Blogger templates

Pages

Labels

Jumat, 18 Oktober 2013

Dirgahayu 68 tahun Penjajahan Indonesia

Dirgahayu 68 tahun Penjajahan Indoensia

“Indonesia tanah airku, tanah tumpah darahku
Di sanalah aku berdir, jadi pandu ibuku
Indonesia kebangsaanku, bangsa dan tanah airku……
Marilah kita berseru, Indonesia bersatu………….”

Lagu di atas tentunya tidak asing di telinga kita palagi di kalangan muda sekarang. Lagu indoensia raya di masyarakat indonesia tak ubahnya seperti lantunan doa wajib yang terus dibacakan ketika upacatra setiap hari senin. Jik kita menjadi “warga negara yang baik” selama 12 tahun kita terus menerus di nina bobokan dengan kesakaralan lagu lagu nasional tak terkecuali lagu indonesia raya rersebut. Lagu ciptaan W.R Suparatman tersebut tidak hanya menjadi pelengkap pada upacara upacara penting yang sering kita lakukan saat masih duduk di bangu SD,SMP ataupun SMA namun juga sebagai pembangkit nasionalisme konon katanya. Namun di tulisan saya kali ini kita tidak akan membahas tentang kesakralan lagu lagu nasional tersebut, akan tetapi kita akan membahas refleksi dan esensi dari lagu lagu nasional tersebut pada masyarakat indonesia saat ini. 


Menurut buku buku SD yang sering kita baca dulu di jelaskan bahwa indoensia merdeka tepatnya pada tanggal 17 agustus 1945. Momen penting tersebut merupakan babak baru bagi indonesia untuk menjadi negara yang katanya sudah merdeka tersebut. maklum, negara ini juga menurut buku sejarah SD sudah sangat lama menjadi bangsa yang terjajah. Tak tanggung tanggung, 3,5 abad kita menjadi bangsa yang terjajah dan menjadi bangsa yang hina di mata internasional pada waktu itu. Karena terlalu lama terjajah, rakyat indonesia sepertinya telah terbiasa dengan keadaan terjajah seperti itu. Maka ketika indonesia menjadi negara independen atau merdeka kita sepertinya telah kehilangan “teman” dalam bersaing, bersaing tentang harga diri dan eksistensi. 

Masyarakat indonesia sebelum menjadi bangsa yang terjajah, konon katanya merupakan negeri yang sangat makmur dan sejahtera. Indonesia dulunya merupakan negeri feudal terbesar karena memiliki kerajaan di setiap wilayahnya. Maka, tidak heran kerajaan kerajaan dulu memiliki wilayah kekuasaan sampai keluar wilayah indoensia seperti kerajaan sriwijaya, majapahit. Ketika waktu semakin berlalu, keadaanpun semakin berubah. Kerajaan kerajaan di indonesia semakin lama semakin hilang, datu persatu kerajaan tersebut hancur dan saling berperang. Dengan adanya kondisi tersebut era barupun di mulai. 

Bangsa bangsa asing seperti portugis, spanyol, inggris dan belanda mulai menjamah keperawanan negeri indonesia ini secara perlahan. Dengan modus sebagai pedagang, mereka kemudian sedikit demi sedikit merasuk dan mempengaruhi kerajaan kerajaan yang masih bertahan. Para colonial tersebut membujuk raja raja tersebut untuk mau bergabung dengan mereka dengan berbagai alasan alasan yang sebenarnya konyol dan tolol untuk di ikuti. Namun apa daya kerajaan tetaplah kerajaan dan seorang raja pasti lebih mementingkan urusan perutnya sendiri daripada perut rakyatnya. Praktis, raja raja tersebut kemudia mulai menggunakan beragam cara untuk meraup keuntungan, yang sebenarya dia sudah menjadi budak dan sapi perahan para kolonila tersebut. di samping itu, kerajaan kerajaan tersebut sebenanrya juga sudah terancam eksistensinya dengan keberadaan colonial tersebut. para bangsa asing tersebut tidak hanya menguras kekayaan masyarakat namun juga mengadu domba dan mempengaruhi kepentingan internal kerajaan. 

Akibatnya kerajaan kerajaan yang bertahan tersebut sekaan akan hancur karena perebutan kekuasaan antara pihak pihak kerajaan padahal hal tersebut hanyalah secuil keotolan yang dilakukan oleh raja raja yang mudah sekali untuk di hasut dan di adu domba oleh para colonial tersebut. kerajaanpun hancur, masa masa kejayaan feudal sudah mulai menghilang dan tergantikan dengan sistim baru yang kita sebut sebagai masa industrialiasi. Masa tersebut, masyarakat kita tidak lagi menjadi seorang petani namun berubah menjadi komunitas buruh yang sekali lagi sudah kehilangan “harta” yang paling berharga. Mereka tidak lagi memiliki lahan lahan pertanian, sebab colonial belanda sudah membelinya dengan harga murah. Kondisi tersebut semakin di perparah ketika rakyat indonesia berganti status menjadi pekerja paksa denga “buruh” sebagai selubungnya. Seharian mereka dipekerjakan sebagai pembuat jalan raya, membuat jalan kereta api, dan berbagai sarana masal lainnya. 

Hal tersebut akhirnya membuat masyarakat menjadi hancur baik kondisi fisik dan psikis. Setelah puas memperkosa negeri ini, belanda kemudian hengkang sementara dan di gantikan dengan imperialism ala jepang. Tak ada beda dnegan belanda, jepeng juga ternyata mahir mengeksplorasi kekayaan negeri ini. Tak hanya itu, jauh lebih buruk mereka tidak hanya memburu bahan mentah akan tetapi semua aspek bahkan rakyatpun tak luput dari tangan mereka. Dengan dalih melindungi negara,rakyat rakyat tersebut dijadikan sebagai tentara matiran untuk membantu jepang pada peperangan asia timur raya hal tersebut juga di swbabkan karena posisi jepang pada saat itu mulai terdesak oleh gempurang amerika dan sekutunya. Posisi yang semakin terjepit membuat jepang memberikan angin segar bagi rakyat indoensia yaitu mereka akan berjanji suatu hari akan member kemenangan dan kemerdekaan pada rakyat indoensia. 

Namun hal tersebut ternyata berjalan lebih cepat. Pada tanggal 6 dan 9 agustus 1945 kota Hiroshima dan Nagasaki di bom atom oleh amerika. Dengan adanya peristiwa tersebut menyebabkan jepang kehilangan konsentrasi dan mengalami kekalahan demi kekalahan disetiap peperangan. Di sisi lain, saat yang bersamaan di Indoensia sedang terjadi apa yang kita sebut sebagai vacuum of power, atau kekosongan kekuasaan. Kesempatan yang langka ini dimanfaatkan oleh beberapa pihak yang menyebut diri mereka “pejuang kemerdekaan” untuk menyusun proses menuju negara yang merdeka. Diplomasi dan diplomasi yang dilakukan pada akhirnya melunakkan hati pemerintah jepang yang pada saat itu sudah tinggal nama saja. Hari yang dinantikan pun tiba, 17 agustus 1945 menjadi lebaran baru rakyat indonesia untuk menuliskan sejarah baru sebagai bangsa yang merdeka. Kemeriahan kemerdekaan ini ternyata tidak bertahan lama ketika belanda ingin kembali memperkosa negeri ini dengan tentara tentara barunya. Akibatnya kondisi kembali menjadi tidak stabil. 

Di berbgai wilayah terjadi beragam pertempuran dan indoensia sekali lagi kembali ke wujud awal yaitu medan perang. Ternyata, kedatangan belanda kali ini tidak lagi mempan dengan senjata maupun kobaran semangat para rakyat yang ada. Jalan barupun di tempuh, dari senjata kini kita berperang dengan menggunakan untaian kata kata yang tentunya tidak kalah tajam dengan bamu runcing para pejuang. Keinginan rakyat untuk merdeka ternyata untuk kesekian kalinya dapat mengusir pengganggu tersebut dari bumi ini. Merdeka…..merdeka, dan merdeka, hanya itulha yang ada pada otak setiap rakyat pada waktu itu, tidak ada yang lain. Merdeka, merdeka menurut mereka adalah mampu lepas dari jeratan penjajahan yang tampak dari luar sehingga mudah di hancurkan. Namun apakh itu sebenarnya yang mereka inginkan, apakah itu yang sebenarnya menjadi inti dari perjuangan kita selama ini untuk menyadang status “merdeka “. 

Proses lepas dari penjajahan sebenarnya tidaklah sesederhana itu. Uforia masyarakat akan atmosfer kemerdekaan ternyata hanyalah seteguk air yang hanya membahasi tenggorokan semata. Permasalahn yang lebih serius ternyata sudah menunggu untuk “dinikmati” oleh rakyat indonesia dan sampai saat ini kita juga belum bosan untuk “menikmatinya”. Perjuangan untuk lepas dari penjajahan ter yata tidak hanya berkaitan dengan urusan perut dan eksistensi namun juga mental rakyat saat itu dan saat ini. Tidak heran selama 3,5 abad lebih kita berkutat dengan peluru, darah, trauma, ambisi, keringat, bahkan kematian yang tidak seorangpun menginginkannya. 

Namun itulah yang terjadi, setiap hal yang kita inginkan harus ada pengorbanan untuk memperolehnya apapun bentuknya pasti kita akan berkorban. Akan tetapi, di sini permasalannya adalah ketika pengorbanan kita hanyalah sebatas menghapus debu di baju saja. Apakah rakyat sudah benar benar menghayati arti kemerdekaan, dan yang paling penting apakah rakyat sudah benar benar merasa merdeka, iltulah yang menjadi masalah saat ini. Karena mungkin sudah lama terjajah, kita akan lupa dengan yang namanya usaha keras, kerja keras atau mungkin kita sudah muak dengan hal hal tersebut. nasionalisme yang dulunya merupakan agama wajib bagi rakyat indonesia ternyata kini hanya menjadi arsip kusam di hati setiap rakyat indonesia. 

Sebab mereka sadar, bukan itu yang mereka cari, mereka sebnarnya tidak rela untuk menumpahkan darah di tahan yang kebetulan menjadi tempat mereka dilahirkan. Janji yang diucapkan kakek dan nenek kita pada tanggl 28 oktober 1928 sebenarnya hanya bertujuan untuk menyatukan jiwa jiwa yang sebanrnya tidak akan pernah bersatu. Untuk apa mereka rela melakukan sumpah konyol tersebut demi kemerdekaan yang sampai mereka mati mereka belum merasakan sedikitpun. Mengapa para pengarang lagu lagu nasional termasuk W.R Supratman tersebut rela membuat lirik lirik tolol hanya untuk menciptakan romantisme sejarah yang kolot dan penuh fanatisme sempit. 

Untuk apa mereka menciptkaan lagu tersebut yang pada akhirnya hanya menjadi pelengkap upacara upacara sok nasionalisme tersebut. pertanyaannya di sini adalah apa masih ada orang orang yang berpikirang fanatisme sempit yang masih menjaga “harga diri” mereka dengan mengatasnamakan bangsa indoensia yang rela bertumpah darah. Nasionalisme yang kita ciptakan sebenarnya merupakan hasil karya yang belum patut untuk di pjang di pameran seni, atau skripsi yang masih perlu banyak revisi. Nasionalisme tersebut sebenarnya hanya romantisme sesaat ketika kita menikmati sebuah keindahan cinta. Ketika cinta tersebut hancur, maka romantisme tersebut akan berganti menjadi sebuah apatisme dan kebencian yang lebih berbahaya. Begitu juga yang kita rasakan saat ini. 

Kita hidup seakan akan tidak rela kehilangan “jati diri” namun juga tidak ingin memiliki “jati diri tersebut”. mendengar lirik lirik lagu indonesia teringaat kata kata “ indonesia tanah airku, tanah tumpah darahku” apakah ketika kita tinggal di suatu temapt kita diharuskan rela mati matian mempertahankan daerah tersebut, apakah kita harus mempertahankan tempat yang kebetulan menjadi tempat pertama kita berpijak. Saya rasa tidak, fanatisme sempit, hanya menjadikan kita semkin menderita dan hancur. Sampai saat ini saya masih bingung, dengan kedaan yang terjadi di indoensia saat ini, ketika sebagian orang masih membanggakan negara mereka, masih memegang teguh nasionalisme bangsa namun hal hal yang ada di sekitar mereka tidak mencerminkan sikap nasionalisme yang mereka gembar gemborkan tersebut. di sisi lain kita menjumpai anak anak remaja yang sangat riang dan bersemangat ketika melihat timnas bertanding namun akan diam membisu ketika di suruh menyanyikan lagu kebangsaan. 

Di sini saya tidak berpihak pada kaum nasionalis maupun kaum pragmatis, akan tetapi saya hanya ingin membicarakan bagaimana bangsa yang konon bangsa yang besar ini sama sekali tidak memiliki attitude yang baik, tidak memiliki moral, etika dan etos kerja yang baik. Bangsa ini ibarat seperti tembok putih yang kapanpun dapat dib anti warna sesuai keinginan. Bangsa ini tidak memiliki acuan pasti dalam mengedepankan pembangunan. Demokrasi ala pancasila atau pancasila ala demokrasi ternyata juga menjadi isapan jempol belaka. Tak hanya itu sistem sistem yang lain di negara ini ternyata hanya menjadi “kartu identitas” seseorang ketika ada razia mendadak di kampung mereka. 

Kita sadar, setiap pemimpin yang pernah berkuasa di negeri ini pasti memiliki segudang program kerja yang seakan akan berkualitas dan menjanjikan. Namun apa kenyataanya, hal tersebut hanya menjadi formalitas. Program program yang dilakukan oleh penguasa negeri ini tidak akan tereralisasi dengan bak dan benar sebab setiap pemimpin yang berganti tidak akan meneruskan program yang sebelumnya. Mereka hanya suka dan haus akan komersialitas dan formalitas. Pendidikan kita juga tidak ada bedaya. Bertahun tahun kita hidup, kita dusuguhi dengan beraneka jenis jajanan kurikulum dari yang sudah basi dan mulai di bungkus. Kita tidak akan pernah sampi ke titik di mana program tersebut mencapai kesuksesan. 

Kurikulum yang berganti sebenarnya hanya mengindikasikan pergantian nama dan bukan pergantian sistem. Baik sistem pemerintahan, pendidikan maupun sistem lainnya ternyata tidak ada yang jelas ke mana tujuannya. Kita menggunakan sistem demokrasi ala pancasila, namun kenyataanya banyak di sana sini terjadi ketimpangan ketimpangan yang merugikan masyarakat. hal tersebut belum  cukup ketika kita menjumpai oknum oknum Pegawai Negeri Sipil (PNS) kita yang sangat gemar nongkrong dan bermalas malasan ketika jam kerja. Atau para pelajar kita yang gemar sekali menghafal daripada memahami mata pelajaran mereka. Mengapa hal tersebut dapat terjadi. Benarkan hal tersebut disebabkan karena sistem yang terlanjur salah. 

Kenyataanya, sistem pendidikan di indonesia dari tahun ke tahun selalu mengalami perubahan demi menciptkan kualitas pendidikan yang di inginkan, tetapi yang terjadi bahwa sumber daya kita sampai saat ini belum dapat beradaptasi mengikuti perubahn yang terjadi. Masyarakat kita masih sibuk dengan urusan mengganti dan mengganti sistem, mereka tidak pernah mempermasalahkan mengenai kapasitas dan kualitas pelaksana dari sistem tersebut. jika sistem tersebut di rasa baik, namun tidak ada yang dapat menjalankannya sesuai tujuan yang sama saja ketika kita di beri mobil baru namun kita tidak pernah mau belajar mengendarainnya. Itulha yang terjadi pada masyarakat kita. Kita tidak pernh sadar untuk berbenah diri dan mempersiapkan segaal sesuatunya dengan matang. Kita hanya berpikiran praktis dan pragmatis untuk tujan tujuan jangka pendek. Oleh sebab itu, kita lebih suka berpikiran sempit, berbuat instan tanpa mengenal proses. 

Kita ambil contoh misal para pelajar kita lebih suka untuk belajar sengan sistem kebu semalam (sks) ketika ada ujian di samping itu, kita lebih suka mengikuti bimbingan bimbingan belajar yang tidak lain perkembangan dari sistem kebut semalam tersebut. Sebab, bimbingan belajar tersebut hanya mengajarkan kita unutk menghafal dan mengerjakan soal dengan baik dan benar, mereka tidak pernah mengerti bagaimana proses menjadi seorang yang paham betul mengenai materi. Oleh karena itu, bimbingan belajar semcam itu sangatlah menjamur di negeri ini. 

Kegiatan kegiatan semacam ini terus berlanjut ke level lebih tinggi yaitu mahasiswa. Ternyata, karena sering menghafal tersebut mahasiswa menjadi malas untuk belajar dalam mnedalami materi materi perkuliahan, akibatnya mereka lebih suka mengerjakan tugas dengan mencontoh karya orang lain (plgiat) mereka lebih berorientasi pada nilai atau ip daripada ilmu. Sehingga ketika kemudian mereka lulus, akan menjadi oknum oknum PNS yang malas itu. Jika berhadapan dengan fakta fakta seperti itu, apakh kita masih dapat mengatkaan bahwa kita seorang nasionalisme, kita masih menjujung harga diri kita sebagai bangsa indoensia. 

Nasionalisme bukan hanya terbebas dari belenggu penjajahan, bukan hanya rasa cinta tanah air, akan tetapi juga dapat di wujudkan dengan memperbaikai attitude diri, moral serta etos kerja yang akhir akhir ini mulai kita tinggalkan padahal jika kita memperhatikan hal tersebut maka eksistensi kita di mata internasional juga akan terjaga dengan baik. 

Sebab eksistensi bukan hanya soal ambisi buta kebangsaan, akan tetapi juga kualitas dan kapasitas seseorang. Karena jika masyarakatnya memiliki kulaitas dan kapasitas yang memadai maka juga akan dapat memperbaiki citra bangsa yang selama ini di nilai hina di mata internasional. Oelh sebab itu, daripada menjaga harga diri dan nasionalisme yang tolol itu, lebih baik kita memperbaiki kualitas dan kapasitas diri kita untuk menjadi seseorang yang lebih beradab, seseorang yang menghargai kerja keras, etos kerja dan bukan orang orang yang hanya mengagung agungkan gelar.

0 komentar:

Posting Komentar