Blogger templates

Pages

Labels

Jumat, 18 Oktober 2013

Pancasila, Jiwaku yang Mulai Terusik



Pancasila,
Jiwaku yang Mulai Terusik 
Sumpah pemuda, mendengar kata itu kita teringat beberapa tahun lalu ketika para pemuda pemuda di Indonesia secara resmi mengikrarkan tentang adanya semangat persatuan yang pada akhirnya berhilir pada terciptanya kemerdekaan Indonesia. Ya, lewat peristiwa itulah, para pemuda pemuda di Indonesia dapat disatukan oleh satu rasa, satu tujuan dan satu cita cita yang tidak lain yaitu mewujudkan Indonesia sebagai negara yang merdeka. Memang, mewujudkan sebuah kemerdekaan tersebut tidaklah mudah, mengingat bangsa Indonesia pada waktu itu merupakan bangsa yang masih dalam belenggu penjajahan belanda. Pada masa itu, perjuangan para pemuda pemuda di wilayah Indonesia masih sangatlah sederhana, dan bersifat kedaerahan. Aktivitas mereka hanyalah membentk organisasi organisasi yang memiliki latar belakang yang tentunya berbeda beda, seperti agama, nasionalisme, politik, dan sekulerisme lainnya, akan tetapi tujuan mereka sebenarnya sama, yaitu merdeka.
                                              

Beberapa tahun berikutnya, tepatnya pada tahun 1943, belanda akhirnya mengakhiri masa penjajahan mereka karena kalah melawan penjajah dari bangsa asia yaitu jepang. Akan tetapi, tidak berbeda dengan model penjajahan sebelumnnya yaitu belanda, jepang menjajah juga dengang penuh kekjaman dan kekerasan. Bahkan lebih buruk dari itu, bangsa jepang telah mengeruk semua hasil sumber daya yang ada di Indonesia tanpa tersisa, akibatnya, semua sumber alam yang dijadikan oleh masyarakat indonesia sebagai sumber kehidupan mereka telah habis karena di ambil oleh jepang. 

Selain itu, bangsa jepang pada waktu itu telah melarang semua aktivitas yang berbau politk, akibatnya para pemuda tidak dapat mengembangkan aktivitas politiknya seperti pada masa kolonial belanda. Jepang sendiri menjajah Indonesia bukan karena sebab, ikut sertanya jepang dalam perang dunia ke II mendorong jepang untuk mencari sumber daya sebanyak banyaknya untuk menjadi bekal selama perang tersebut. Akan tetapi, partisipasi jepang dalam perang dunia melawan sekutunya yaitu amerika serikat tidak berlangsung lama, pada tanggal 6 dan 9 agustus 1945, jepang dikagetkan dengan di bomnya kota Hiroshima dan Nagasaki oleh amerika serikat, paraktis jepang menjadi terjepit oleh kekuatan amerika yang semakin memojokannya. Peristiwa tersebut juga pada akhirnya memberikan harapan kepada bangsa indonesia yang ingin mendapatkan kemerdekaan. Setelah jepang merasa kalah dalam perang tersebut, jepang berjanji kepada rakyat indonesia bahwa akan memberikan kemerdekaan di kemudian hari. Mendengar berita itu, Soekarno, Moh Hatta dkk, akhirnya berinisiatif mewujudkan janji itu menjadi kenyataan, di samping itu, pemerintah jepang juga membantu, dengan mendirikan BPUPKI dan PPKI demi terwujudnya Indonesia yang merdeka. Setelah melalui perjuangan yang lama, pada tanggal 17 agustus 1945 Indonesia menjadi negara yang merdeka, lewat proklamasi yang dibacakan oleh Soekarno Hatta.                          

Indonesiapun mendapati babak baru sebagai bangsa yang merdeka dengan penuh cita cita dan impian, di samping itu juga, kemerdekaan tersebut juga menjadi pintu gerbang dari masalah masalah yang akan dihadapi oleh bangsa Indonesia sendiri. Suatu bangsa dapat berdiri jika bangsa tersebut memiliki suatu pandangan hidup atau lebih di kenal dengan istilah ideology. Ideology dapat diibaratkan sebagai ssebuah bibit yang akan menciptakan suatu tumbuhan baru yang akan tumbuh baru, sederhananya, ideology tersebut, menjadi dsar bagi bangsa Indonesia dalam menjalankan kehidupan berbangsa dan bernegara. Lantas, ideology seperti apakah yang dapt dijadikan pandangan bagi bangsa Indonesia?.  Pilihanya jatuh pada suatu istilah yaitu Pancasia. 

Pancasila terdiri dari dua kata yaitu panca yang berarti lima dalam bahasa sansekerta, dan sila yang berarti isi atau dasar. Sesuai dengan isinya, pancasila tersebut terdiri dari lima isi yaitu ketuhanan yang maha esa, kemanusiaan yang adil dan beradab, persatuan indonesia, kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan permusyawaratan perwakilan dan terakhir yaitu keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Setiap sila yang terangkum dalam pancasila tersebut merupakan cerminan dari nilai nilai luhur budaya Indonesia. Oleh karena itu, ideologi tersebut, berbeda dengan Ideologi lainnya yang dianut oleh negara negara lain di dunia. 67 tahun sudah bangsa indonesia telah menjadi bangsa yang merdeka, 67 tahun juga bangsa indonesia telah akrab dengan Pncasila. Pancasila dianggap sebagai ideology yang sempurna bagi bangsa indonesia, terlebih ideology tersebut dimbil dari nilai nilai luhur kebudayaan bangsa indonesia, tetapi, seberapa lamakah kita menghayati makna pancasila tersebut.                                                
 Dari kecil kita telah diajarkan oleh orang tua maupun guru kita tentang pancasila, di samping itu, di setiap upacara yang kita lakukan setiap hari senin kita juga mengucapkan isi isi pancasila secara khidmat. Namun dibalik itu, apakah kita sudah melakukan daari sekedar mengucapkannya saja. Dengan adanya pancasila tersebut, seharusnya masyarakat indonesia dapat hidup sejahtera, aman, dan tentram di negara ini. Akan tetapi kenyataan berkata lain, semakin tua usia negara indonesia tidak membuat masyarakat di negara ini juga bersikap dewasa, bahkan lebih buruk. Bangsa Indonesia yang sangat mendambakan adanya kehidupan sejatera kini hanyalah menjadi impian  belakan saja. Pancasila yang seharusnya dapat dimaknai oleh bangsa Indonesia khususnya para kaum muda kini hanyalah menjadi symbol semata, para kaum muda sekarang berbeda pada kaum muda pada masa masa kemerdekaan dulu. Pada masa kemerdekaan, para pemuda dengan gagah berani menentang penjajah dan rela mengorbankan dirinya demi negara, tetapi malah sebaliknya pada saat sekarang kaum kaum muda yang harusnya menjadi kaum revolusioner, kini malah menjadi sumber penyakit masyarakat. para pemuda masa sekarang cenderung mudah berputus asa dan hanya bergantung pada orang lain di sekitarnya. 

Di samping itu mereka juga sudah terpengaruh pada globalisasi yang berkembang pesat seperti sekarang ini. Mereka hanya sibuk dengan urusan mereka sendiri tanpa peduli dengan kondisi sosial yang ada di sekitarnya. Misalnya saja, mayoritas mahasiswa sekarang hanya pintar membicarakan sosal artis, bola, gaya hidup dan sebagainnya, mereka sebenarnya tidak mengerti dan paham dengan kondisi sosial yang ada di sekitarnya, oleh karena itu, kepekaan mereka menjadi hilang. Contoh lain yaitu penggunaan handphone, memang, hp tersebut memiliki dampak positif bagi siapa saja bagi yang menggunakan, akan tetapi, saat sekarang hp menjadi suatu gaya hidup yang wajib dimiliki oleh mereka. Facebook dan twitter menjadi santapan wajib mereka di manapun berada. Tentunya jika kita melihat secara sederhana, dengan menggunakan hanpphone tersebut, mereka menjadi sibuk dengan urusan mereka sendiri dan tidak lagi peduli dengan orang lain di sekelilingnya. 

Contoh kecil tersebut menjadi cerminan bahwa pada saat sekarang ini, pancasila kurang dimaknai di kalangan remaja remaja maupun akademis kita. Kampus yang seharusnya menjadi tempat mengembangkan ilmu pengetahuan dan menjadi sarana diskusi ilmiah bagi mahasiswa, kini hanyalah menjadi tempat ngrumpi bagi kaum intelektual kita. Globalisasi saat ini juga mendororng para kaum muda kita untuk berperilaku bebas, tanpa dilandasi rasa tanggung jawab. Akibatnya, merekapun bertindak seeenaknya, tanpa peduli dengan sesama mereka, yang lebih parah lagi mereka bertindak sampai melaggar nilai nilai yang ada di masayarakat seperti minum miras, mengkosumsi narkoba sampai pada tindakan sex bebas. Tindakan tindakan tersebut, pada akhirnya malah menunjukkan jika para remaja maupun pemuda saat ini sangatlah gemar menirukan gaya hidup masyarakat barat, ketimbang bangga dengan budaya bangsa mereka sendiri. Mereka juga lebih terlihat sebagai, generasi yang tidak memiliki karakter yang kuat, dan hanaya menjadi sebagai generasi perusak bangsa sendiri. 

Di samping itu, mereka juga rajin melakukan tawuran, yang sesungguhnya merugikan bagi diri mereka sendiri. Melihat seperti itu, bagaimana mereka bisa disebut sebagai kaum revolusioner atau agent of change. Mereka seharusnya sadar dengan apa yang sudah mereka lakukan selama ini, mereka juga harus sadar bahwa mereka semakin menambah beban negara mereka sendiri. Di bidang lainnya, orang uta mereka juga sudah mengajrkan sosialisasi yang menyimpang dari mereka. Mereka saat ini dengan mudah dapat memasuki sekolah yang mereka sukai tanpa susah payah megikuti tes dan persyaratan lainnya. mereka hanya cukup membayar sekian juta untuk “melicinkan” jalan mereka agar diterima di sekolah yang mereka inginkan. Secara tak sadar hal tersebut, mengajarkan kepada mereka tentang memeroleh sesuatu hal dengan cara yang instan, kelak, tak dapat dipungkiri, mereka selanjutnya akan menjadi penerus para koruptor yang semakin memperburuk bangsa ini. Dengan demikian, apakah kita masih dapat berkata, jika kita masih berpegang teguh pada ideologi Pancasila, apakah kita dapat berkata bahwa kita masih cinta terhadap negara ini.                                                                                                   
 Memang tidak kita sadari, bahwa kita sudah menimpang jauh dari asas asas pancasila tersebut. Lantas, bagaimana kita dapat memperbaikinya?. Tentunya, kita harus kembali pada nurani kita, dengan nurani, kita sesungguhnya tahu apa yang seberanya yang kita lakukan, apakah hal itu sudah benar ataukah hal tersebut haurs kita benahi. Pepatah mengatakan bahwa tetaplah menjadi setetes air walaupun kau di guyur dengan minyak, dan tetaplah menjadi garam walaupun kau tak memberi rasa. Hal itu mengajarkan kepada kita, bahwa kita harus tetap menjadi diri sendiri walau dalam keadaan apapun. Dengan menjadi diri sendiri, kita akan menjadi seseorang yang berkarakter kuat, dengan berkarakter kita tidak akan mudah terobang ambing maupun terpengaruh oleh hal hal lain yang ingin menghancurkan diri kita, hal tersebut juga harus kita implikasikan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Jika semua warga negara kita memiliki tekat dan pendirian yang kuat, maka kita juga tidak akan mudah terpengaruh oelh kebudayaan maupun ideology lain yang ingin menggantikan ideology pancasila kita.    

0 komentar:

Posting Komentar