Blogger templates

Pages

Labels

Jumat, 18 Oktober 2013

Remajaku yang Terlalu Tua

Remajaku yang Terlalu Tua

Masa masa remaja merupakan suatu masa di mana seseorang menjumpai hal hal yang baru dan belum pernah mereka temuai saat mereka masih anak anak. Masa remaja merupakan fase transisi di mana seorang anak mulai sedikit demi sedikit mengenal dunia yang lebih luas dan kompleks. Di masa tersebut kita akan di hadapkan dengan kondisi yang jauh berbeda dnegan anak anak walaupun masih mengandung unsure tersebut. kebanyakan orang menganggap bahwa masa masa remaja merupakan masa masa yang sangat indah dengan dihiasi oleh romantisme kenangan kenangan yang sebenarnya tidak terlalu indah seperti pemberitaannya. Masa remaja kita alami ketika kita mulai menginjak bangku SMP. Ya, proses menuju dewasa ternyata juga syarat akan beberapa perilaku yang sebenarnya tidak patut untuk di banggakan apalagi di anggap sesuatu yang wajar dan perlu untuk dikembangkan. Masa masa tersebut kita mulai dengan kondisi di mana kita mulai menyukai lawan jenis kita, mulai suka akan hal hal “baru”, mulai suka akan trend segala pernak perniknya sertayang tak kalah penting kita mulai berkenalan dengan sosialisasi yang sangat di minati oleh orang orang saat ini yaitu eksistensi. 


Dunia ini memang lua, bagi mereka yang berpnadangan luas, dan dunia ini juga terasa sempit ketika sebagian orang memilih berpikiran sempit. Namun itulah masa masa remaja, ketika suatu hal yang baru dapat seketika berubah menjadi agama bahkan “Tuhan Tuhan Baru” yang tentunya memiliki banyak sekali umat dan pengikut. Entah darimana hal tersebut dapat tersebar luas di kalangan muda kita. Waktu SMP dan SMA dulu saya juga merasakn ada yang aneh dengan anak anak seusia saya yang sangat gemar mengikuti trend, mode atau apalah itu yang jelas saya tidak terlalau suka, walaupun kenyataanya saya juga ikut ikutan terpengaruh. Mulai dari bermusik sampai sosialisasi rokok dengan embel embel agar di cap sebagai cowo’ gentel dll. Tak hanya itu, kehidupan remaja yang kita alami ternyata tidak sebatas pencarian jati diri ataupun sarana menuju jejnag dewasa akan tetapi lebih mengarah pada proses penanaman nilai nilai dan norma baru yang saya rasa sangat menyimpang dari aturan manapun di tempat lain. Memang, kondisi kita saat itu cenderung” labil” dan sangat sulit sekali untuk mengatakan “stabil”. 

Bagaimana tidak, ketika remaja kita mulai dihadapakan dengan hal baru yang sebenanrya sangatlah merusak sampai saat ini yaitu eksistensi. Agar dianggap tetap menjadi anggota dalam suatu komunitas (genk) kita mau tidak mau harus beradaptasi dengan orang orang (teman) kita yang dari ke hari moralnya semakin lama semakin rusak bahkan hancur. Saya tidak habis pikir mengapa saya, mereka atau siapaun yang saat itu remaja menjadi mudah terpengaruh oleh kalimat kalimat sesat seperti itu. Di sisi lain kita juga sangat mengemari adanya trend trend baru di dunia “remaja” kita. Kita tidak perlu menimbang apakan hal tersebut baik atau tidak, yang penting adalah kita terus menerus mengikutinya sperti layaknya mengikuti sinetron basi yang ada di tv tv itu. Sekolah ataupun kelas tidak lagi menjadi tempat untuk enimba ilmu ataupun sharing sharing pengalaman akademis, namun kelas tersebut tak ubahnya seperti ruangan yang di dalamnya hanya berisikan seminar tentang masalah masalah basi yang terus di bicarakan tanap bosan. Mulai dari urusan artis, urusan temend, sampai sampai urusan orang tua menjadi tranding topic di forum tersebut. buku, alat tulis hanya menjadi saksi bisu dari kehancuran moral anak anak tersebut. kalaupun mereka memang labil, tentunya mereka tidak akan bersikap seperti itu dan hal tersebut sudah menunjukkan jika mereka bukan lagi remaja, namun remaja yang tua. 

Waktu SMP dulu karena terlalu labil saya sering ikut ikutan kegiatan yang sebenarnya kurang bermanfaat bagi saya. Memang, remaja dimanapun pasti kenalah dengan yang namanya artis, band dkk. Saya juga begitu, hamper setipa hari seusai sekolah saya tidak lekas langsung pulang melainkan ngeband dulu sama temend temend SMP. Memang duluna kami adalh teman yang sangat solid. Kemanapun pergi kami selalau bersama walaupun kita tidak satu kelas. Pertemuan kami di SMP merupakan awal dari terbentuknya band kami. Dari situ, kmi mulai sering berlatih di studio yang waktu itu kita memakai dengan cara iuran. Karena masih labil kami juga belum memiliki idealism dalam bermusik, beragam jenis music terutama music pop dan rock sering kami garap dengan skill kami yang masih amatiran. Semua itu kami lakukan demi memuaskan hasrat semu kita akan bermusik. Namun, seiring berjalannya waktu menurut saya, hobi kami dalam bermusik ternyata hanya sebatas hobi belaka tanpa ada flashbacknya ke kami maka dari itu saya putuska untuk mulai menjauhi ngeband saat kelas 3 SMP. Ketika kami lulus SMP, kami mulai berpencar dan tidak lagi satu sekolah. Namun di balik itu saya agaknya lega. Masuk SMA saya dihadapkan dengan kondisi yang sebenarnya lebih buruk daripada SMP. Di SMA saya menemui orang orang yang mengatas namakan diri mereka sebagai penyembah gaya hidup. Ya, bagaiaman tidak mereka terkesan tidak memiliki identitas diri, semuanya sama dan seragam. Di samping itu, seakan akan hal hal yang lagi ngetrend saat itu merupakan ayat atau hadist yang harus “diakui” kebenarannya oleh siapapun bagi yang mengaku remaja. Bagi yang tidak “mengakui” ya, hanya menjadi pelengkap belaka. Memang sangat sulit untuk mengingkarinya, apalagi pada saat itu saya belum memliki “teman” untuk berteman. 

Di awal awal masuk SMA saya terkesan menjadi pribadi yang apatis dan individualis serta anti sosial. Oleh sebab itu, saat saya kelas 1 SMA, nama saya seakan akan hilang untuk sementara. Namun, saya juga menjumpai atmosfer yang menurut saya kaan merubah diri saya. Di SMA saya lebih sering melakukan transformasi diri berkaitan dengan attitude maupun etika saya terhadap orang lain. Selepas itu saya mulai sadar, apakah diri ini masih layak dan patut disebut sebagai remaja. Dari beragam teman yang pernah saya temui ternyata saya sadar bahwa mengapa begitu banyak orang baru yang saya temui, namu tidak dapat merubah pribadi saya. Dari dulu saya memang di kenal sebagai orang yang tidak terlalu suka “bersosialisasi” dengan orang lain, bukan karena kolot, kaku, atau kuper tapi memang diri saya adalah pribadi yang kurang berminat memiliki banyak teman. Hal tersebut mulai saya sadari ketika saya berambisi menjadi seseorang yang berbeda. Di kelas dua, saya juga masih menjumpai orang orang yang “sama dan seragam” seperti baju yang mereka kenakan ketika bersekolah. Namun, di sisi lain saya juga mulai menemui oran orang yang dapat menerima pemikiran saya ini. Dari kelas dua kita terus berteman dan bergaul seperti layaknya para remaja tersebut. menginjak kelas 2 SMA saya meresa bahwa diri ini telah berubah dan bukan lagi seperti anak anak lainnya. Saya merasa diri ini sama kerasnya dengan sebuah batu, bahkan baja. Teman teman saya juga sadar pada saat itu saya merupakan pribadi yang terlalu “aneh” untuk di ajak melakukan hal hal tolol seperti yang mereka lakukan. Bahkan saya empat beberapa kali di musuhi oleh teman saya hanya gara gara tidak bersikap “tolol” seperti mereka. Namun saya sadar, bukan itu yang saya permasalahkan. Di sini saya tidak memiliki visi dan misi untuk mencari teman, atau bahkan pendamping hidup yang saya rasa terlalu dini untuk membahasnya. Saya di sini hanya mencari ilmu dan ingin menjadi pribadi yang lebih baik dari sebelumnya. Ketika semua remaja menganggap masa remaja merupakan masa yang paling indah (baca :tolol) saya menganggap masa tersebut merupakan masa yang penuh dengan kontradiksi, ambisi, eksistesi buta, untuk menjadi “manusia” yang sesungguhnya. Oleh sebab itu sayapun dengan mereka tidak meiliki relasi yang terlalu dalam, tidak juga terlalu dangkal namun netral. Memang dengan saya dapat berteman dan bergaul dengan siapa saja, namun saya tidak akan mudah terpengaruh oleh siapapun yang ada di sekitar saya meskipun orang itu adalah orang tua saya. 


Dalam berteman saya tetap menjaga prinsip pergaulan, berteman tetap berteman namun tidak ada doktrin doktrin konyol sebagai pelengkapnya. Dari cerita singkat saya diatas, saya kemudian berpikir, bagaimana seseorang yang seharusnya memiliki prinsip hidup, dapat juga terpengaruh oleh teman teman konyol mereka. Pertemanan, persahabatan, kata kata itu saya kira konyol dan bullshit jika kita mengaggapnya sebagai alasan. Dalam pertemanan hal terpenting menurut saya adalah komitmen untuk terus menjaga relasi sampai kapanpun, dan sayangnya sampai saat ini saya masih sedikit menemui orang orang yang seperti itu. Persahabatan yang selama ini saya lihat hanyalah sebuah modus yang mereka gunakan sebagai cara untuk menjaga dan menguatkan identitas seseorang, inilah yang kita kenal dengan istilah eksistensi. Mereka sadar, bahwa jika mereka tidak memiliki teman, maka mereka seakan akan seperti zombie, hidup tetapi mati. Dengan bersahabat dan memiliki gank mereka akan mudah untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan, mulai dari contekan atau mungkin kenalan gebetan….hahahaha. tapi memang itulah yang terjadi, teman sejati itu hanya ada dalam dongeng dan FTV konyol. 

Teman sejati hanya akan ada ketika setiap anggota dalam komunitas tersebut sadar untuk menjunjung tinggi komitmen dalam berinteraksi, karena jika tidak hal tersebut hanya akan menjadi permainan politik ala remaja sekarang (memanfaatkan teman). Remaja, sekali lagi remaja….mengapa kita masih ternina bobokan oleh cerita SMA kita, mengapa kita masih terhanyut dalam romantisme konyol akan persahabatan. Kelabilan yang melanda para remja tersebut tidak hanya soal pendirian dan prinsip hidup namun juga dalam segala hal termasuk berteman. Masa masa remaja yang harusnya berakhir di era kejayaan SMA ternyata juga dapat saya temui di lingkungan kampus tempat saya “bermain”. Kampus, universitas atau apalh itu namanya saya kira berisikan orang orang yang memiliki attitude baik serta berisikan orang orang yang sangat memegang teguh idealismenya, namun apakah itu yang terjadi?. Tidak, jika kita sekarang menjumpai orang orang kampus (mahasiswa) ternyata juga sama dengan anak anak SMA itu, sangat labil dan oportunis. Mereka juga “sama dan seragam”. Kampus kini tidak lagi sebagai tempat di mana kalangan akademis bersaing untuk saling menghancurkan, bukan lagi tempat di mana dasar dasar pemberontakan di mulai, atau bukan lagi tempat di mana karya karya brilian di apresiasi. Kampus hanyalah nama, kampus hanyalah tempat, dan kampus hanyalah kumpulan formalitas tolol. Masa masa ospek, seolah olah menjadi media doktrin yang pas untuk menuangkan idealisme ala anak anak BEM itu agar mereka mampu meninggalkan romantisme remaja yang seharusnya sudah masuk arsip nasional. Tetapi apa kenyataanya, romantisme remaja tetap menjadi “idealisme tunggal” para calon mahasiswa tersebut. Isu isu politik yang seharusnya menjadi hobi baru para mahasiswa kini terkesan di pandang sebelah mata dan mereka malah terkesan apatis terhadap fokus perkuliahan mereka. Mereka masih suka jalan jalan ke mall, shopping dan segala macam hobi para remaja. buku, kuliah, oranisasi hanya menjadi symbol ketololan mereka yang berlindung di belakang nama besar universitas. Saya yakin mereka lebih layak di sebut sebagai komunitas updater dari pada kaum akademis, agent of change atau sebutan lainnya yang tidak pas dengan perilaku mereka. Di sisi lain jiwa oportunis mereka juga masih sangat tinggi dan lebih tinggi di bandingkan dengan waktu SMA dulu. Mereka lebih suka berbicara di belakang, lebih suka ikut ikutan daripada berbeda. 


Hal itu sebenarnya juga wujud dari perkembangan eksistensi yang masih memiliki rating tinggi di mata para mahasiswa. Mereka tetap saja tidak ingin kehilangan “bolo – bolo” mereka, sehingga berperilaku seperti itu. Ternyata formalitas pendidikan SMA lebih embeddedd di otak mereka daripada materi materi pelajaran. Pendidikan indonesia yang juga cenderung “labil” kerena suka berganti ganti kurikulum menyebabkan tidak ada orientasi utama dalam pendidikan. Yang mereka ( pemerintah) buat hanyalah tumpukkan formalitas yang terus dikosumsi para kaum terdidik negeri ini. Mereka tidak mempersoalkan substansi dan esensi dari sistem tersebut, karena sampai kapanpun mereka tidak akan pernah bisa menjalankan sistem yang mereka buat sendiri. Sungguh konyol pendidikan negeri ini, ketika sebagian besar orang bersekolah hanya untuk mencari gelar serta pangkat. Mereka tidak memperdulikan kapasitas serta kualitas diri mereka, karena hal itu mereka anggap sudah tercermin dari gelar yang mereka dapatkan. Sungguh bodoh ketika pendidikan negeri ini di bumbui dengan bimbingan bimbingan belajar yang sangat rajin untuk mencetak generasi penghafal pelajaran. Labil, sekali menjadi penyebab adanya semua masalah tersebut. Labil, sekali lagi menjadi inti mengapa generasi kita tidak pernah menjadi generasi yang handal dalam melakukan perubahan perubahan karena mereka terlalu sibuk dengan uforia dunia mereka. 

Remaja dan kalangan akemis kita terlalu sibuk mengeluh akan sistem yang mereka jalankan, sebab mereka tidak akan pernah mau belajar menjadi lebih baik dan malah menyalahkan hal lain. Remaja memang boleh labil dan seharusnya berperilaku selabil mungkin di saat yang pas, namun ketika mereka menginjak fase yang lebih tinggi mereka tidak seharusnya membawa penyakit itu di saat yang tidak tepat. Yang dihadapi para generasi pemuda negeri ini bukanlah soal kualitas, namun soal kesadaran diri untuk berbenah. Mengapa setiap orang lebih suka bersikap, berpenampilan dan bermuka sama daripada menjadi seorang probadi yang berbeda. Apakah idealism kini hanya menjadi “sampah nurani” yang harus di daur ulang sehingga dapat memunculkan pragmatisme sebagai prinsip baru generasi kita.

0 komentar:

Posting Komentar