelitiannya, kemampuan diri baik dari sisi akademik maupun sisi lainnya, dan berbagai keterbatasan hendaknya sejak awal diperhitungkan oleh peneliti.
3.      Ketersediaan data
Dalam proses penelitian, pengambilan data merupakan salah satu aktivitas penelitian yang sangat penting. Dengan begitu data sebagai “sesuatu” yang hendak di analisis haruslah sejak awal memperkirakan apakah data terkait dengan tema yang diajukannya dapat dengan mudah diperoleh.
4.      Signifikansi masalah
Kadang kadang seorang mahasiswa atau peneliti, mengambil tema atau masalah penelitian hanya sekedar ingin atau karena tema tersebut di nilai mudah baginya baik dalam kases ataupun proses. Penentuan tema atau masalah penelitian dengan alas an di atas jelas tidak dapat dibenarkan secara akademik, atau bahkan tidak dapat mengungkapkan alas an pentingnya tema itu untuk diteliti.
5.      Menarik untuk diteliti
Menarik atau tidaknya suatu penelitian salah satunya tergantung pada bidang si pembahas. Hanya saja secara umum penelitian dinyatakan menarik jika penelitian tersebut memiliki sifat khas, unik, serta mengandung peluang untuk dilakaukan diskusi dan pemecahan terhadap masalah yang diteliti.

Tahap selanjutnya yaitu perumusan kerangka teoritik. Pada bagian ini peneliti memaparkan teori teori yang akan digunakannya dalam penelitian yang sedang dilaksanakn. Tentu saja pembaharuan pustaka sangat diutamakan dan penting untuk dilakukan dalam pencantuman teori ini. Artinya, jika ada seseorang ahli menulis buku dan buku terbaru yang d ditulis pihak yang bersangkutan sudah ada, sebaiknya merujuk pada buku yang terbaru. Tahap ketiga adalah metodologi penelitian. Dalam menentukan metoodologi penelitian, seorang peneliti harus tahu betul dan mengerti metodologi yang akan di gunakan, apakah akan memakai format kuantitatif ataukah memakai kualitatif. 

Penggunaan metodologi penelitian kualitatif berbeda dengan penggunaan metodologi penelitian kuantitatif bukan sekedar karena menghadapi perbedaan “ subjek matter “, atau karena disiplin ilmu yang berbeda, tetapi secara mendasar karena perbedaan keyakinan keilmuan yang bersumber pada penggunaan paradigma berpikir yang berbeda ( smith, 1984 ). Bilamana kita bisa memahami perbedaan itu secara tepat maka kita akan mampu memisahkan kedua metdologi penelitian tersebut dengan penuh kesadaran dan berada pada penglihatan batas yang jelas. Dengan demikian didalam melakukan aktivitas penelitian, kita tak akan mudah tersesat atau dengan sangat gegabah mencampur-adukkan beragam pengertian dasar dari dua jenis metodologi tersebut. 

Tahap yang keeepat yaitu analisis data. Analisis data menurut patton, adalah proses mengatur urutan data, mengorganisasikan ke dalam suatu pola, kategori, dan satuan uraian besar. Selain itu, bogdan dan taylor mendefinisikan analisis data sebagai proses yang merinci secara formal untuk menemukan tema dan merumuskan hipotesis seperti yang disrankan oleh data dan sebagian usaha untuk memberikan bantuan pada tema dan hipotesis itu. Dari beberapa pengeritan di atas dapat disimpulkan bahwa analisis data berfungsi untuk mengorganisasikan data. Data data tersebut dapat berupa gambar, foto, dokumen berupa laporan,

Biografi, artikel, dsb. Banyak cara yang dapat digunakan dalam menganalisis data baik pada metode kuantatif dan kualitatif. Dan yang terakhir adalh penarikan kesimpulan. Penarikan kesimpulan diartikan sebagai hasil akhir dari segala proses penelitian mulai dari merumuskan masalah, pengambilan data, sampai analisis data. 


Struktur logika penelitian sebagaimana di ambil dari pemikiran Bryman diatas berpola siklus mulai dari teori                    hipotesa                       observasi analisis data                      temuan temuan,                          kemudian berakhir kembali pada teori. Posisi masalah yang dirumuskan oleh peneliti ( eksplisit dinyatakan dalam proposal ) dalam hal ini dapat dikatakan “ mendahului “ posisi teori. Perlu diperhatikan benar disisni adalah, bahwa masalah penelitian tidak akan pernah nampak/kelihatan tanpa dilihat melalui teori. Artinya, masalah penelitian hanya ada kalau orang memiliki bekal teori untuk melihatnya. 

Memperlihatkan gejala atau fakta ( sebagian dari perilaku manusian dalam kebersamaannya dengan sesama atau mungkin dalam kebersamaannya dengan alam dan pencipta di suatu pihak ) dengan pikiran pikiran tertentu ( teori-teori ) dipihak lain dapat menghasilkan apa yang disini kita sebut-sebut sebagai masalah penelitian. Masalah penelitian ini nanti harus dapat dijawab/dipecahkan dengan atau lewat penelitian bersangkutan. Peneliti sangat mungkin tertarik untuk menjawab secara tentatif ( menduga-duga ) atas masalah tadi. 

Jika demikian orang harus mendeduksikan teori-teori tertentu, memberlakukan pernyataan asumtif yang tadinya dianggap umum atau luas sifat kebenarannya kedalam gejala atau beberapa gejala yang saling dikaitkan secara khusus/sempit. Jawaban yang bersifat dugaan ( yang masih harus dibuktikan kebenarannya dengan data empiris/lapangan ) itulah hipotesa. Hipotesa pada umumnya terdiri dari dua atau lebih variabel yang dikaitkan satu dengan yang lain ( dikorelasikan, dicari hubungan kausalitasnya, dibandingkan, dst ). Contoh hipotesa :
“ sikap a-politis generasi muda perkotaan lebih tinggi dibandingkan dengan sikap a-politis generasi muda pedesaan “
contoh hipotesa di atas mengandung dua variabel
(a)    Sikap a-politis generasi muda perkotaan, dan
(b)   Sikap a-politis generasi muda pedesaan.

Kedua variabel ini hendak dibandingkan dan diduga yang pertama lebih tinggi dibanding yang kedua. Tetapi untuk bisa dibandingkan maka konsep pokok dalam variabel harus diberi arti khusus, yakni dengan memilih aspek tertentu sehingga memberikan peluang untuk pengukuran dan kategorisasi. Inilah yang disebut operasionalisasi. Suatu variabel sering mengandung banyak konsep, dan semua konsep selayaknya didefinisikan secara khusus, yakni dengan memilih aspek-aspek tertentu dari suatu konsep. Konsep pokok dalam variabel-variabel seperti yang dicontohkan di atas adalah sikap a-politis

Sikap a-politis misalnya didefinisikan sebagai kecenderungan perasaan tidak suka atau tidak tertarik kepada masalah-masalah politis yang akan dilihat/diukur dari ( sebagian, seluruh, atau masih akan ditambah lagi ) penggunaan media massa       ( rubrik, acara apa yang paling diminati ), aktivitas diluar bangku kuliah/sekolah ( menjadi anggota, ikut menyumbang, duduk dalam kepengurusan organisasi yang punya aset terhadap pengambilan keputusan politis dsb. Setelah ada operasionalisasi konsep/variabel maka peneliti dapat pergi ke lapangan guna mengumpulkan data. 

Data direkam/dicatat kemudian diproses untuk kemudian dianalisis. Dalam penelitian kuantitatif, data berupa kuantum ( bilangan ), yakni menunjuk intensitas dan atau ekstensitas dari gejala yang diamati. Karena data lebih banyak merupakan bilangan, maka peneliti sering kali berfikir tentang satuan-satuan untuk menunjuk intensitas dan ekstensitas tadi : usia berapa tahun, datang rapat berapa kali, menyumbang berapa rupiah untuk organisasi dan atau mengongkosi kegiatan-kegiatan yang memiliki keterkaitan dengan politik dsb. Dalam pengolahan data, maka persoalan utama adalah mentransformasikan jawaban responden ( kalau yang diteliti kebetulan adalah manusia entah individu atau kelompok ) ke dalam bentuk tabel-tabel atau grafik. 

Dengan memperhatikan ukuran-ukuran bagi kategorisasi yang dibuat peneliti bisa memasukkan responden mana masuk dalam kategori mana. Analisis data dalam pada itu adalah membaca kecenderungan angka-angka atau tepatnya data-data yang ada. Dalam hubungan ini sangat mungkin peneliti membutuhkan teknik analisis statistik, terutama untuk mengetahui ada atau tidaknya keterkaitan suatu variabel dengan variabel lainnya tadi ( ada korelasinya tidak, ada perbedaannya atau tidak, apakah variabel menjadi penyebab munculnya variabel y atau tidak, dsb ). Hasil analisis inilah sebenarnya temuan-temuan penelitian, yakni setalah peneliti menafsirkannya dengan cara menunjukkan konsekuensi-konsekuensi dari hasil analisis. 

Termasuk disini adalah : jawaban apa atas masalah penelitian, hipotesa diterima atau ditolak dalam tingkat signifikasi tertentu, teori-teori mana yang mendapat penguatan dan teori-teori mana yang ditambah. Dengan kata lain penegasan-penegasan apa yang bisa dibuat, saran-saran apa yang bisa dikemukakan dst. Temuan-temuan ini, terutama yang berupa proposisi-proposisi akan bermakna kontributif bagi pengembangan ilmu khususnya khazanah ilmu.












Daftar pustaka
Idrus, Muhammad. 2009. Metode Penelitian Sosial: Pendekatan Kualitatif dan Kuantitatif . Yogyakarta: Erlangga.

 




1 komentar:

  1. Terima kasih atas infonya bang, sekarang lebih mengerti tentang subjek dan objek. salam dari lastquestions.blogspot.com

    BalasHapus