Blogger templates

Pages

Labels

Jumat, 18 Oktober 2013

Mengais Harapan Dari Pohon Apel

Mengais Harapan Dari Pohon Apel

Apel, siapa yang tak kenal dengan buah ini, rasanya yang manis dan sedikit asam membuat bnayak orang ketagihan untuk terus mengkosumsi buah yang satu ini. Di samping harganya terjangkau, buah ini juga memiliki banyak sekali manfaat bagi tubuh kita. Namun di sini kita tidak akan membahas megenai hal yang berhubungan dengan manfaat apel bagi tubuh kita, melainkan kita akan membahas bagaimana kondisi apel pada saat ini khususnya di desa giripurno kecamatan bumiaji kota batu jawa timur. Iya benar, ketika kita mendengar apel maka kota yang pertama di sebut adalah kota malang. Padahal jika kita pergi ke malang, kita tidak akan pernah menemui satupun pohon apel di daerah tersebut. Sedangkan yang lebih tepat menyandang kota apel adalah kota tetangga yaitu kota batu. Kota batu sendiri dulunya merupakan kota yang masih satu wilayah dengan pemerintah kota malang, namun pada tahun 2001 wilayah batu lepas dari malang dan menjadi kota sendiri yaitu kota batu.  
                                                                                                           
Wilayah kota batu sendiri merupakan wilayah dataran tinggi yang dikelillingi oleh bnyak gunung, seperti gunung panderman, arjuna dll. Oleh karena itu kota malang memiliki hawa pegunungan yang sangat dingin dan menyejukkan. Karena letaknya di dataran tinggi maka daerah batu sangat cocok sekali untuk daerah perkebunan apel sampai saat ini. Apel batu sendiri sebenarnya bukan apel asli dari daerah batu maupun dari indonesia, melainkan dari luar indonesia. Apel batu sendiri di bawa ke indonesia pada tahun 1930an oleh pemerintah colonial belanda. Pada saat itu apel masih dikelola sepenuhnya oleh pemerintah belanda, sedangkan masyarakat sekitar belum memiliki keahlian maupun lahan untuk mengembangkan perkebunan apel tersebut. Lambat laun seiring berjalannya waktu, dan indonesia sudah merdeka, maka perkebunan apel tersebut kini telah berpindah sepenuhnya ke tangan rakyat.                          

Selama ± 70 tahun, apel telah bersama dengan masyarakat batu, dan telah menjadi identitas penting yang mengiringi mereka sampai saat ini. Waktu yang cukup lama tersebut menjadikan apel bukan lagi sebagai sebuah profesi, melainkan sebuah kebanggaan tersendiri bagi masyarakat batu, oleh karena itu dari tahun ketahun perkebunan maupun industry apel di harapkan dapat berkembang secara baik dan dapat member kontribusi lebih kepada masyarakat sekitar. Sebenarnya, ketika apel tersebut telah menuai banyak keberhasilan, masyarakat justru memikirkan profesi lain. Sebab, mereka melihat bahwa kondisi lahan apel mereka yang subur, cocok di tanami tanaman tanaman bernilai ekonomis lainnya seperti sayur sayuran, jeruk, bahkan bunga. Hal tersebutlah yang menjadikan batu tidak hanya sebagai penghasil buah apel, melainkan komoditi komoditi lainnya yang tidak kalah menguntungkan.       

Profesi profesi lain yang di pikirkan oleh petani petani apel di daerah batu tersebut pada akhirnya justru menyebabkan perkebunan apel di batu tidak berkembang luas seperti dulu. Hal terssebut di sebabkan karena masyarakat, terutama petani memandang bahwa perkebunan apel yang mereka jalankan saat ini kurang mendapat apresiasi dari masyarakat. Di samping itu bahwa biaya perawatan pohon apel sangatlah mahal, bayangkan ketika mereka melakukan peyemprotan obat atau pestisida, mereka dapat menghabiskan kurang lebih 2 juta rupiah untuk sekali penyemprotan. Jumlah tersebut bisa melambung jika kondisi cuaca sering berubah. Hal lain yang memperparah keadaan adalah bahwa pohon apel tersebut merupakan pohon yang sangat mudah untuk terserag penyakit. Oleh karena itu para petani kemudian berpikit dua kali untuk meneruskan perkebunan apel mereka. Mereka kemudian memilih untuk bertani tanamn lainnya seperti bunga karena lbih tahan terhadap penyakit. Dari sini kita akan masuk lebih mendalam untuk mengetahui bagaimana kondisi perkebunan apel dengan mengambil desa giripurno sebagai contoh atau sampel.                                                                                                                         
Desa giripurno merupakan salah satu desa yang bereada di kecamatan bumiaji kota batu jawa timur. Kota batu hanya memiliki tiga kecamatan yaitu kecamatan batu, keamatan bumiaji dan kecamatan junrejo. Mayoritas wilayah tersebut masih berupa desa dan lainnya merupakan hutan dan lahan. Seperti desa desa lainnya di batu, desa giripurno juga merupakan desa penghasil buah apel. Di desa giripurno maupun di desa desa linnya di batu, mayoritas mengembangkan apel jenis manalagi, rome beauty, ana. Yang membedakan desa giripurno dengan desa lainnya adalah bahwa desa ini terletak di ketinggian antara 2000 – 2500 dpl. Oleh karena itu hasil produksi apel pada desa ini cenderung memiliki kualitas dan kuantitas yang sangat menjanjikan dibandingkan dengan daerah lainnya. Di sampng itu, desa giripurno mayoritas merupakan lahan lahan perkebunan dan hutan, sedangkan masyarakatnya masih sedikit, sehingga suhu di daerah terssebut masih stabil.                                             

Masyarakat desa giripurno mayoritas merupakan petani. Mereka berprofesi sedimikian rupa sebab petani apel merupakan profesi yang  sudah muncul sangat lama, profesia tersebut di jaa secara turun menurun, oelh karena itu mereka lebih suka mennjadi petani daripada bekerja di tempat lain. Perkembangan kota batu yang pesat, menjadikan para petani kian menggiatkan profesinya. demi menghasilkan keuntungan yang lebih mereka rela mengelurkan biaya tamabahn agar kebunya lebih produktif. Di samping itu, harga apel khusunya dari giripurno memiliki harga yang lebih mahal dari daerah lain membuat petani apel menggunakan segala cara untuk membuat kebun mereka mnejadi lebih berkembang tanpa memperhatikan dampak yag ditimbulkan. Kondisi lahan yang terus menerus di paksa untuk berproduksi membuat kondisi lahan kian menurun dari tahun ke tahun.                                                                    

Masa masa keemasan apel sebenarnya terjadi pada tahun 1970an sampai 2000an. Selepas tahun tersebut kondisi apel di giripurno maupun di desa lainnya terus mengalami kemerosotan yang tajam. Di tamabh lagi adanya krisis moneter pada tahun 1997 – 1998 membuat kondisi industry dan perkbunan apel mengalami masa suram. Selain lahan yang bermasalah, kemerosotan perkebunan apel di giripurno juga di sebabkan adanya teknologi pertanian yang dirasa tidak efektif lagi untuk diterapakan. Sebagai konsekuensinya, komoditi apel giripurno kalah bersaing dengan apel apel impor. Predikat sebagai kota agropolitan kini hanya menjadi sebuah problema. Asumsi bahwa apel merupakan sebuah kebanggan, hanya membuat masyarakat menjadi terpaksa untuk meneruskan perkebunan apel mereka. Apel yang sekarang bukanlah apel yang dulu. Jika saat dulu mereka dapat mensejahterakan keluarga mereka dengan apel, kini mereka harus beripir dua kali supaya dapur mereka tetap mengepul. Penghasilan mereka dari produksi apel saat ini di rasa kurang menjanjikan dan cenderung rugi, karena di samping lahan mereka tidak produktif lagi, mereka juga harus dihadapkan dengan tanaman tanaman mereka yang juga sudah tidak produktif.                                                                                                       
Tanaman apel paling lama berproduksi rata rata sampai umur 20 – 25 tahun, selepas itu, tanaman mereka akan menggugurkan daun dan akan mati karena kering. Mereka baru dapat memaksimalkan produksi apel mereka ketika pohon apel tersebut sudah berumur ± 1 tahun. Lahan lahan yang mereka rasa tidak berporduktif lagi, kemudian mereka Tanami dengan tanaman tanam npalawia seprti ketela, dll. Di samping itu mereka dalam satu lahan dapat menanami lebih dari satu jenis tanaman. Kondisi lahan apel yang merosot, tentunya tidak dapat kembali rpoduktif dengan waktu yang singkat. Di samping itu, mereka dihadapkan dengan masa depan anak anak mereka yang masih kecil.                                                                

Berdasarkan penelitian yang saya lakukan. Bahwa rata rata para remaja yang ada di desa giripurno tersebut merupakan lulusan SD dan SMP. Para orang tua mereka menyadari bahwa lahan apel yang mereka miliki pada awalnya masih cukup untuk menghidupi anak anak mereka, namun ketika keadaan berubah seperti sekarang ini, mereka tidak dapat berbuat banyak. Selain itu, kondisi yang memprihatinkan adalah para orang tua tersebut lebih memilih untuk tidak menyekolahkan anak anak mereka. Mereka sadar dari apel lah mereka dapat menjadi sukses. Memang, keadaaan desa di giripurno sedikit membuat heran saya, ketika rumah rumah tingkat berjejer di sepanjang jalan. Ketika masa keemasan apel melanda mereka, para petani tersebut seolah olah menjadi orang kaya baru, mereka rata rata memiiki beberapa kendaraan. Bagaimana tidak, sekali musim panen, mereka dapat menghasilkan uang antara 80 – 90 juta dari setiap hektar lahan yang mereka miliki. Belum lagi harga apel ketika mengalami kenaikan, jumlah tersebut masih bisa bertambah.                                          

 Memang, harga apel di giripurno lebih tinggi daripada desa desa lainnya di batu, jika di desa lain harga apel 1 kg hanya berkisar antara Rp7000 – Rp 10000, apel produksi giripurno dapat mencapai harga 25000/Kg. namun sekarangsemua itu berubah, para orang tua yang dulunya tidak menyekolahkan anak anak mereka, kini mereka berpikir dua kali untuk tidak menyekolahkan anak anak mereka. Para orang tua menyadari jika masa depan anak anak mereka tidak lagi ada pada kebun apel, melainkan sekolah dan pendidikan mereka. Sedangkan para orang tua kini mulai meninggalkan apa yang telah menghidupi mereka sekian lama. mereka telah berpindah sebagai petani jagung, sayuran dan bahkan bunga. Namun hasil dari penjualan produk produk tersebut tentunya masih tidak sebanding dengan hasil dari produksi perkebunan apel mereka.                                                                                             
Nasib perkebunan apel warga yang memburuk di tambah lagi tidak adanya uluran tangan pemerintah menjadikan profesi tersebut kian langka. Sebelum mayoritas para petani meninggalkan perkebunan apel mereka, para petani tersebut mengeluhkan harga pupuk, dan obat kimia kian hati kian mahal. Di tambah lagi bahwa ada sejumlah oknum mengedarkan obat kimia palsu yang bila dipakai akan mengakibatkan rusaknya tanaman apel mereka. Tanaman apel mereka menjadi tidak berbuah lebat, buahnya menjadi busuk. Persoalan yang dialami warga desa tidak hanya berhenti sampai di sini. Ibarat pepatah mengatakan habis terjatuh tertimpa tangga. Hal itulah yang sebenarnya menggambarkan kehidupan masyarakat giripurno saat ini, khusunya para petani apel. Profesi yang sudah berjalan sekian lama, tiba tiba harus mereka hindari dan tinnggalkan. Krisis yang melanda giripurno dan desa desa lainnya di batu membuat nama batu sebagai agropolitan kian memudar. Apel tidak lagi menjadi identitas utama. Melihat masalah yang semakin serius tersebut, pemerintah kemudian membuat semacam tranformasi yang diharapkan dapat merubah nasib petani apel menjadi cemerlang seperti ketika mereka masih bersahabat dengan apel.                                                                                                            

Pemerintah melihat bahwa wilayah batu merupakan wilayah yang sangat ideal untuk di jadikan sebagai tempat pariwisata yang sangat menjanjikan. Hal tersebut juga di perkuat dengan adanya lahan lahan apel yang sudah tidak lagi produktif, yang kelak akan menghasilkan rupiah. Kebijakanpun di buat dan akhirnya menghasilkan keputusan bahwa kota agropolitan akan berubah menjadi kota pariwisata. Berubahnya agropolitan menjadi kota pariwisata secara langsung menunjukkan adanya alih fungsi lahan yang dilakukan oleh pemerintah guna menyukseskan agenda tersebut. Kita pasti tahu obyek wisata yang akhir akhr ini sedang hangat di bicarakan oleh masyarakat yaitu jatim park.                                                                                              
Dahulunya jatim park juga merupakan lahan lahan perkebunan milik warga yang akhirnya di jual kepada kontraktor. Lahan lahan yang dijual kepada kontraktor tersebut pada awalnya mendatangkan keutungan bagi mereka, namun hal tersebut tidak bertahan lama. hasil dari penjualan lahan lahan tersebut pastinya hanya cukup untuk menghidupi keluarga mereka dalam beberapa hari selebihnya mereka tidak tahu harus berbuat apa. Pada akhirnya mereka kemudian menjadi pekerja di proyek tersebut, ketika jatim park belum menjadi seperti ini. Setelah jatim park jadi, satu persatu dari mereka kemudian di pecat dengan berbagai alasan. Hal tersebut menjadi lebih buruk ketika para pekerja tersebut banyak yang menjadi pengemis. Hal inilah yang ditakutkan oleh warga giripurno. Di giripurno saat ini juga ada proyek besar yang melibatkan pembebasan lahan di daerah tersebut. Para warga menolak adanya proyek tersebut, karena di samping mereka akan kehilanga lahan, mereka juga akan kehilangan mata pencaharian mereka sekaligus kehilangan mata air daerah tersebut.   Pada saat ini tinggal 20% saja para petani apel yang berhasil, sedangkan yang lain sudah rugi dan memilih beralih untuk bertani tanaman yang lain. Ketakutan sebenarnya mereka adalah ketakutan jika mereka kehilangan lahan dan profesi mreka. Mereka tidak ingin nasib mereka menjadi pengemis yang dulunya juga para petani apel. 

Kebijakan pemerintah yang telah di buat ternyata tidak berpihak kepada masyarakat khusunya mereka yang berprofesi sebagai petani apel di desa giripurno. Para petani yang dulunya kaya dan berkecukupan, kini mereka rela untuk menjual kendaraan mereka demi menghidupi keluarga mereka. Di samping itu, mereka di rumah juga memiliki profesi sambilan yaitu membuka toko kecil kecilan sebagai sumber penghasilan tambahn. Di sini kita dapat mengetahui jika kebijakan pemerintah tersebut hanyalah sebagai alat untuk meraup keutungan dari proyek tersebut tanpa memperhatikan kesejateraan warga. Di samping itu, di desa giripurno juga masih minim tersedia fasilitas pendidikan seperti SD, SMP dan SMA. Di desa tersebut pada kenyataanya untuk menjangkau sekolah yang berkualitas masih sangat jauh dari harpan. Di samping letak penduduk yang jauh dari sekolah, pemerintah juga belum menunjukkan perannya terhadap perkembangan pendidikan di desa giripurno.          

Pada saat ini, pemerintah memang bersih keras untuk merubah kota batu yang sebelumnya menjadi kota agropolitan atau kota pertanian menjadi kota pariwisata. Namun hal tersebut justru banyak di tentang oleh masyarakat khususnya para petani apel di desa giripurno, sebab proses perubahan tersebut pasti akan menyita lahan lahan perkebunan warga untuk di jadikan sebagai obyek wisata, sehingga masyarakat khusunya petani apel menjadi kehilangan pekerjaannya. 

Di samping kehilangan pekerjaan, para petani tersebut juga akan kehilangan lahan lahan mereka, walaupun lahan lahan mereka di hargai mahal oleh para kontraktor tersebut. selain itu, anak anak petani tersebut pasti juga akan kehilangan masa depan mereka, sebab mereka mayoritas bergantung dari keuntungan dari penjualan apel apael tersebut. kebijakan kebijakan pemerintah batu yang terus berjalan samapi saat ini cenderung menguntungkan mereka dan para investor tersebut, sedangkan kepentingan rakyat mereka abaikan. Hal hal serupa sebenarnya tidak hanya di hadpai oleh masyarakat desa giripurno, akan tetapi desa desa lainnya di wilayah batu juga mengalami hal tersebut. menurut penuturan dari beberapa orang, mereka menginginkan batu tersebut menjadi kota yang ramai, namun mereka tidak peduli apakah mereka akan di libatkan dalam proses pelaksanaan kebijakan tersebut ataukah tidak.

0 komentar:

Posting Komentar