Blogger templates

Pages

Labels

Selasa, 25 November 2014

Ini Semua Hanyalah Fashion



Era modernisasi berkembang pesat bersamaan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Perkembangan iptek di satu sisi berdampak positif bagi percepatan mobilisasi manusia, di sisi lain juga menimbulkan dampak negative bagi manusia itu sendiri. modernisasi yang tidak lagi dapat terbendung mengakibatkan bergesernya nilai nilai moral dan masyarakat baik itu masyarakat negara maju maupun masyarakat yang hidup di negara negara berkembang seperti indonesia ini.
     Indonesia sebagai negara kepulauan terbesar tidak lepas dari perkembangan peradaban modern itu sendiri. sebagai negara berkembang, modernisasi di Indonesia telah di jalankan sedemikian rupa dan disesuaikan dengan keadaan pada negara negara asalnya seperti Amerika, dan negara negara Eropa. Perkembangan arus modernisasi juga menghasilkan suatu syndrome yang kita kenal dengan istilah globalisasi. Ya, mungkin antara modernisasi dan globalisasi memiliki pemaknaan yang hampir serupa sama, tapi tidak sesederhana itu.
     modernisasi dapat kita maknai secara umum sebagai keadaan di mana terjadi transformasi besar besaran terhadap perkembangan peradaban manusia yang ditandai dengan adanya pemanfaatkan teknologi dan ilmu pengetahuan secara besar besaran sehingga berdampak langsung pada kehidupan manusia. sedangkan globalisasi adalah suatu kondisi yang diciptakan oleh modernisasi itu sendiri, yaitu keadaan di mana terjadi penyeragaman terhadap cara berpikir masyarakat sehingga seolah olah satu dunia hanya memiliki satu sistem komando.  
     Indonesia sendiri walaupun masih tergolong negara berkembang, arus meodernisasi dan globalisasi sungguh terasa di sini. Buktinya banyak sekali masyarakat kita yang sudah melek akan teknologi bahkan tergolong pecandu teknologi. Akan tetapi perkembangan teknologi dan globalisasi yang tidak disertai dengan mental yang mapan hanya akan menghasilkan output yang buruk pula.
     Cara berpikir masyarakat di era globalisasi ini sangat menunjung tinggi hal hal yang bersifat baik. Baik di sini adalah baik bukan dari segi substansi akan tetapi baik dari segi citra. Globalisasi sebagai suatu tatanan baru memberikan pemahaman pemahaman dangkal kepada masyarakat tentang apa yang kita nilai sebagai baik buruk, benar salah. Hasilnya masyarakat ketika menilai sesuatu, mereka hanya melihat sisi luarnya saja. Ditulisan kali ini, saya akan membahas bagaimana globalisasi berdampak pada perubahan pola pikir masyarakat yang hanya melihat sisi luarnya saja yang terangkum dalam sebuah lirik lagu koil yang berjudul “Ini Semua Hanyalah Fashion.
Hmmmm langsung saja kita menuju ke bait pertama lagu ini
“…terpukau menatap wajah jelita menggoda
terkesima mendengar pidato sang pahlawan
mencari kebenaran dalam dua pilihan
untuk dianggap benar dan diakui….”
     bait pertama lagu ini menunjukkan bahwa masyarakat kita telah di suguhkan sebuah kondisi atau simulasi yang mereka tidak lagi dapat bedakan apakah ini kenyataan atau hanya imajinasi mereka saja. Gglobalisasi yang syarat akan ambisi untuk mendapatkan sesuatu yang ideal, baik malah melahirkan suatu konstruksi yang menyesatkan bagi masyarkat itu sendiri. baik dan buruk tidak lagi dimaknai bagaimana hal tersebut didapatkan akan tetapi lebih kea rah bagaimana baik dan buruk itu di tampilkan. Kita dapat melihat bahwa sekarang ini banyak sekali iklan iklan baik itu kosmetik, make up,gadget atau hal lain yang mencoba mendoktrin kita bagaimana sesungguhnya kondisi ideal tersebut. pada kahirnya masyarakat kemudian akan berlomba lomba menjadi apa yang sudah di berikan oleh iklan-iklan tersebut agar serupa dengan konstruksi media tersebut. begitu juga dengan kondisi politik negeri ini.
     masyarakat yang memimpikan seorang pemimpin yang merakyat, jujur dan sederhana hanya bermambisi untuk menampilkan sosok tersbut, bukan malah mendapatkannya. Tak heran, ketika tuntutan masyarkat begitu tinggi akan sosok figure pemimpin yang sedemikian rupa, hal tersebut malah dimanfaatkan oleh sebuah partai untuk mewujudkan seorang ‘Nabi’ yang sangat didambakan rakyat indonesia. mungkin tidak perlu saya jelaskan siapa partai dan tokoh yang saya maksud dan tentu anda sudah mengetahuinya. Mencari pemimpin atau bahkan menjadi pemimpin bukan suatu perkara mudah seperti halnya ketika kita ingin menjadi seorang artis atau model. pemimpin yang memiliki kualitas dan kapasitas mumpuni tentu tidak dapat kita lihat secara sekilas bahkan melihat sisi luarnya saja.
     Hal tersebut berbeda dengan keadaan masyarakat kita. sesorang yang sebenarnya memiliki track record biasa biasa saja telah melejit menjadi ‘Nabi’ yang punya banya umat. Praktis hal tersebut menuai perdebatan sengit di masyarakat. di satu sisi ada masyarakat yang kritis menolak pencaloan tokoh tersebut menjadi pemimpin dan di satu sisi lainnya sangat mengagung agungkan tokoh tersebut.
“…kita bergaya bagai patriot
peduli politik kenyataannya
kita mencari idola dalam majalah
fashion!!
fashion!!..”
     Di bait selanjutnya telah jelas di katakan bahwa masyarakat kita mulai bergaya bagai patriot yang menganggap asumsi mereka benar dan masyarakat lainnya harus mengakuinya padahal yang kita perdebatkan sesungguhnya adalah suatu kebodohan yang membuat kita semakin terfragmentasi menjadi bagian bagian kecil yang justru memecah beah intergrasi masyarakat.
     era demokrasi di mana masyarakat masih premature akan definisinya membuat mereka kemudian ber’masturbasi’ seolah olah mereka sudah paham bagaimana menjadi seorang warga negara yang benar. Perilaku masyarakat yang sebenarnya belum melek politik tapi dipaksakan paham politik malah menghasilkan generasi generasi idiot sok paham politik. Merekapun tidak lagi dapat membedakan mana pemimpin, mana artis idola. Era demokrasi sesungguhnya tidak sekedar memilih pemimpin dengan melalui perdebatan perdebatan, bahkan sejatinya demokrasi sangat mengurangi akan perdebatan tersebut karena hanya akan membuat suatu kebenaran tersbut menjadi bias dan kabur.
“….terpaku di depan layar televisi
melihat gambar mencari suatu arti
terjebak dalam penjara tanpa tera
li
menghirup kebebasan yang semu ini…”
     ketika masyarakat berada dalam kondisi “kesadaran palsu” maka mereka akan lebih mudah terombang ambing dan mudah untuk terpovokasi seperti layaknya domba domba yang sedang di gembala. Globalisasi yang syarat akan supremasi media mebuat opini masyarakat mudah dibentuk. Media sekali lagi memegang peran penting dalam proses pencalonan pemimpin diera modernisasi sekarang ini. para pemimpin yang memiliki kualitas biasa biasa saja, praktis memiliki segudang pretasi fiktif yang tentunya di bentuk oleh media media nakal tersebut. tak hanya itu, era globalisasi menuntun kita pada suatu perang kompleks yang disebut sebagai perang pemikiran.
      Artinya, kita hidup bukan untuk mencari kebenaran hakiki akan tetapi lebih kea rah bagaiama kita dapat membenarkan argument kita. oleh karena itu, selain menggunakan politik pencitraan para politisi dan calon ‘Nabi tersebut juga senang meneriakkan argument argument menyesatkan terkait rival politiknya. Akibatnya masyarakat menjadi bingung mana yang akan dipercaya. Secara tidak langsung setiap hari kita yang akrab dengan media, baik itu media eletronik seperti telivisi, media cetak dan media sosial seperti facebook, twitter, dll telah menjadikan media media tersebut sebagai ‘mata dan telinga’ kita. media di era globalisasi selain menjadi sarana untuk mendapatkan dan menyalurkan informasi juga ampuh dalam mendoktrin masyarakat baik secara sadar ataupun tidak.
     Mungkin dari kalian kalian ada yang sudah sadar jika pola pikir kita selama ini yang menentukan bagaimana memahami sesuatu, bertindak, berbicara bahkan berpikir telah diatur dan dikonstruksi oleh media media massa yang setiap hari menjejali otak kita. globalisasi adalah sistem yang mendorongk kita menjadi pribadi pribadi yang memiliki pola pikir sama dan seragam. Artinya apa ketika kita menjumpai sesuatu yang berbeda maka hal tersebut dianggap sebagai patologi akut.
     Globalisasi adalah sistem di mana kita di konstruksi dan di doktrin agar menjadi sebagai robot yang selalu menurut kepada sistem penguasa. kebebasan yang ada saat ini adalah kebebasan semu, yang sebenarnya sangat jauh dari hakikat kebebasan itu sendiri. sistem demokrasi yang disertai dengan saudaranya kapitalisme merupakan suatu dogma yang wajib kita ikuti di era sekarang ini. masyarakat yang kurang paham akan hal hal trsebut termasuk juga konsekuensinya terpaksa harus mengikuti ajaran ajaran tersebut baik suka ataupun tidak. Demokrasi dan kapitalisme yang konon katanya syarat akan kebebasan sebenarnya adalah sebuah paradok yang menjebak kita secara perlahan. Kebebasan yang kita rasakan saat ini hanya memberikan sedikit pilihan yaitu pilihan untuk ‘dianggap atau ‘disngkirkan’.

0 komentar:

Posting Komentar